Kematian Mat Sumbing memang sudah diramalkan sebelumnya oleh Ali Sudiyono. Lelaki berusia tiga puluh lima tahun itu meramalkan, jika kematian Mat Sumbing terjadi akibat terseret arus sungai yang deras di musim hujan, tetapi tidak dijelaskan mengapa Mat Sumbing sampai bisa terseret. Orang yang pertama kali mendengar ramalan Ali Sudiyono ialah Yu Giwang, seorang perempuan pemilik toko kelontong di kampungnya. Itu dikatakannya setelah Yu Giwang sedikit jengkel dan mengeluhkan Mat Sumbing yang berutang padanya dan tidak dibayar-bayar. Ali Sudiyono mengatakan hal itu, bukan karena ia ikut merasakan kejengkelan Yu Giwang. Ramalan itu tidak didorong hal tersebut.

Kebenaran ramalan Ali Sudiyono memang tidak hanya kali itu saja. Ali Sudiyono memang sudah terkenal sebagai ‘tukang ramal’, dan hampir semua ramalannya tidak meleset. Jika ia meramalkan sesuatu yang buruk—apalagi akan terjadi di kampungnya—orang-orang akan sesiaga mempersiapkan antisipasinya meski akhirnya tidak berarti apa-apa. Namun, nyatanya tetap ada yang kecolongan. Ramalan Ali Sudiyono seperti tidak lebih dari sebuah takdir. Bila hal-hal baik, tentu tidak akan menimbulkan kegelisahan. Meski begitu, bukan berarti semua orang percaya. Tidak sedikit yang menganggap jika ramalan Ali Sudiyono hanya kebetulan belaka, apalagi mereka yang beragama kuat.

Dari banyaknya ramalan Ali Sudiyono, yang paling diingat oleh warga, ialah ramalannya pada tahun lalu. Mungkin karena ramalannya terjadi di hari kemerdekaan, yang kemudian mengendap begitu lama di hati warga. Ali Sudiyono meramalkan kalau di hari kemerdekaan akan ada maling di kampungnya. Benar. Si maling memanfaatkan situasi, para warga sebagian besar hadir dalam acara tirakatan. Sebuah sepeda motor antik milik salah satu warga berharga ratusan juta raib. Ali Sudiyono mengucapkan ramalannya pada seorang tetangga, yang tinggalnya dekat dengan pemilik sepeda motor antik yang hilang itu. Ada yang menyalahkan Ali Sudiyono; tidak memberitahu semua warga, bila hal itu akan terjadi.

“Itu sudah takdir,” dalih Ali Sudiyono. “Kehendak Tuhan tidak ada yang bisa menghalangi, sekalipun aku mengatakannya pada semua orang.”

“Setidaknya ada usaha, dan tidak semengecewakan ini.”

Ali Sudiyono memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Pemiliknya sendiri yang teledor, tidak mengunci stang sepeda motor dan gerbang rumah dalam keadaan terbuka. Ali Sudiyono terkadang takut juga menyampaikan apa yang ada di kepalanya—ia bahkan pernah mengambil kemungkinan terburuk; dikeroyok warga kampungnya bila yang ia sampaikan hal buruk—tapi ia lebih kerap tidak bisa memendamnya.

Sebelum meramal kematian Mat Sumbing, Ali Sudiyono meramal jika kandungan Maria, perempuan dua puluh tahun yang hamil setelah diperdaya pacarnya, akan mengalami keguguran. Pacar Maria tidak bertanggung jawab, dan hilang ditelan bumi. Tidak ada seorang pun yang mengetahui keberadaan pacar Maria. Banyak warga yang mencemooh Maria; bagi mereka permasalahan ada karena Maria sendirilah yang menciptakannya. Namun, ada yang menyambut dengan gembira ramalan Ali Sudiyono. Orang yang gembira tersebut tak lain orang yang kasihan dengan Maria. Keguguran janin Maria benar terjadi. Maria dikuasai dua perasaan, sedih dan senang.

“Aku sendiri tidak tahu, kenapa bisa begini. Aku bahkan tidak merasa memiliki kemampuan ini. Aku hanya menyampaikan apa yang tergambar dalam kepala. Jadi, kukira agak aneh jika aku disebut peramal, sebab aku sudah melihat bayang-bayang di kepala,” ucap Ali Sudiyono kepada Markun, tetangganya yang tukang roti keliling.

