Semua orang yang mengetahui nama lelaki itu, mungkin akan bertanya: Pikiran macam apa yang berkelebat di kepala orang tuanya ketika menamai dia? Nama lelaki itu sangat garib dan riskan mendatangkan prasangka buruk. Ia bernama Anjing. Saat berkenalan dengan orang-orang baru dan menyebut nama, Anjing melihat wajah mereka memerah, sebelum kemudian ia menjelaskan soal namanya yang tak lazim. Faktor nama pulalah yang membuatnya sulit menggaet perempuan. Tak jarang percakapan singkat berikut ini terjadi dan harapan Anjing untuk mendapatkan kekasih seketika pudar:

“Boleh aku tahu siapa namamu, Nona Cantik?”

“Namaku Bella.”

“Sungguh nama yang indah. Perkenalkan, Anjing,” kata Anjing sambil mengulurkan tangan.

Lalu Bella cemberut dan meninggalkan Anjing begitu saja.

Sebelum dan sesudah Bella, Anjing pernah berusaha mendekati Alia, Nissa, Zahra, Elmina, Sarah, dan Aisyah. Semuanya gagal belaka. Kau tentu tahu penyebabnya.

Memang beberapa orang memaklumi namanya dan mau menjadikannya teman. Namun, itu tak serta merta menghilangkan kegundahan dari hati Anjing. Apalagi, Anjing merasa tak seorang pun di antara teman-temannya yang betul-betul tulus. Mereka pasti mengungkit soal kejanggalan namanya. Teman-temannya itu meledeknya dan menjadikan Anjing sebagai bahan olok-olok. Meskipun mereka menyebut itu hanya candaan, Anjing tetap tidak menyukainya. Atas alasan itu ia lebih banyak menjauh dari keramaian dan memilih menyendiri. Ketika sendirian, bersama tembok atau kipas angin, ia tak mendapati satu pun yang meledek namanya. Ia belakangan menyadari tembok dan kipas angin ternyata lebih baik daripada kebanyakan manusia.

Anjing pernah berniat mengubah namanya secara resmi. Tapi urusan mengganti nama tak semudah membelokkan setir motor ke kiri. Birokrasi selalu punya cara untuk mempersulit umat manusia. Suatu kali Anjing nekat ke dinas kependudukan mengajukan perubahan nama. Belum apa-apa, para birokrat yang ada di sana sudah menertawakannya. Anjing tak memedulikan tawa mengejek itu. Ia teguh ingin mengganti namanya. Namun, urusan administrasi yang berbelit-belit membuat Anjing kapok dan membiarkan namanya tetap Anjing.

Ia juga kesulitan memperoleh pekerjaan. Walaupun ia memiliki keterampilan dan berpenampilan menarik, tidak ada perusahaan yang mau merekrutnya sebagai pekerja. Perusahaan-perusahaan itu langsung menolak begitu tahu namanya. Anjing masih mengingat betul seorang HRD perusahaan restoran cepat saji yang menggeleng-geleng seraya melempar surat lamarannya.

“Kami hanya menerima karyawan dari kalangan manusia. Kami tidak menerima karyawan dari kalangan anjing,” ujar si HRD.

Anjing muntab. Hampir saja ia menonjok kepala si HRD yang berbentuk seperti nangka. Untungnya ia masih bisa menahan emosi dan hanya membalasnya dengan pelototan.

Hidup begitu sulit dan hidup menjadi jauh lebih sulit bagi orang bernama aneh seperti Anjing. Kadang-kadang ia berpikir untuk meloncat dari menara sutet. Ia juga pernah berandai-andai dirinya tak pernah dilahirkan ke muka bumi dan memiliki nama. Ia akan senang seandainya Tuhan menakdirkan ia cuma hidup di dalam perut ibunya selama bertahun-tahun tanpa pernah dilahirkan ke dunia.

Soal orang tuanya, Anjing selalu mengenang mereka dengan perasaan sedih sekaligus kesal. Ia sedih karena keduanya sudah meninggal sejak Anjing masih berusia enam tahun dan membuatnya harus tinggal di panti asuhan. Ia sudah tak punya kakek, nenek, bibi, paman, dan kerabat semisalnya karena mereka semua meninggal dunia tepat saat anak-anak mereka berusia enam tahun. Ayah, ibu, dan sepupu-sepupunya menjadi yatim piatu sejak usia enam tahun—sama seperti Anjing. Pengasuh di panti yang menceritakan soal itu kepada Anjing dan Anjing selalu percaya kepada pengasuh karena pengasuh baik hati dan suka memberikan Anjing hadiah. Adapun ia kesal lantaran kedua orang tuanya mewariskan nama yang buruk kepadanya. Sungguh, seperti semua orang, ia juga tak habis pikir terhadap orang tuanya. Bisa-bisanya mereka menamakan anak sendiri Anjing, padahal ada jutaan nama baik yang bisa dipilih. Terkadang ia memikirkan hipotesis untuk ‘membela’ orang tuanya. Barangkali dulu saat melahirkan Anjing ibunya ditolong oleh seekor anjing saat mengalami pendarahan di jalanan atau pada waktu itu terjadi musibah kelaparan dan anjing-anjing mengangkut makanan dari antah-berantah untuk diberikan kepada orang tua Anjing. Namun, sekalipun hipotesisnya benar, tetap tidak mengurangi rasa kesal Anjing kepada mendiang orang tuanya.

