Jika ada murid sekolah yang tidak mau menjumlahkan operasi bilangan matematika dan mata uang hanya karena tandanya berbentuk “+”, maka tiga kemungkinannya.

Dia mungkin jenius karena sebentar lagi akan menciptakan tanda penjumlahan baru yang bakal disepakati orang di dunia, termasuk disepakati dalam simbol matematika dan bahasa pemrograman komputer. Kalau ternyata tidak menciptakan juga, tapi terus berisik, maka indikasinya lain.

Dia akan selalu mencari celah untuk menemukan tanda konspirasi di mana pun matanya memandang pada kehidupan yang sejatinya wajar dan apa adanya: plafon, siku kursi, asap roket, ranting pohon, retakan tembok, orang memancing, motif kramik, kerah baju, stang motor, bulan sabit, gugusan bintang, kibaran sarung, kusut bendera, tumis kangkung, hingga pose tusuk sate saat makan siang dan betapa dia tersedak melihat angka 5 pada jam dinding yang angkanya seperti sabit petani. Dia lalu teringat kambing-kambing ini sebelum disembelih diberi makan dari rumput yang disabit dan kandangnya dibuat menggunakan palu. Dia berhenti. Pilih makan roti saja, tapi apa agamanya roti?

Kemungkinan ketiga, dia hampir gila oleh kebencian, hingga mudah dihasut untuk berpikiran sempit di dalam simbol. Ia terdorong menemukan kebencian dan melampiaskannya pada pihak yang dibenci.

Simbol memang penting. Kita tidak bisa hidup tanpa simbol. Tulisan ini pun tersusun dari simbol bahasa berbentuk huruf dan tanda baca. Tetapi, kita harus memahami konteks.

Ketika berkendara, kita melihat ada simbol penunjuk arah ke kanan dan ke kiri. Bentuknya bisa tanda panah. Simbol semacam itu adalah bentuk lain dari bahasa. Sebagai alat komunikasi. Jika kita tinggal dan berpikir di dalam segitiga tanda belok kiri, maka selamanya akan menganggap tanda belok kanan adalah salah. Begitu juga sebaliknya. Namun, apabila kita manusia waras yang tinggal di dalam akal sehat, maka akan memahami itu hanya tanda komunikasi dalam konteks lalu lintas.

Akan aneh kalau kita mati-matian berdebat tentang tanda komunikasi jalan raya mana yang paling benar, sementara orang-orang sudah berlalu menempuh jalan sesuai alamat yang dituju, ada yang ke arah kanan, ada yang belok kiri, ada yang sampai ke Mars, ada yang dada-dada melambaikan tangan mau menambang mineral di bulan seperti maunya Donald Trump. Masa iya, kita terus berdiri berdebat menghadap rambu-rambu sepanjang hari, sepanjang musim, baik sebelum atau setelah badai petir pemilu. Masa iya, kita ribut soal tanda dalam selembar uang, alat “komunikasi” jual-beli, sementara kita tidak pernah menolak uang baik tunai maupun nontunai.

Di satu sisi, kita naga-naganya peka simbol dan keren begitu. Peduli negara dan umat. Di sisi lain, kita pura-pura buta. Misalnya, masih dengan contoh berkendara, sudah jelas simbol lampu kuning artinya hati-hati, malah tancap gas. Sudah tahu ada ruang sepeda, diembat, jalur khusus bus, diterabas, dilarang berputar, ngacir belok, dilarang parkir, minggir. Jangan-jangan benar kita ini seperti kata linguis Fariz Alnizar dalam artikelnya, kita buta tanda di ruang publik.

Sampai-sampai ada peristiwa yang bisa bikin ayam ketawa makin ketawa.

‌Ada benda depan kantor polisi tulisannya kotak saran, oalah biyung, malah diisi uang sumbangan administrasi, mereka pikir polisi tukang minta duit apa? Polisi itu digaji dari pajak duitnya pedagang dan petani kere buat jadi pelayan masyarakat sejati. Kalau tidak percaya bawa kitab suci dan sumpah di atas kepala mereka dan sudah seharusnya mereka berani berkata; tidak pernah minta duit rakyat sepeser pun, berani direbus di neraka ruh emak, bapak, anak, istri, ponakan, dan dirinya sendiri kalau benar makan uang haram. Kalau dia tidak berani, cari yang berani sumpah seperti itu, pasti masih ada.

Namun, itu kasus belum seberapa. Sudah jelas ada tanda dua tangan salaman berbagi duit lalu disilang, dilarang menyuap maksudnya, tetap saja menyelipkan uang dibalik formulir perpanjangan.

