FB_IMG_16022657261319910.jpg

Identitas buku
Judul: Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang
Penulis: Ong Hok Ham
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Tebal: XIX+457 Halaman

Di tengah palagan, Lionel Messi tampak kewalahan dan mesti menyerah pada kutukan magis kala berlaga bersama Timnas Argentina. Kelincahan dan kedigdayaan dalam menguasai bola, yang sering ia pertontonkan saat membela Barcelona seolah rontok, lenyap. Dalam ajang pembuka Grup D Piala Dunia 2018 silam, ia dipaksa berbagi poin dengan Islandia, kesebelasan yang bahkan tak patut diperhitungkan sebagai kuda hitam.

Adalah Alfred Finnbogason, pembawa mimpi buruk yang merobek jala Willy Caballero, membuat silau jutaan mata pendukung tim Tango yang menanti penuh kecemasan di tengah tribun atau di hadapan tabung televisi.

Tetapi hiburan tak berhenti di sana, konsentrasi saya terpecah antara gerak lincah bola dan jajaran nama-nama skuat Islandia. Kiper yang menghalau eksekusi Messi di kotak penalti bernama Hannes Halldorsson, sosok yang bertanggung jawab terhadap lini pertahanan bernama Kari Arnason, yang melulu menapis ritme permainan bernama Gylfi Sigurdsson. Ada banyak sekali “Son” bermain malam itu, mengapa bisa demikian?

Tabulasi nama “Son”—yang lekas menjadi misteri di benak—pada gilirannya mempertemukan saya dengan catatan ringkas Ong Hok Ham di majalah Tempo tertanggal 18 Januari 1986. Judulnya sederhana saja, “Nama dan Kepadatan Penduduk’”. Kendati demikian ia berusaha membabarkan pelbagai subjek sekaligus, dalam teks sepanjang tak lebih dari 900 kata; kepemilikan individu terhadap tanah, ledakan demografi di era Hindia-Belanda, dan tentu saja konsep keterwakilan Tuhan dalam diri Raja—yang membenam di alam pikir masyarakat Jawa.

Nama tak sekadar sempalan identitas belaka, ia juga punya nilai di hadapan hukum. Pelecutnya ialah lonjakan populasi penduduk dan tingkat kemajemukan. Sejak kekuasaan Napoleon misalnya, warga Nederland dan Prancis mesti melekatkan nama Ayah, asal kota, atau profesi yang tengah ia tekuni. Agar Rick Baker—si tukang roti, tak tertukar dengan Rick Hoorn—bocah kota Hoorn.

Namun dalam tipologi masyarakat kita, nama bisa disunting sedemikian rupa, entah oleh alasan mitologis (Saya pernah menggunakan nama Muhammad Ghifari Zakawali Fauzan, kemudian karena alasan ‘terlalu berat’ kakek meringkasnya) hingga kesalahan fatal petugas catatan sipil. Bahkan jauh di masa silam, ketika tanah dimonopoli oleh Tuhan—yang berarti milik Raja—orang-orang tak acuh pada nama. Kita mudah saja berganti dari Udin Petot menjadi Jordan Henderson, atau sebaliknya. Sebab, tak ada yang harus dipertahankan jika kelak Udin yang satu harus berhadapan di meja hijau dengan Udin yang lain.

Ong Hok Ham menutup tulisan bernas itu dengan kalimat penuh pikat dan mengisyaratkan keluasan wawasan. “Seperti biasa,” ia mencatat, seolah-olah hal semacam ini tak asing baginya, “masyarakat sendiri sudah menjawab berbagai kebutuhan sebelum ada kebijakan resmi.”

Akhirnya saya mengerti, sebagian negara memang punya aturan baku terkait nama. Islandia, negara bergelimang ‘son’ yang saya paparkan di awal, bahkan punya komite tersendiri untuk menentukan nama pribadi; Mannanafnanefnd. Salah satu kaidah utamanya adalah sekat pemisah berdasarkan jenis kelamin, Son untuk nama belakang pria dan Dóttir untuk perempuan.

Demikianlah perkenalan saya dengan Ong Hok Ham, tak begitu intim dan penuh romansa memang, malahan terkesan sepele; berkat nama. Dan memang begitu, Sejarawan sekaligus Koki yang piawai menyuguhkan aneka kudapan lezat ini tak jarang mengangkat persoalan remeh-temeh ke permukaan, untuk kemudian mengelaborasinya dengan pelbagai rekam jejak di masa silam—secara diakronis. Maka, terhidanglah di hadapan kita sejenis histroriografi yang lezat, gurih, bergizi, namun tetap ringan dikudap.

