Hoarding Disorder. Adakah di antara kalian pernah mendengar istilah ini? Saya menemukan istilah ini ketika saya (mulai) merasa aneh dengan diri saya. Ibu, juga adik saya di rumah sering menegur saya lantaran kebiasaan aneh yang saya lakukan. Yaitu, kebiasaan menimbun barang-barang yang seharusnya berakhir di tempat sampah.

Ya, jujur saja, saya kerap kali mengoleksi barang-barang yang sudah tidak terpakai dengan alasan barangkali suatu hari nanti barang-barang itu akan terpakai kembali. Selain itu, saya juga menyimpan barang-barang tertentu dengan alasan barang tersebut mengingatkan saya pada suatu kejadian atau hanya sekadar terlalu sayang untuk dibuang.

Contohnya, saya menumpuk kotak sepatu sampai memenuhi bagian atas lemari dengan alasan (mungkin) suatu saat nanti kotak sepatu itu akan bermanfaat. Selain itu, saya juga menyimpan co-card seminar dari berbagai event yang pernah saya ikuti dengan alasan untuk mengingatkan saya pada momen-momen tersebut. Belum lagi gelang yang sudah tidak layak pakai, kerang, wadah permen, kotak es krim atau kotak makanan yang lain–-bahkan rak piring di rumah saya sampai penuh dengan bekas wadah es krim ini. Belum lagi pulpen-pulpen lama dan tidak berfungsi yang pernah saya dapatkan di sebuah event pun masih saya simpan. Tentunya, masih banyak lagi barang-barang yang seharusnya sudah berakhir di tempat sampah, tetapi masih saya letakkan di kamar.

Saat saya membeli sepatu untuk kesekian kalinya, dan hendak menyimpan kardus sepatunya, Ibu saya seketika menegur.

“Buang saja!”

“Jangan!”

“Buat apa sih? Itu kardus-kardus di atas lemari saja udah numpuk. Mau diletakkan di mana lagi?”

Iya, juga ya. Saya menjadi berpikir dan mulai sadar bahwa selama ini saya se-menyampah ini. Barang yang saya tumpuk di kamar mulai mengganggu orang-orang rumah yang masuk ke kamar saya. Adik dan Ibu terutama, mulai protes dengan kebiasaan saya yang suka menimbun barang.

Oke, karena ini sudah berlangsung bertahun-tahun lamanya, tentu bukan hal yang mudah bagi saya membuang barang-barang ‘koleksi’ begitu saja. Saya juga mulai membuka dan membaca banyak artikel tentang kebiasaan saya ini dan bertemulah saya dengan istilah hoarding disorder.

Dari sekian artikel yang saya baca, saya simpulkan bahwa orang dengan hoarding disorder atau disebut sebagai hoarder mengembangkan hubungan erat yang aneh dengan barang-barang yang dimilikinya. Gangguan ini didefinisikan sebagai  keinginan eksesif untuk mengoleksi, menimbun, atau menyimpan barang-barang yang dimilikinya. Selain itu, seorang hoarder juga mengalami kesulitan jika harus membuang barang-barang tersebut meskipun barang-barang itu sudah tidak terpakai lagi.

Tirto.id melansir dari Psychology Today, juga mengemukakan bahwa terdapat tiga hubungan emosional yang dimiliki orang dengan gangguan hoarding.

Pertama, hubungan sentimental yang ia maknai sebagai simbol atau representasi pengalaman, ingatan akan seseorang penting, atau kenangan di masa lalu. Barang-barang yang tidak ingin dibuang itu diyakini sebagai pengganti jika ingin mengingat kenangan masa silam tersebut.

Kedua, hubungan estetik yang ia maknai bahwa barang-barang yang ia kumpulkan memiliki cita rasa keindahan. Karenanya, orang dengan gangguan hoarding kesulitan untuk membuangnya.

Ketiga, hubungan intrinsik yang ia maknai bahwa ia tidak ingin membuang barang dengan sia-sia. Orang yang memiliki hubungan intrinsik dengan suatu barang meyakini bahwa barang lama atau yang sudah rusak bisa didaur ulang atau diperbaiki kembali.

Setelah membaca banyak artikel, saya bahkan menemukan salah satu artikel yang menuliskan tentang kisah seorang pengidap hoarding disorder akut yang menumpuk barang-barang koleksi hingga ke langit-langit rumahnya. Ia membiarkan barang-barang itu memenuhi setiap ruang di rumahnya sampai rumah itu terasa sesak. Bahkan binatang seperti semut dan kecoa mati yang terperangkap di antara barang-barang itu tidak ia bersihkan. Ia bahkan mengoleksi ribuan buku yang tidak ia tata dan dibiarkan berantakan.

Dalam artikel yang lain, mengisahkan tentang seorang yang didiagnosis digital hoarding karena mengoleksi foto yang ia simpan di dalam 8 hard disk miliknya. Sekali mengambil gambar, ia bisa mengambil hingga ribuan gambar dan membutuhkan waktu tiga sampai lima jam untuk menyortir foto-foto tersebut hingga membuatnya depresi. Padahal gambar yang diambil pun bukan gambar-gambar penting.

