Saat memikirkan isi paragraf pertama esai bahasa kali ini, buku cokelat di meja itu meminta perhatian, seolah mengirim daya tarik agar membuka catatan hari Senin, pekan kedua September, tiga jam setelah kami bertemu dan menghadapi “lidah” detektif.

Ia berkaos hitam, bercelana jeans biru, bersepatu kasual putih, tidak memakai topi pet, tidak mengisap pipa, tidak pula membawa kaca pembesar seperti layaknya karikatur lawas detektif Sherlock Holmes.

Tiga jam yang lelah. Kemudian kami pulang naik taksi biru yang tersendat macet sore, dan sampai di tempat tinggal saat cuaca mendung, kecepatan angin bertambah, kelembapan udara berkurang, tenggorokan terasa kering, matahari sedang menuntun awal musim gugur di Xi’an. Istri saya mampir ke bagian humas urusan internasional universitas. 

Ia baru kembali mengetuk pintu setelah dua puluh menit, masuk dengan wajah kuyu, duduk menghadap buket bunga hari guru yang mulai layu kelopaknya dan memudar aroma harumnya, kemudian berkata:

“Ny. Lin Zhu bilang kita jangan terlalu cemas, hati yang masih ada di lidah, kembalikan dulu ke dalam dada katanya.”

Segera saya mengabaikan berita televisi tentang demo di Norwegia dan deklarasi di depan Tugu Proklamasi, beralih melompat ke arah istri. Bukan untuk bergegas memeluk menenangkannya, melainkan lebih dahulu mengambil pena dan buku cokelat di sisi vas kaca hijau di depannya, cepat-cepat mencatat kalimat indah tentang: “hati” dan “lidah” itu.

A.S. Laksana dan Yusi Avianto Pareanom, dua di antara pengajar di kelas Akademi Penulisan Novel DKJ, pada enam tahun yang lalu, saat hujan turun ritmis di Cikini pada Sabtu, selepas pukul dua siang di lantai dua, pernah mengajari kami dengan tekun cara merangkai narasi dari satu, dua, atau tiga kata yang terlihat seacak jawaban teka-teki silang, namun dapat saling berhubungan satu sama lain.

Sementara pelajaran mengoleksi kata saya ikuti tidak langsung dari Alfiansyah Bustami.

Ketika saya berusia sembilan tahun, Alfiansyah adalah pengisi suara lucu tingkah binatang di televisi swasta. Dua tahun lalu, ia baru lulus sarjana pada usianya yang keempat puluh delapan tahun, di sekolah tinggi ekonomi di Bekasi. Ia mengaku sempat malas sekolah dan kuliah. Ia lebih suka baca buku di rumah, sebab tidak berbatas waktu dan pilihan bacaan. Namun yang paling pantas menarik perhatian adalah caranya belajar melucu.

Ia telaten melatih diri. Setiap hari ia mengambil satu kata atau nama benda, mencari lelucon darinya, berkeliling rumah, bahkan sebelum tidur matanya melihat benda-benda rumah tangga yang nampak lelah dan tak berdaya.

Ia berusaha membangkitkan sisi lucu mereka, mulai dari sprei, bohlam, hingga raket nyamuk. Terkesan seperti adegan tokoh Melquíades membangkitkan jiwa-jiwa benda logam dengan menarik magnet besar keliling Macondo; seperti penulis adegan novel One Hundred Years of Solitude itu, Gabriel García Márquez, yang membangkitkan jiwa nostalgia rumah sunyi selepas meninggalnya kakek neneknya, di Aracataca, Kolombia, pada kunjungan suatu hari bersama ibunya.

Sebagian orang telah mengenal Alfiansyah Bustami dengan nama beken: Komeng, si pelawak Spontan Uhuy.

Ia memang bisa spontan melucu saat ada yang memberinya sebutir kata atau serenteng kalimat umpan di atas panggung atau di depan kamera. Spontanitas kemampuannya tidak berasal dari sihir, melainkan dari “lidah” yang terasah; sebagaimana tajam dan terasahnya lidah Pao Lung Sing di pengadilan, dalam makna konotatif dan denotatif.

Sebelum malam pembunuhan keluarga Ny. Chi Siu Ling yang dilakukan oleh seorang putra Jenderal Angkatan Laut pada masa kekaisaran, Pao adalah hakim lokal yang brengsek, bodoh, dan korup, tidak seperti bapaknya. Penduduk setempat melempari sayur dan buah busuk saat bertemu dengannya. 

Kenyataan itu membuat Fong Tong Kan, pengacara si pembunuh, mengirimkan tumpukan uang perak agar Pao memutus tidak bersalah si anak jenderal.

Pada hari persidangan, para saksi telah disuap, barang bukti berupa mayat-mayat telah dimanipulasi dengan keracunan, dan puncaknya justru korban yang selamat, yakni Ny. Chi, tertuduh sebagai pembunuh keluarganya sendiri dengan dakwaan menaruh racun. Tidak hanya sampai di situ, pengacara Fong memainkan “lidah” legendarisnya untuk memuntahkan peluru kata tanpa henti bahwa hakim lokal Pao telah disuap oleh Ny. Chi dengan tumpukan uang perak setinggi meja makan yang dapat dilihat di rumahnya.

