Kamis, Desember 8, 2022

Memaknai setiap Perubahan di Alam dengan Filsafat

Sulit untuk tidak diakui bahwa segala sesuatu yang ada di alam semesta ini mengalami perubahan. Bahkan benda yang tampak mati sekalipun mengalami perubahan. Seperti halnya terjadinya penguapan, pencairan, penyubliman, pengkristalan, pengembunan dan pembekuan pada benda.

Jangankan benda, sesuatu yang dianggap abstrak sekalipun mengalami perubahan. Misalnya perasaan yang ada dalam diri manusia. Terkadang manusia hidup terombang-ambing dengan perasaannya yang tidak menentu. Karena memang, manusia akan merasakan fase kebahagiaan dan juga fase kesedihan.

Jauh dari itu, kita bisa melihat berbagai tindakan manusia dalam kehidupan. Pada satu waktu manusia bisa melakukan kebaikan dan pada waktu yang lain bisa melakukan keburukan sehingga melahirkan suatu norma sosial.

Segala sesuatu akan mengalami perubahan dari posisi awalnya. Cepat ataupun lambat perubahan dalam kehidupan akan terjadi karena itu adalah kepastian.

Pada tulisan ini akan mencoba mengungkap beberapa hal. Pertama, apakah benar segala sesuatu yang ada di alam mengalami perubahan?! Kedua, apakah pemahaman manusia terhadap perubahan ada konsekuensi terhadap tindakannya di alam?!

Sikap Kita terhadap Perubahan di Alam

Berulang kali akan dikatakan bahwa perubahan di alam adalah sesuatu hal yang pasti. Secara sekilas pernyataan tersebut akan menghantarkan kita terhadap pemahaman tidak adanya sesuatu yang pasti (tetap) di alam semesta ini.

Perubahan akan senantiasa ada dan akan dipahami dengan cara yang berbeda-beda oleh setiap manusia. Sesekali manusia akan beranggapan bahwa anak dari perubahan di alam adalah ketidakpastian masa depan.

Ketidakpastian yang dimaksud adalah kondisi berbagai hal yang tidak bisa ditebak oleh manusia di alam. Sehingga anggapan ketidakpastian tersebut akan membuat manusia merasa khawatir terhadap masa depannya.

Ketakutan manusia terhadap sesuatu yang tidak pasti barangkali akan menghantarkan terhadap keinginannya untuk terus menerus ikut berubah sesuai perubahan alam atau zaman. Sekilas, bentuk ketakutan dan keinginan ini merupakan suatu perlawanan tersendiri terhadap perubahan.

Di sisi lain, terdapat pemahaman manusia yang sangat unik dalam menghadapi perubahan. Bukan khawatir apalagi takut, ia akan merespon perubahan dengan biasa saja.

Apa yang perlu dikhawatirkan, tidak ada masalah dalam perubahan. Karena yang terpenting bisa makan, bisa kuliah, bisa kerja, bisa punya uang, bisa nikah kemudian kita tidak perlu takut. Hal itu disebabkan semua ini sudah ada yang menentukan jauh dari sebelum manusia dilahirkan ke bumi.

Hal di atas menunjukkan manusia bersifat pasif terhadap perubahan, padahal manusia harus aktif dalam melakukan perubahan. Sehingga manusia tidak melulu menjadi objek perubahan, tetapi ia mampu menjadi subjek perubahan.

Reaksi manusia dalam menghadapi perubahan amat sangat dipengaruhi oleh suatu hal yang ada dalam dirinya, baik itu hasrat ataupun akalnya.

Kegagalan Manusia dalam Mengungkap Kepastian di Alam

Keinginan manusia untuk senantiasa selaras dengan perubahan zaman yang sangat cepat telah menunjukkan bahwa manusia mengalami ketakutan. Manusia telah merasakan ketakutan bahwa dirinya akan terancam terlindas oleh perubahan zaman.

Lemahnya diri manusia akan membuat hidupnya mengalami ketertekanan. Ke-tidak ikut-sertaan manusia terhadap barang yang baru muncul dalam media akan membuatnya merasa ketinggalan zaman.

Beberapa Indikasi di atas bukan saja membuat diri manusia merasa terancam, jauh dari itu kewarasan pola pikir manusia pun ikut terganggu.