“Kau indigokah?” tanya Markun.

“Entah,” kata Ali Sudiyono. “Yang jelas orang-orang tetap menyebutku tukang ramal.”

Ali Sudiyono juga tidak tahu, sejak kapan kemampuan itu bersemayam padanya. Orang tuanya Ali Sudiyono yang bergelar tukang ibadah karena rajin sekali ke masjid, tidak terlalu peduli dengan kemampuan Ali Sudiyono dan omongan tetangga. Orang tua Ali Sudiyono berada di pihak orang yang menganggap apa yang diramal Ali Sudiyono hanya kebetulan belaka.

Untung pihak keluarga Mat Sumbing tidak berbuat macam-macam terhadap Ali Sudiyono. Keluarga Mat Sumbing banyak berterima kasih kepada Ali Sudiyono yang telah melayat, turut berbelasungkawa atas kepergian Mat Sumbing. Ya. Keluarga Mat Sumbing benar-benar tidak mengapa-apakan Ali Sudiyono. Misalnya, Ali Sudiyono dituduh membunuh Mat Sumbing karena suatu hal, sebab sebelum itu telah meramalkan kalau matinya Mat Sumbing terbawa arus sungai yang deras. Lalu keluarga Mat Sumbing yakin, jika ramalan itu hanya tameng atas perbuatannya. Sama sekali tidak. Keluarga Mat Sumbing benar-benar tidak melakukan apa pun terhadap Ali Sudiyono.

Entah ucapan apalagi yang keluar dari mulut Ali Sudiyono, dan yang akan terjadi di kemudian hari. Beberapa orang setia menunggu, dan diam-diam mengagumi Ali Sudiyono. Mereka hanya ingin mendengar Ali Sudiyono meramal—bagi mereka, mendengar Ali Sudiyono meramal, sama halnya seperti mendapatkan suatu kepuasan.

Ada orang yang sampai ingin anaknya kecipratan kemampuan Ali Sudiyono, sampai-sampai si orang tua menyuruh anaknya untuk sering bergaul dengan Ali Sudiyono, dengan alibi tertentu. Membenarkan mainan yang rusak, menyuruh Ali Sudiyono untuk mengajari mengerjakan pekerjaan rumah, atau hal-hal lain yang bisa dijadikan alasan untuk bisa ketemu dengan Ali Sudiyono. Dengan sendirinya, bila sering ketemu akan tercipta keakraban. Dari situ, si orang tua yang menaruh harap pada anaknya agar menguasai kemampuan sebagaimana Ali Sudiyono, yakin kalau Ali Sudiyono bakalan menurunkan ilmunya. Ali Sudiyono bukan orang yang pelit. Setiap ada yang datang padanya, dan sedang membutuhkan pertolongan dalam bentuk apa pun tidak pernah ia tolak, selama ia bisa mengerjakan.

Entah apalagi ucapan yang keluar dari mulut Ali Sudiyono, dan yang akan terjadi di kemudian hari. Sudah dua minggu Ali Sudiyono tidak meramalkan apa-apa. Sebulan pun lewat. Ali Sudiyono tidak mengeluarkan satu pun ramalan. Orang-orang yang menunggu Ali Sudiyono gereget menunggu.

“Telingaku sudah sangat ingin menangkap ramalanmu.”

“Iya. Meramal apa sajalah. Masa tidak ada? Meramal negeri ini juga bisa.”

“Iya, apa saja.”

Ali Sudiyono terus didesak untuk berujar. Ia tetap tidak meramal. Sekali lagi, Ali Sudiyono tidak pernah merasa meramal.

“Jangan dipaksa, kalau memang Ali Sudiyono tidak mau meramal.” Ada seseorang yang membela Ali Sudiyono. Kepada orang itu, Ali Sudiyono mengeluhkan—keluhan itu tidak hanya datang hari ini saja—orang-orang yang antusias dengannya.

“Aku cari cara dari dulu, supaya mereka tidak mengejar-ngejar memintaku meramal, tapi tidak kunjung kutemukan caranya. Aku ini tidak merasa meramal. Aku nyata melihat. Susah menerangkan pokoknya. Yang jelas, demi Tuhan aku tidak pernah merasa meramal.”