Tersudut, Hakim Pao membela Ny. Chi, namun malang, dua hakim lain justru memutus kedua orang itu dipenjara.

Pao kabur dari penjara untuk melakukan perlawanan. Ia ngumpet di rumah bordil. Ia mulai mendapat simpati dari publik sebab membela yang tertindas.

Di sana, anehnya, ia justru belajar menghadapi “lidah” Fong melalui para germo. Para germo memiliki kompetisi adu “lidah” dalam memperebutkan kekuasaan atas pelacur terbaik. Kecepatan kata-kata dan daya tahan bicara menjadi penentu siapa germo paling berkuasa. Pao tiap hari belajar dari cara mereka berdebat, hingga puncaknya lidahnya bisa mematikan nyala lilin dengan kecepatan bicara, bahkan ketajamannya mematahkan lilin-lilin tersebut, dan suaranya menerbangkan ikan serta kepiting di lautan. Ia mengujinya dalam kompetisi ngoceh antargermo dan menjadi pemenang dengan kecepatan kata-kata yang tak tertandingi.

Dalam teori dasar bahasa, berbicara adalah salah satu keterampilan berbahasa.

Namanya keterampilan tentu harus terus diasah supaya terampil sebagaimana keterampilan menulis. Ada orang yang mengalami masalah bicara secara fisik pada alat ucapnya seperti cadel, gagap, atau secara psikis seperti gugup atau demam panggung seperti King George VI. Ada orang yang terampil menulis, namun tidak terampil saat berbicara menjelaskan. Ada pula orang yang saat bicara tidak teratur seperti bergumam dan berkumur, namun ada pula yang jelas pengucapannya, menyihir nadanya, dan isinya pun memukau pendengarnya.

Permasalahan keterampilan berbicara dalam dunia modern kita telah banyak diatasi dengan berkembangnya ilmu kedokteran terkait bahasa dan alat ucap serta di dalam ilmu kebahasaan itu sendiri.

Pelajaran tentang berbicara dapat diperoleh secara formal maupun nonformal. Ragamnya pun berbeda, mula dari kemampuan deskriptif, hingga argumentatif.

Orang dapat melatih “lidah” mereka untuk tujuan tertentu.

“Lidah” di sini sebagai simbol  penyempitan atas makna luas berbicara, meski sudah pasti dalam berbicara komponen alat ucap saling terlibat satu sama lain. Ada yang “lidah”-nya diasah untuk menjadi detektif, humas universitas, pengajar, pelawak, pengacara, politisi, penipu, psikolog, penyair, pendakwah, orator, motivator, hingga yang paling fantastis, menurut saya, adalah para rapper.

Berkat mengetahui skandal petinggi kekaisaran dengan pelacur terbaik, Pao diberi kesempatan menggelar ulang perkara Ny. Chi.

Ia lebih dahulu menjadi detektif yang mengumpulkan bukti-bukti, dan yang paling penting, ia telah mampu bersilat “lidah” dengan kecepatan tinggi. Pertarungan sengit kata dan logika terjadi antara dia dan pengacara Fong, hingga dia memenangkan perkara secara meyakinkan dan mengembalikan kebenaran ke tempatnya. Dalam film komedi lawas, ‘Hail The Judge’, Pao yang diperankan oleh Stephen Chow ditampilkan melakukan rapp dalam mengungkapkan dan mempertahankan argumennya.

Sebagaimana dalam menulis, teknik adalah aspek kebahasaan, sementara aspek isi merupakan nonkebahasaan dan keduanya saling melengkapi, demikian pula dalam berbicara. Teknik tanpa konten akan jadi omong kosong belaka. Isi tanpa kemampuan menyampaikan dan mempertahankannya hanya akan jadi hal yang hampa dan nyaris sia-sia. Kemampuan berbicara yang berisi dapat membuat Bung Karno menjadi “penyambung lidah rakyat Indonesia”.

Tindakan Pao nge-rap, awalnya saya kira hanya bentuk hiperbola dan komikal, namun ternyata tidak sebatas itu. Saat saya menulis bagian akhir esai ini, berita televisi menyiarkan wafatnya hakim perempuan di Mahkamah Agung Amerika Serikat, yakni Ruth Bader Ginsburg, pada usia delapan puluh tujuh tahun.

Ia terkenal tidak mudah mundur dalam mempertahankan pendapatnya tentang keadilan, hingga mendapat julukan dari mahasiswa hukum sebagai ‘The Notorious R.G.B.’ Julukan ini mengacu pada The Notorious B.I.G, si Biggie Smalls, yang wafat dua puluh tiga tahun lalu di Los Angeles.

Siapa si Biggie yang menjadi acuan itu? Jawabannya: Rapper. Salah satu penyanyi dan komposer rap terbaik sepanjang masa.

Xi’an, 20 September 2020

8
Eko Triono
Eko Triono, penulis kumpulan cerpen “Republik Rakyat Lucu” (Shiramedia, 2018). Peminat kajian pendidikan, bahasa, dan sastra. Kini bermukim di Kompleks Xian International Studies University.