Cerpen Tjak S. Parlan Fahmi Idris duduk bersila di antara kerumunan kecil yang riuh itu—dan merasa takjub, bahwa dirinya telah berada di tempat yang tidak pernah dikunjunginya selama puluhan tahun. Dia tahu, dirinya sedang tidak bermimpi. Pada sore yang lembab itu, Ahmad Saleh telah menggiringnya memasuki sebuah pertaruhan: gelanggang yang terbuat dari perpaduan rasa getir, kesialan, juga keberuntungan yang tidak ...