Erling Haaland sudah pasti menunggu datangnya hari ini; kembalinya liga setelah jeda cukup lama akibat pandemi. Apa yang membuatnya jadi dua kali lipat lebih spesial adalah ini pertandingan derbi pertamanya bersama Dortmund. Ruhr Derby yang panas, dengan bumbu-bumbu kebencian yang diwariskan turun-temurun oleh kedua suporter klub. Maka, sejak pagi dia sudah bersiap diri, mengambil tiga puluh menit kardio dan melakukan meditasi. Sebuah kebiasaan yang dia percayai membantu peningkatan fisik dan ketajaman pikiran sebelum pertandingan. Tekadnya adalah menjaringkan gol ke gawang Schalke, melanjutkan catatan kecemerlangannya sebagai wonderkid yang paling dibicarakan seantero Eropa.

Itu adalah siang yang cukup teduh di Signal Iduna Park. Dua puluh dua pemain telah bersiap di lapangan, sementara ofisial kedua tim dan pemain cadangan duduk di bangku tim dalam format distancing dan masker di wajah mereka. Para awak media membidik kamera-kamera dari tepi lapangan, siap merekam sejarah baru sepakbola modern yang digulirkan di masa pandemi. Haaland, tampak memandangi semua sudut di tribun stadion. Tak ada siapa-siapa di sana. Tak ada penonton dan suporter dengan bendera-bendera kuning mereka. Tak ada kemasyhuran Yellow Wall di tribun selatan yang membuat pemain-pemain Dortmund bermain tanpa kenal rasa lelah. Bangku-bangku tribun di stadion terbesar di Jerman itu kosong melompong. Barangkali, tak pernah ada dalam bayangannya sedikit pun harus melakoni debut Ruhr Derby dalam sepi dan sunyi.

Wasit meniup peluit. Haaland melakukan sepakan pertama dari titik tengah lapangan. Tak ada yang berubah dalam permainan sepakbola di masa pandemi, hanya saja pertandingan berjalan dalam tempo yang agak lambat dengan gerak-gerak pemain yang sedikit kaku. Jeda tiga bulan rupanya cukup mengganggu irama tubuh mereka untuk bermain pada level pertandingan kompetitif. Masuk menit ke-29, sihir tiba-tiba terjadi. Sebuah umpan dari pemain belakang Dortmund mengarah kepada Brandt, dan dengan sekali sentuh menggunakan sisi kaki luarnya, dia mengumpan bola ke ruang kosong di sisi kiri pertahanan Schalke. Thorgan Hazard berlari mengejar bola, dia seperti sudah tahu ke mana arah umpan. Di tengah, Haaland berlari masuk ke dalam kotak penalti. Dia menerka jika bola akan diumpan ke depan mulut gawang. Dan benar saja, itu adalah umpan silang yang membuat setiap pemain belakang dan kiper kelimpungan. Hanya dengan sentuhan kecil lewat kaki kiri dan bola berjaring di gawang Schalke. Erling Haaland membukukan golnya yang ke-13.

Gol semacam itu seharusnya membuat Signal Iduna Park bergemuruh. Tapi tidak kali ini. Haaland berlari ke pojok lapangan sambil mengacungkan jari telunjuknya ke arah tribun. Barangkali dia sempat lupa jika pertandingan itu tanpa suporter. Sesampainya di pojok lapangan, Haaland membalikkan badan lalu menari dengan gaya canggung. Tiga pemain rekan setianya mengikuti dalam jarak tidak kurang dari dua meter sambil memberinya tepuk tangan. Sedangkan para fans Dortmund yang menonton pertandingan itu dari rumah mereka mungkin terjebak dalam perasaan yang absurd, antara puas dan kecewa. Terlebih setelah para suporter klub bola di Jerman yang memprotes digelarnya pertandingan di masa pandemi. Bagi mereka, sepakbola yang tidak boleh atau tidak dapat dihadiri oleh para pendukungnya adalah sepakbola yang sakit. Tapi, barangkali inilah realitas baru dalam sepakbola yang harus diterima: sebuah gol yang dirayakan dalam jarak dan kesunyian.

3