Kamis, Desember 8, 2022

Monolog : Kritik

Di sebuah kampung, perbatasan antara kota hati dan kabupaten akal, dua jenis orang sedang berbincang. Yang satu, seorang mahasiswa tingkat tiga, satunya lagi seorang ayah satu anak.

Mahasiswa tingkat tiga itu bertanya kepada ayah satu anak “mang, kenapa orang-orang pada kritis ya, apa yang bikin orang jadi kritis kira-kira? “. Ayah satu anak menjawab ” Jangan kesitu dulu, memangnya kritis itu apa? “.

Mahasiswa tingkat tiga itu diam sejenak, kemudian dia menjawab ” Kritis itu dia berani mengemukakan pendapat”. “Yang bener! ” Jawab ayah satu anak. “Lha terus apa? ” Mahasiswa tingkat tiga balik bertanya.

“Kamu tahu arti kritis, gimana sih keadaan orang yang sedang kritis di rumah sakit? ” Tanya ayah satu anak. “Diinfus, dikasih oksigen dan beberapa perawatan lain yang dibutuhkan”. Jawab mahasiswa semester tiga.

“Nah, perlakuan pihak rumah sakit kan mengupayakan supaya setiap kebutuhan pasien kritis itu terpenuhi, setiap nutrisi yang dibutuhkan terpenuhi” Sambung ayah satu anak “sekarang saya tanya, gimana keadaan orang yang pikirannya sedang kritis, apasih kebutuhan pikiran? ” Ayah satu anak menambahi.

“Pikiran membutuhkan pengetahuan” Jawab mahasiswa semester tiga “salah! ” Timpa ayah satu anak. “Lha, terus apa? ” Tanya mahasiswa semester tiga. Ayah satu anak menjawab dengan mantap “hakikat atau kebenaran”.

Dari sini, bapak satu anak itu ceramah sangat panjang” Sejatinya, pikiran kita selalu bertanya terhadap hal-hal yang ditemui. Hanya saja intensitas perhatiannya saja, apakah kita pernah perhatian atau tidak terhadap setiap hal yang muncul dari diri kita? Ataukah wajah kita selalu dipandangkan terhadap hasrat dan buaian nafsu sesaat, sehingga segala hal yang kita perbuat selalu berantakan? “.

” Hei, kebenaran itu didapat dari kenyataan hidup, sementara kenyataan hidup bukanlah wujud fisik. Segala hal yang bebentuk fisik selalu berubah, seperti ilusi. Dia tidak pernah benar-benar ada dan selalu ada”.

“Lalu yang disebut kebenaran itu seperti apa? ” Tanya mahasiswa semester tiga “ya cari pake akal-pikiranmu, itu yang disebut aktivitas kritik! Sehingga kita kelabakan dan gereget ingin mendapat kebenaran dari suatu hal, mencari kebenaran itu mesti terstruktur supaya hal-hal yang kita pahami itu tidak sepotong-sepotong! ”

“Nah saya mau bertanya, apa yang membuat orang berpikir kritis? ” Tanya ayah satu anak. “Emmm…. ” Mahasiswa semester tiga berpikir keras “Itu karena dia belum dapat jatah! ” Serobot mahasiswa semester akhir.

“Belegug sia! Terus kalau dia nggak kritis lagi dan malah membungkam berarti dia sudah dapat jatah? ” Sahut ayah satu anak “ya kenyataannya menang seperti itu” Jawab mahasiswa semester akhir tersebut.

 

BERSAMBUNG, MUNGKIN.

Bagikan artikel

Ruang Literasi, merupakan organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam bidang jurnalistik dan literasi—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online. Ruang Literasi berdiri pada tanggal 26 November 2017 dan disahkan dalam Kongres KM IAID ke-16.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

- Advertisment -

Populer

Ini Kongres Ke-XXI bukan Acara Ngawangkong Teu Beres-Beres

Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) gelar acara kongres Keluarga Mahasiswa (KM) Institut Agama Islam Darussalam...

Membangun Kembali Semangat ke-PAI-an, HMPS PAI Gelar Refleksi Harlah PAI

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) gelar acara Refleksi Harlah PAI...

Meregenerasi Kepengurusan, UKM Damapala Gelar Acara Musda

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Darussalam Mahasiswa Pecinta Alam (DAMAPALA) gelar acara Musyawarah UKM Damapala...