Anjing menyibukkan diri dengan berjualan buku secara daring. Ia menamakan toko buku daringnya Pustaka Beruang (sebab Anjing Pustaka atau Pustaka Anjing kurang enak didengar; sementara beruang, selain berarti nama seekor hewan, juga memiliki arti ‘mempunyai uang’). Sebetulnya itu bukan jenis pekerjaan yang ia inginkan. Tapi ia tidak punya pilihan. Semua perusahaan menolaknya.

Ia menjual bermacam buku, terutama buku-buku fiksi. Tak banyak orang membeli buku jualannya. Yang banyak justru orang-orang yang tiba-tiba membatalkan pesanan hanya karena mengetahui nama si penjual adalah Anjing (ya, orang-orang itu terkejut dan membatalkan pembelian setelah melihat nama rekening Anjing).

Pada suatu malam, ponsel Anjing berdering. Seseorang dari satu kota yang jauh menghubunginya. Ia ingin membeli salah satu buku jualan Anjing. Ia seorang perempuan bernama unik: Kelinci. Kelinci membeli novel Animal Farm karya George Orwell dari Anjing. Novel itu sendiri berkisah tentang hewan-hewan, dengan babi-babi sebagai tokoh utama. Novel itu menjadi perantara kedekatan mereka. Berbeda dengan umumnya orang yang menjadikan namanya sebagai alasan untuk lekas melipir, Kelinci justru merasa tertarik terhadap Anjing. Nama kamu lucu sekali, kata Kelinci. Anjing tidak tahu apakah itu pujian atau ejekan. Namun, seiring kedekatan mereka ia tahu bahwa perkataan Kelinci tersebut adalah pujian.

Kelinci berasal dari keluarga lengkap dan baik-baik. Kedua orang tuanya masih hidup. Ia adalah anak tunggal. Perihal muasal namanya Kelinci mengatakan bahwa pada saat mengandungnya, ibunya melulu mengidamkan soal kelinci. Mulai dari minta dibelikan kelinci, boneka kelinci, menonton film tentang kelinci, membaca buku tentang kelinci, hingga terekstrem: ibunya meminta ayahnya untuk makan wortel—makanan kelinci—setiap hari pada dua minggu menjelang kelahiran Kelinci.

Nama panggilan Kelinci begitu manis dan enak didengar: Linci. Hai, Linci. Begitu orang-orang biasa menyapa Kelinci. Beda sekali dengan bagaimana Anjing dipanggil. Hai, Njing. Demikian orang-orang biasa menyapa Anjing.

Meski seperti berasal dari dua semesta yang berbeda, hubungan Anjing dan Kelinci berjalan baik. Malah boleh dibilang amat mulus. Itu suatu hal yang tak pernah terbayang di benak Anjing. Ia bisa berkenalan dengan gadis semanis Kelinci, rutin berkomunikasi, makan malam bersama, disambut dengan baik oleh orang tua Kelinci, dan paling istimewa Kelinci bersedia menjadi kekasihnya.

Hubungan Anjing dan Kelinci semakin intim dari waktu ke waktu. Anjing merasa hari-harinya setelah kehadiran Kelinci begitu indah, seolah tiap jalan yang dilaluinya ditaburi bunga-bunga dan disemprot kesturi. Ia juga mulai lupa akan masa-masa buruk yang pernah dilaluinya tatkala banyak orang menolak dan menjauhinya.

Akhirnya, mereka menikah pada tahun monyet. Sebagai mahar pernikahan, Anjing memberikan sebuah boneka kucing berukuran besar untuk Kelinci. Pada hari pernikahan mereka, burung-burung beterbangan di atap rumah, semut-semut berbaris, ayam-ayam berkokok, kambing-kambing mengembik, katak-katak berdengkang, dan seekor kupu-kupu masuk ke rumah Kelinci—tempat resepsi pernikahan diadakan. Sementara itu, penghulu yang menikahkan mereka bernama Asad—kata dalam bahasa Arab yang berarti singa.

Anjing dan Kelinci pergi berbulan madu di Pulau Biawak. Mereka melalui hari-hari indah di sana. Mereka bercumbu, bercinta, dan saling melontarkan harapan-harapan indah.

Tak lama setelah itu, Kelinci hamil. Anjing berbahagia. Orang tua Kelinci berbahagia. Para kerabat dan teman-teman Kelinci berbahagia. Pada hari kelahiran anak mereka, Anjing dan Kelinci berdebat soal nama.

“Aku tidak mau menamakan anak kita dengan nama hewan,” kata Anjing.

“Aku malah ingin menamakan anak kita dengan nama hewan,” timpal Kelinci.

Anjing bersikeras pada pendapatnya, Kelinci juga bersikeras pada pendapatnya. Pada akhirnya, Anjing membolehkan anaknya dinamakan dengan nama hewan, tapi dengan satu syarat. “Asal namanya bukan Anjing,” ucap Anjing.

Mendengar ucapan Anjing, Kelinci hanya tertawa kecil. (*)

SMA Future Gate Bekasi, 12 Maret 2020

15
Erwin Setia
Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, dan Pikiran Rakyat.