Apabila Ali Sudiyono hidup beribu-ribu tahun yang lalu, mungkin sebutan ‘nabi’ sudah tersemat padanya. Ali Sudiyono dianggap orang suci. Ke mana pun banyak orang yang mengikuti. Orang-orang melayaninya, dan memenuhi segala permintaannya. Kemungkinan paling gila, Ali Sudiyono disembah layaknya Tuhan. Ali Sudiyono bisa hidup enak, bahkan seumur hidup. Makan dan keperluan-keperluannya ditanggung orang. Semua itu hanya modal meramal.

Suatu ketika, sepuluh hari setelah orang tua Ali Sudiyono pergi ke tanah suci—dua hari sebelumnya tetangganya juga ada yang ke tanah suci—lelaki itu berbincang dengan Yusuf Mahfud, pemuda seumurannya yang tinggal di dekat salah satu gang masuk kampungnya, bahwa sebentar lagi akan ada empat orang diseret ke kantor polisi karena terlibat perdagangan gelap obat-obatan, sekaligus pemakai. Hanya saja Ali Sudiyono tidak menyebutkan siapa saja yang bakalan tertangkap oleh polisi. Mendadak wajah Yusuf Mahfud berubah menjadi masam, tatapannya seperti tidak tenang. Itu yang membuat Ali Sudiyono tidak berkata lebih lanjut. Dan Yusuf Mahfud juga tidak menanyakan siapa saja keempat orang itu.

Hanya Yusuf Mahfud yang sedang bersama Ali Sudiyono. Ada rasa bersalah jatuh di hatinya. Ali Sudiyono menyesal telah mengatakan. Ia tahu apa yang akan terjadi setelah pertemuannya dengan Yusuf Mahfud. Ali Sudiyono secara tidak langsung telah memberikan jalan agar orang itu menyusun rencana supaya aman dari kejaran polisi, jika memang sungguh mempercayai kata-katanya.

“Aku juga punya ramalan,” kata Yusuf Mahfud tiba-tiba, dengan nada memendam kejengkelan. “Kurang lebih sebulan lagi, di kampung kita akan ada yang meninggal dunia setelah bepergian dengan jarak yang begitu jauh.”

Ada perubahan di wajah Ali Sudiyono dalam sekejap.

“Kok kau bisa meramalkan seperti itu?”

Yusuf Mahfud tidak mengucapkan alasannya. Kata-katanya terus mengganggu pikirannya, meski dalam tebakannya, Yusuf Mahfud berkata begitu hanya dilandasi rasa jengkel atas ucapannya. Dan dalam pikirannya, ia tidak ada gambaran apa yang akan terjadi sebulan kemudian.

Apa yang Ali Sudiyono katakan kepada Yusuf Mahfud memang terwujud. Yusuf Mahfud tersandung kasus itu. Ali Sudiyono tahu kesehariannya. Ia orang yang tidak setengah-setengah dalam beragama. Ia termasuk orang penting di kampungnya. Dalam menilai seseorang, memang jangan hanya melihat apa yang tampak saja, pikirnya. Terlepas dari ramalannya, apa yang disampaikan Yusuf Mahfud padanya menemui kenyataan. Sebuah pesawat yang berangkat dari negeri kurma terjun ke laut. Ali Sudiyono segera teringat dengan perkataan Yusuf Mahfud yang meramalkan akan ada yang meninggal sebulan lagi saat pertemuannya di hari itu. Namun ternyata bukan orang tuanya yang meninggal. Melainkan tetangganya yang beberapa waktu lalu berangkat haji hampir bersamaan dengan orang tua Ali Sudiyono. Lelaki itu sama sekali tidak kepikiran tentang hal itu, sebab hatinya telanjur dikuasai rasa marah terhadap Yusuf Mahfud.

Jejak Imaji, 2020

1
Risen Dhawuh Abdullah
Risen Dhawuh Abdullah, lahir di Sleman, 29 September 1998. Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Ahmad Dahlan (UAD) angkatan 2017. Bukunya yang sudah terbit berupa kumpulan cerpen berjudul Aku Memakan Pohon Mangga (Gambang Bukubudaya, 2018). Alumni Bengkel Bahasa dan Sastra Bantul 2015, kelas cerpen. Anggota Komunitas Jejak Imaji dan Luar Ruang. Bermukim di Bantul, Yogyakarta. Bisa dihubungi di IG @risen_ridho.