Oke, setelah belajar dari sekian banyak artikel, saya jelas tidak mau berakhir di rumah sakit jiwa. Entah mengapa, saya meyakini begitu saja bahwa saya bisa lepas dari kebiasaan ‘mengoleksi’ barang-barang. Terlebih, saya sendiri mulai merasa kamar saya sudah sangat pengap karena tumpukan barang-barang yang saya ‘koleksi’ itu. Meskipun awalnya merasa berat melepas barang-barang yang saya ‘koleksi’, tetapi saya tetap terbuka untuk menyudahi kebiasaan yang bisa saja merusak mental seseorang secara perlahan.

Jika di antara kalian ada yang memiliki kebiasaan yang sama seperti saya, marilah kita bergandengan tangan dan menyudahi kebiasaan ini.

Pertama, memulai secara perlahan. Nikmati setiap prosesnya. Buka dan lapangkan hatimu untuk melepas barang-barang yang tidak kamu perlukan lagi. Pikirkan bahwa apa yang kamu koleksi itu hanya membuat ruang-ruang di rumahmu penuh dan pengap. Setiap kali terlintas pikiran untuk membuang suatu barang, segeralah untuk membuangnya. Jangan menunda karena itu hanya akan membuatmu berubah pikiran.

Kedua, tanyakan alasannya pada dirimu sendiri. Sebelum kamu membeli atau menerima barang, coba tanyakan alasannya pada dirimu. Apakah kamu benar-benar membutuhkan barang tersebut atau kamu hanya membeli atau menerima lantaran kamu merasa suatu saat barang itu akan berguna? Serius, ubah cara berpikirmu yang memikirkan bahwa “suatu saat barang itu akan berguna”. Jika kamu sendiri tidak bisa memastikan kapan barang tersebut akan berguna, sebaiknya jangan dibeli atau diterima. Itu hanya akan membuatmu (lagi-lagi) mengoleksi barang yang hanya akan memenuhi rumahmu.

Ketiga, jangan ragu untuk membuang. Sekali lagi, jangan ragu untuk membuang barang yang sudah tidak kamu perlukan. Saya pribadi merasakan bahwa awal mula saya menimbun barang karena rasa ragu dan sayang untuk membuangnya. Kembali lagi pada pola pikir, “Barangkali suatu saat ini akan berguna!” Yakinlah bahwa pola pikir seperti itu hanya menjebakmu di kemudian hari. Sebelum kamu benar-benar terjebak pada pola pikir itu, sekali lagi, jangan ragu untuk membuang apa yang seharusnya kamu buang.

Setidaknya, tiga hal itu bisa kamu coba untuk melepaskan kebiasaan ‘mengoleksi’ barang atau hoarding. Saya akui, memang butuh waktu. Tetapi jika kamu konsisten menjalani setiap prosesnya, tidak menutup kemungkinan kamu akan lepas dari kebiasaan ‘mengoleksi’ barang. Saya pribadi mulai merasakan efeknya ketika saya mulai konsisten dan perlahan menjalani prosesnya. Satu per satu barang yang pernah saya timbun keluar dari kamar dan berakhir di tempat sampah.

Sebelum benar-benar membuangnya, saya sempat menyortir terlebih dahulu beberapa barang yang menimbulkan keraguan, dan mengelompokkannya dalam sebuah kotak. Setelah saya simpan selama enam bulan dan tidak pernah lagi saya tengok, barulah saya buang. Selain itu, saya juga menerapkan sebuah cara; mengeluarkan satu barang setiap ada satu barang baru yang masuk. Jadi, semasa saya kecil, Ibu selalu mengajarkan pada saya, setiap membeli baju harus ada satu baju yang keluar. Entah diberikan kepada orang lain atau disumbangkan, tetapi harus ada yang keluar minimal satu baju. Itulah yang kemudian saya terapkan pada barang-barang yang lain.

“Kita paham bahwa menyayangi diri sendiri bukanlah pekerjaan egois. Menjaga apa yang kita makan dan menjaga suasana hati adalah wujud kasih nyata kita terhadap diri sendiri sekaligus jutaan mikroba di dalam tubuh,” demikian yang dikatakan Regis Machdy, seorang psikolog muda yang menulis Loving the Wounded Soul: Alasan dan Tujuan Depresi Hadir di Hidup Manusia.

Menyadari ada yang salah dari dalam diri dan bersegera memperbaiki tentu lebih baik daripada membiarkannya berlarut-larut. Tidak ada yang tidak mungkin ketika tekad itu sudah tertanam dalam hati untuk menjadi lebih baik. Lagi pula, tidak ada salahnya jika kita mengubah suatu kebiasaan buruk menjadi kebiasaan yang lebih baik. Itu bahkan harus dilakukan.

4
Weda S. Atmanegara
Weda S. Atmanegara, penulis kelahiran Klaten, 20 Juli 1994. Pernah mengenyam pendidikan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Suka mengamati hal apa pun karena dari sana ide menulis itu lahir.