Di luar itu, Ong Hok Ham termasuk pada golongan sejarawan ‘langka’ yang gemar berbagi temuan pada khalayak. Ia rutin menulis untuk media masa dengan bahasa ringkas, dan tak melulu berkutat pada diktat yang menjemukan. Untuk kebiasaan itu, Goenawan Mohamad bahkan menulis sejenis ucapan terima kasih yang sangat membuai; “Seandainya Ong Hok Ham tidak menuliskan kolomnya di media masa, dengan mengambil risiko bahwa ia dianggap kurang ilmiah, kita tidak akan mengetahui tentang percikan di masa silam—dan kita akan kehilangan bahan percakapan yang menarik.”

Beruntung seluruh kolomnya di Majalah Tempo, yang merentang sepanjang periode 1976-2002, terkumpul dalam buku dengan tajuk Wahyu yang Hilang Negeri yang Guncang. Ada sekitar 70 tulisan, dengan aneka tema dalam 8 bab. Jika Anda memiliki kesempatan untuk membacanya, maka bersiaplah diguncangkan kenikmatan tertentu; dongengan yang terkesan sepele namun ditransformasikan dengan cara yang bikin terlena. Berbeda, sangat jauh berbeda dengan paparan guru sejarah semasa sekolah, yang mengundang kantuk sebab terus mengkhotbahkan aneka tanggal dan peristiwa besar, namun luput mewartakan Ikhwal yang tampak dekat, yang sejatinya bernilai.

Sejarawan nyentrik ini berbeda. Bahkan eksistensi Tuyul, tak ia lewatkan dalam penjelajahan. Ong Hok Ham membahas secara centang-perenang bahwa mitos hantu berkepala plontos yang terlatih menguntit uang itu bermula dari rasa cemburu kalangan bawah pada sejumlah bangsawan dan priayi yang begitu mudah melipatgandakan harta dalam waktu singkat. Ong berhasil mengabadikan kisah manusia-manusia kecil beserta dinamikanya, yang jelas tak tercatat dalam lembar sejarah konvensional.

Kecenderungan demikian bisa kita lihat begitu benderang dalam buku setebal 400-an halaman ini. Mantan Dosen UI tersebut berhasil merekam jejak Gali-gali. Menurutnya, mereka tak lain sekumpulan bandit yang menyeruak, sebab motif tak terdistribusinya keadilan secara merata, sekelompok orang yang kadang kala dijadikan sasaran cemooh—namun tak jarang menjadi penyokong status quo para penguasa. Ia juga mencatat gula-gula. Tentang betapa hasil kebun ini menjadi pendongkrak perekonomian kolonial, hingga tak pelak disebut sebagai ke kurk waarop Java drift (gabus tempat pulau Jawa terapung di atas laut). Tapi, kemiskinan dan keterbelakangan para petaninya yang kelak akan menyulut sumbu revolusi, dan menyalakan aneka tegangan.

Yang paling menarik minat saya adalah apa-apa yang menjadi bahan rujukan Ong Hok Ham dalam Gelandang dari Masa ke Masa. Laporan pertama tentang kelompok sosial ini tercatat di akhir abad ke-18. Sekitar 35.000 pekerja kasar dari Yogyakarta-Semarang, yang kemudian disebut batur. Mereka, katanya, unsur masyarakat liar yang melulu melibatkan diri pada tiap kesempatan pemberontakan. Kaum marjinal yang, alih-alih teredukasi atas segala perangainya, justru membebek pada gerakan Ratu Adil.

Namun, bagi Ong Hok Ham, “Kaum gelandang juga tidak melihat pentingnya suatu perubahan sosial bagi mereka, karena mereka memang tidak memiliki saham sama sekali di dalam masyarakat.” (Halaman 410)

Saya kira, kalimat tersebut layak dijadikan postulat bagaimana mendidik orang-orang terpinggirkan. Mula-mula yang mesti ditanamkan adalah harapan bahwa perubahan sosial memang berguna, bukan memanfaatkan mereka semata penambah daya gedor masa. Lantas, sudah siapkah Anda diguncang Ong Hok Ham? (***)

8
Muhammad Nanda Fauzan
Menulis cerita pendek. Bermukim di Serang, Banten.