Adanya media sosial pada khususnya, merupakan salah satu ciri perubahan alam/zaman yang tertuang pada abad 21. Tugas pembuat iklan dalam berbagai kanal media masa bukan saja hanya untuk membuat iklan. Tetapi tujuan adanya iklan adalah untuk mempengaruhi orang yang menonton iklan tersebut.

Melalui media sosial manusia akan diperkenalkan dengan kebudayaan baru, yaitu kebudayaan modern. Kebudayaan tersebut akan merubah pola pikir, pola laku kemudian tujuan hidupnya.

Di zaman modern, manusia akan diarahkan terhadap budaya yang kasat mata. Tujuan hidup dibuat olehnya untuk mencapai hal-hal yang kasat mata. Prinsip manusia bisa dibilang berada dalam tingkatan yang rendah, ia hanya hilir mudik di tatanan kasat mata. Selain itu, perubahan-perubahan yang ia lakukan di alam hanya perubahan yang kasat mata dan tidak bersifat jangka panjang.

Kehadiran Filsafat dalam Mengungkap Perubahan

Pada tulisan kali ini, tidak akan dijelaskan panjang lebar lagi perihal dari definisi ataupun arti filsafat. Sebab, pada tulisan teman-teman yang lain sudah dibahas.

Baca juga:….

Filsafat menjadi hal yang sakral untuk dikaji lebih jauh oleh masyarakat Indonesia yang sudah ter-modern-kan. Meskipun memakai embel-embel Islam (Filsafat Islam), hal tersebut menjadi sangat tabu untuk dibahas.

Lain halnya dengan iklan-iklan barang atau makanan dalam media masa yang memakai embel-embel Islam, akan lebih laku di kalangan masyarakat.

Entah hal ini menunjukkan kurangnya filsafat dalam segi pemasaran atau memang masyarakat modern yang hanya menyukai hal-hal kasat mata saja.

Namun filsafat tidak akan terlepas dari pembahasan tentang mengapa manusia diciptakan? Apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia? Apa yang seharusnya menjadi tujuan hidup manusia? Apa itu kebahagiaan? kemudian apa itu kebenaran? Dan lain sebagainya.

Dampak dari gagalnya manusia dalam menjawab hal di atas akan menyebabkan ia kehilangan arah sehingga prinsipnya mudah terombang-ambing dan kehilangan tujuan.

Dari segi potensialnya, manusia berangkat dari titik start yang sama sesuai dengan fitrahnya. Tetapi di alam, tidak semua berjalan beriringan. Setiap orang mempunyai kehendak masing-masing dan setiap kehendak dapat dipengaruhi oleh hasrat ataupun akalnya.

Bisa jadi selama ini kita hidup di dunia digerakkan bukan dengan akal, tetapi dengan hasrat kita. Keinginan kita meraih suatu hal yang materi, menyebabkan kita mendapatkan kebahagiaan yang semu dan sementara.

Materi terus berubah-ubah yang kemudian bakal rusak. Seperti yang dianggap tujuan oleh kita dari dulu yang tidak abadi. Saat kecil ingin jadi pilot, beranjak dewasa ingin jadi PNS, beranjak tua ingin menikmati pensiunan kemudian beribadah dengan khusyuk.

Perubahan yang terjadi di alam akan mengarahkan manusia terhadap dua kondisi, yaitu kondisi baik dan buruk. Selama manusia tidak menemukan yang pasti di alam, selamanya manusia akan hidup dalam ketidakpastian.

Bagikan artikel

Ruang Literasi, merupakan organisasi internal kampus atau Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang bergerak dalam bidang jurnalistik dan literasi—mencari, mengolah, menulis, mengedit, dan mempublikasi sebuah artikel ke khalayak melalui pemberitaan online. Ruang Literasi berdiri pada tanggal 26 November 2017 dan disahkan dalam Kongres KM IAID ke-16.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Artikel Terkait

- Advertisment -

Populer

Ini Kongres Ke-XXI bukan Acara Ngawangkong Teu Beres-Beres

Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM) gelar acara kongres Keluarga Mahasiswa (KM) Institut Agama Islam Darussalam...

Membangun Kembali Semangat ke-PAI-an, HMPS PAI Gelar Refleksi Harlah PAI

Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Pendidikan Agama Islam (PAI) gelar acara Refleksi Harlah PAI...

Meregenerasi Kepengurusan, UKM Damapala Gelar Acara Musda

Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Darussalam Mahasiswa Pecinta Alam (DAMAPALA) gelar acara Musyawarah UKM Damapala...