Di berugak bambu reot; di hadapan botol dan gelas-gelas berisi tuak, bangkai-bangkai gayas yang menyusut, hangus; disaksikan lalat-lalat yang terbang gelisah, Maq Colaq dan Man Kadip menantang nenek moyang Sumir. Sumir hanya duduk bersila. Tubuhnya yang tidak berbaju tampak berkilau. Terutama perutnya yang telah membuncit. Dan ia tertawa setiap mendengar kata api. Tawa dengan sedikit seringai dan guncangan kedua bahu. ...