Lebih parah lagi, giliran soal antikorupsi yang mestinya keras memekik, peka, dan berisik, kita malah sampai hati pura-pura buta huruf.

Tulisan seperti: dilarang korupsi, daerah bebas suap, siapa kolusi masuk neraka pantatnya disundut besi api panas tembus ubun-ubun keluar cairan otaknya, pemberi dan penerima suap anak istrinya dialiri darah haram sampai mati tersiksa di akhirat, dan sejenisnya bertebaran dalam poster di sekeliling gedung banyak instansi, tapi tetap saja seolah tak terbaca lagi.

Namanya sedang pura-pura buta huruf. Mau jargon dihias segede tugu selamat datang, tetap saja selamat tinggal wahai kebenaran, kami sedang pura-pura tidak bisa baca simbol huruf.

Sampai kapan hal seperti ini bakal terjadi? Mungkin sampai kita mau menengok ke dalam, jujur lahir dan di dalam batin, kata Ebiet G. Ade.

Ketika kita masih kecil dan di desa yang sunyi dengan sebagian besar orang-orang buta huruf, keadaannya beda. Kakek dan nenek di desa banyak tidak paham teknologi, tapi mengapa mereka tahu dan menjalankan pengetahuannya bahwa manusia harus hidup rukun bersama manusia yang lain? Mengapa mereka tidak meributkan apa agama tetangganya, melainkan tampil pertama saat tetangganya membutuhkan atau kelaparan?

Mengapa mereka tidak membangun pagar tinggi, kecuali pagar dengan tanaman mangkukan, di Jawa namanya itu, sebagai isyarat penjaga keamanan hidup adalah saling memberi makanan dalam mangkuk, juga dalam isyarat tanaman teh-tehan yang berarti minuman, lalu berbagi air dalam padasan di depan rumah?

Mengapa mereka tahu nilai jiwa manusia itu terdapat pada tutur kata dan sikap, sementara simbol pakaian hanyalah nilai raga semata? Tetapi, mengapa anak-cucunya di kota kini saling memaki berebut tampil pamer pakaian siapa yang paling mirip orang saleh, siapa paling nasionalis, baju siapa paling adat meski baju adat bermula dari baju bangsawan dan seterusnya?

Simbol religiusitas merupakan simbol yang suci. Termasuk juga simbol adat.

Kita tidak ingin orang lain mencari-cari masalah apalagi mempermainkan simbol religiusitas dan adat kita. Dalam tataran individu sampai level antarnegara. Di dalam negara, ada simbol ideologi, ada lambang, ada bendera. Kita juga tidak ingin warga negara lain mempermainkan, mengolok-olok, bahkan membakar simbol negara kita di negaranya. Demikian pula warga negara lain terhadap simbolnya.

Beranikah orang yang menghasut kita dengan simbol itu pergi ke negara Inggris untuk memprotes tanda “+” atau ke Vietnam untuk membakar bendera di sana? Kecil kemungkinan akan berani. Sebab, tiap negara telah pasti berdaulat dengan hukum mereka, serta warganya berbangga dengan simbol yang mereka miliki dan perjuangkan dalam sejarah bangsanya masing-masing.

Mestinya kita makin sadar, ini adalah era di mana kerjasama multinasional lebih diperlukan daripada permusuhan antarnegara. Kendaraan yang kita pakai asalnya dari mana, alat elektronik, hingga detail-detail aplikasi yang kita gunakan dalam telepon pintar. Akan lebih baik apabila energi yang masih menjelang bonus demografi, penduduk usia produktif, yang akan menggelegar lima belas tahun lagi, kita manfaatkan untuk mempelajari simbol-simbol pengetahuan dari berbagai lini, dari berbagai negara, untuk memulai berdikari dengan menghasilkan produk sendiri.

‌Itu lebih bermanfaat daripada terhanyut dalam permainan politisi yang menghasut lewat simbol kebencian dan permusuhan, demi raupan kekuasaan, waris-mewaris sawah jabatan, yang pada akhirnya mengancam bonus demografi menjadi bencana ledakan pengangguran. Jika bonus demografi malah menjadi ledakan masalah, kita, rakyat biasa, bersama anak-anak, cucu, dan murid-murid pewaris bangsa yang akan terkena dampak sengsaranya di masa depan, bukan para elit politik. Nah sekarang, mari kita kaji lebih jauh.

Xian,

Rabu, 2 September 2020

7
Eko Triono
Eko Triono, penulis kumpulan cerpen “Republik Rakyat Lucu” (Shiramedia, 2018). Peminat kajian pendidikan, bahasa, dan sastra. Kini bermukim di Kompleks Xian International Studies University.