Pada suatu momen tertentu, seorang wanita berkata pada kekasihnya dengan nada tinggi, “Seandainya bukan karena egomu, tentu aku sudah menggunakan peluang itu sebaik-baiknya!” Lelaki itu terdiam dan hanya menatap si wanita yang memalingkan muka darinya sebelum berkata, “Kau selalu menyalahkanku, tanpa memperhatikan bagaimana egomu sendiri yang sebenarnya menghancurkan dirimu.” Singkat cerita, sepasang kekasih itu pun berpisah dan menempuh alur hidup masing-masing.

Agar tidak terlalu jauh tenggelam dalam cerita picisan yang sering terjadi itu, baiknya kita fokus pada salah satu diksi yang mereka jadikan batu timpuk. Mereka sama-sama menggunakan kata ego untuk saling menyerang. Saya tidak tahu apakah keduanya menggunakan kata itu dengan kesadaran dan pemahaman yang sepenuhnya tepat.

Memang banyak dari kita yang kerap menggunakan kata ego untuk mewakili suatu hal yang buruk dalam diri manusia. Padahal itu tidak sepenuhnya benar. Ego sebenarnya bagian dari kepribadian kita yang berfungsi menjadi penengah bagi dua struktur kepribadian lainnya, jika kita merujuk pada teori kepribadian milik Sigmund Freud. Dua struktur kepribadian itu adalah id dan superego.

Id adalah struktur paling bawah yang mewakili sebuah dorongan hasrat hewani dalam diri manusia. Dorongan hasrat ini biasanya condong ke arah yang buruk. Sebaliknya, superego merupakan struktur paling atas yang biasanya mengarahkan diri kita kepada norma-norma sosial dan hidup yang lebih beradab. Kedua struktur itu tidak bisa lebih dominan atau mengungguli satu sama lain. Jika id mendominasi manusia, yang terjadi adalah ketidakpedulian pada tatanan norma dan berdampak destruktif. Sebaliknya, saat superego yang lebih unggul, Freud meyakini bahwa kondisi tersebut akan menggiring manusia ke wilayah kemunafikan. Freud menyebutnya sebagai permasalahan neurotik.

Ego menjadi penengah bagi keduanya, sebagai penentu fungsi id dan superego pada saat yang tepat. Ego yang mengatur kapan harus memunculkan karakter id (misalnya marah, berhasrat), dan kapan menempatkan karakter superego (mempertimbangkan dan mematuhi norma tentang baik-buruk). Ada pun batu asah bagi ego adalah akal budi. Dengan akal budi, ego berfungsi sebagaimana mestinya, menalar dan memberi keputusan tepat untuk menentukan fungsi id dan superego. Tentu saja ini berbeda dengan “egois”. Egois hadir sebagai anomali dari fungsi ego. Ia muncul saat kerja akal mendominasi tanpa pertimbangan nurani/budi. Dan pada akhirnya, egoisme akan membuat sifat keakuan mengakar kuat dalam diri seseorang.

Gudang Mental dan Manajernya

William Atkinson, dalam bukunya yang berjudul The Inner Consciousness, menyatakan bahwa dalam diri manusia ada bidang Kesadaran Batin yang diibaratkan seperti gudang. Gudang mental ini berisi “bahan-bahan” yang selanjutnya akan tersusun sebagai pemikiran. Bahan-bahan pikiran ini dibawa oleh para pekerja (kita boleh membayangkannya sebagai kurcaci-kurcaci yang hilir mudik dalam kepala kita) dari gudang mental ke pabrik pemikiran. Di pabrik pemikiran inilah bahan-bahan tersebut diolah menjadi jalinan gagasan dan tindakan sadar.

Dari manakah bahan-bahan itu didapatkan?

Atkinson menjelaskan jika bahan-bahan yang tersimpan dalam gudang mental yang luas itu berasal dari segenap pengalaman kita. Diri kita pada hari ini, tersusun dari apa yang dipikirkan dan segala hal yang membuat kita terkesan di masa lalu. Sikap mental, bersamaan dengan segala jenis sugesti yang membuat kita terkesan di masa lalu itulah yang menentukan “karakter” atau diri kita saat ini. Begitu pula dengan pemikiran dan tindakan kita, mereka tersusun atas materi mental yang kita kumpulkan di masa lalu dan tersimpan di ruang-ruang Kesadaran Batin.

Untuk menentukan “produk” yang bagus dari bahan-bahan mental ini, tentu kita membutuhkan manajer atau supervisor, sebab selayaknya gudang, ada pula sejumlah besar material yang rusak dan bersifat buruk. Di sinilah peran ego, ia harus menjadi tuan bagi gudang mental untuk mengatur dan memilah bahan-bahan produksi yang akan dipintal menjadi gagasan dan tindakan penuh. Ego juga yang menentukan untuk menerima “bahan-bahan produksi”.

Jika seseorang memutuskan untuk membiarkan setiap pikiran negatif, sedih, dan terluka menempati pikirannya, maka secara berangsur-angsur sikap mentalnya akan selaras dengan frekuensi semacam itu. Bahan-bahan mentalnya tentu saja diproduksi sebagai produk yang buruk.

Pada akhirnya, jika akal budi tidak berfungsi dalam ego seseorang ini, maka kehidupannya akan penuh dengan tindakan atau pemikiran negatif dan berdampak buruk bagi dirinya sendiri.

Tentu kita bisa mendapati kasus tertentu tentang seseorang yang gudang mentalnya telanjur terisi bahan-bahan buruk. Ada begitu banyak yang terjebak dalam kondisi demikian. Tetapi kondisi seperti ini bukanlah sebuah justifikasi bahwa seseorang akan selamanya terjebak dalam kubangan itu.

Ibarat sebuah wadah yang berisi lumpur basah, demikian yang dikatakan salah satu penulis masyhur, jika kita tuangkan air jernih secara kontinu ke dalamnya, lumpur itu akan terangkat keluar meninggalkan wadah, dan wadah itu pada akhirnya terisi air jernih. Ini hanya tentang ketekunan dan kemauan keras untuk membongkar gudang mental yang kita miliki dan menggantinya dengan bahan yang baik.

Kita sudah semestinya menyadari, bahwa ego merupakan sebenar-benarnya tuan bagi Gudang Mental kita. Ego pula yang menentukan tingkat Kesadaran Batin kita. Dan hendaknya, ego benar-benar dijaga dari kontaminasi lingkungan sekitar karena ego memiliki perangkat bernama “Kehendak” untuk menentukan keputusan yang baik dan benar. Ia semestinya berdiri sendiri tanpa pengaruh eksternal yang sering kali tidak bertanggung jawab.

Seseorang boleh saja perbarui status di facebook, mengunggah cuitan di twitter, dalam rangka menanyakan suatu hal atau meminta pertimbangan yang bahkan sangat sepele. Namun suatu langkah yang bijak apabila ia menyadari pentingnya kedaulatan bagi egonya untuk menyaring jawaban-jawaban yang datang. Media sosial, kita tahu sendiri, adalah belantara baru yang berisi kebuasan tak terduga.

4
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.