Sumber gambar: Instagram fiksigpu

Identitas buku
GADIS MINIMARKET | Penulis: Sayaka Murata
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Jakarta | Edisi: Pertama, Juli 2020
Tebal: 160 halaman | ISBN: 9786020644394

DALAM sebuah artikel yang dirilis electricliterature, Sayaka Murata dimasukkan dalam delapan penulis perempuan modern yang patut diperhitungkan. Sebagai pembanding dalam daftar tersebut disebut nama-nama yang sudah lebih dulu mengorbit di dunia (baca: karyanya diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan diterima dengan baik), Banana Yoshimoto dan Yoko Ogawa.

Setelah menutup rampung buku ini, akan ada gema pertanyaan yang tersisa dalam kepala. Mengapa manusia begitu terobsesi dengan kredo kenormalan? Apakah standarisasi hidup sekaligus penyeragaman menjadi tujuan akhir manusia atau sejatinya justru usaha memanipulasi diri? Menutupi ketidakmampuan manusia melihat hal yang heterogen, sekaligus menegaskan bahwa manusia sejatinya egois.

Sayaka Murata dalam novel tipis namun menghentak ini, menandaskan hal demikian. Bagaimana seorang perempuan dewasa dikejar oleh cara pandang orang akan kenormalan hidup dan justru menemukan pelarian dalam sebuah minimarket. Gadis Minimarket yang diterjemahkan dari Konbini Ningen (コンビニ人間) dianugerahi Akutawaga Prize pada 2016 dan ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada 2018, Convenience Store Woman seketika menjadi salah satu judul laris internasional—sekarang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Gadis Minimarket bisa dibaca sekali duduk. Namun, pergulatan yang dialami tokoh perempuan bernama Keiko Furukura dijamin akan terus bergema dalam kepala. Yang dialami Keiko adalah yang kerap juga mendera manusia modern sekarang. Di ambang status quo antara mengimani yang diyakini atau menyesuaikan kredo normal masyarakat.

Keiko Furukura selalu dianggap aneh dan tidak diterima oleh lingkungan. Di Taman Kanak-kanak, ketika di halaman tergeletak bangkai burung kecil, reaksi Furukura jauh berbeda dengan teman-teman sekolahnya. Furukura berkata ke ibunya, “Ayo kita makan dia! Ayah suka yakitori, jadi nanti malam kita makan ini saja.” (Hal. 10)

Atau ketika Furukura menyaksikan dua teman lelakinya bertengkar, bukannya melerai, justru dia menghantam kepala salah satu dari mereka hingga berdarah. Dalihnya itu adalah cara paling cepat untuk melerai mereka. Keluarga dan kawan-kawannya berusaha mengobati Furukura. “Keluargaku menyayangi dan mencintaiku, dan karena itulah mereka selalu mengkhawatirkan aku dan ingin menyembuhkanku,” aku Furukura.

Tidak diterima sebab dianggap abnormal, Furukura baru menemukan lingkungan kecil yang mampu dia kuasai ketika dia mulai bekerja paruh waktu di minimarket Smile Mart tidak jauh dari rumah dan stasiun Hiiromachi dibuka.

Dunia kecil minimarket adalah dunia sisipan yang teratur. Menata barang, melayani pelanggan, sapaan-sapaan yang hampir senada setiap waktu, memindai barcode, menghitung total belanja, menyorongkan kembalian, atau menawari menu-menu promo.

Selain ritme hidup yang hampir sama polanya, ruang dan interaksi yang bisa dibilang terbatas membuat Furukura berhasil mengadopsi kebiasaan orang agar dia setidaknya berperilaku seperti orang lain dan dianggap normal.

Diriku saat ini adalah hasil bentukan orang­-orang di sekitarku. Tiga puluh persen berkat Izumi, 30 persen berkat Sugawara, 20 persen berkat manajer, dan sisanya berkat orang­-orang dari masa lalu, seperti Sasaki yang berhenti kerja setengah tahun lalu dan Okasaki, penyelia kami hingga tahun lalu.

Hingga delapan belas tahun bekerja sebagai pegawai paruh waktu, minimarket adalah jagat kecil Furukura di mana dia dinilai normal oleh kebanyakan kawan kerja dan pengunjung minimarket.

Normal baru yang dirasakan Furukura selama menjadi pegawai paruh waktu di minimarket nyatanya tidak membuat orang lain berhenti mengusik. Masih saja muncul pertanyaan-pertanyaan mengganggu dari kolega atau keluarga besar: bagaimana mungkin perempuan usia 36 tahun, masih saja menjadi pegawai paruh waktu di minimarket? Dan selama 18 tahun? Mengapa tidak mencari pekerjaan tetap? Mengapa belum menikah?

Apa yang dialami Furukura sejalan apa yang pernah Sartre singgung, l’enfer c’est les autres; neraka dunia berwujud orang lain. Cara pandang orang lain akan memaku kita pada satu titik tertentu, kemudian mengaburkan kendali atas diri kita sendiri hingga terpuruk tanpa daya dan menyerah pada cara pandang orang lain.

Terlebih kemunculan pegawai laki-laki magang baru, Shiraha yang lagi-lagi mengguncang ketunakan jagat cilik milik Furukura. Dia adalah yang berusaha menyesuaikan kredo normal meski diakuinya sudah terlambat. Shiraha yang dengan jelas menyatakan maksud menjadi pegawai magang untuk mencari pasangan hidup memengaruhi Furukura untuk menengok lagi standar kenormalan masyarakat. Yakni dengan menikah, berkeluarga, dan bekerja mapan tidak lagi sebagai pegawai paruh waktu. Rahimmu juga milik desa. Kau tak akan dipedulikan karena rahimmu tak berguna, bujuk Shiraha.

Tidak ada yang berubah dalam tatanan masyarakat sejak zaman batu. Garis demarkasi antara lelaki dan perempuan, bahwa kodrat manusia harus menikah, bahwa pandangan orang lain lebih sering mengganggu daripada membantu, dan bahwa seleksi alam dan alienasi kerap terjadi kepada mereka yang memilih jalan sedikit berbeda dengan standar kenormalan.

Dunia normal adalah dunia yang tegas dan diam-diam selalu mengeliminasi objek yang dianggap asing.
Mereka yang tak layak akan dibuang.
(Hal. 81)

Membaca Gadis Minimarket akan sedikit mengubah cara pandang kita terhadap minimarket dan kehidupan sekaligus kredo normal. Dunia kecil minimarket digambarkan dengan detail-detail kecil yang menarik, sekaligus metafora pelarian atas kehidupan yang serba harus dinormal-seragamkan.

Furukura dan Shiraha adalah dua manusia yang boleh jadi merupakan representasi manusia modern pada umumnya. Sanksi sosial atas pilihan yang sedikit berbeda kerap menyudutkan. Bila Furukura menemukan jagat kecilnya (minimarket) sebagai tempat pelarian dari demarkasi sosial, pada dunia kenyataan hal demikian sungguh dicari. Pada akhirnya manusia akan berdialog dengan diri sendiri dan bernegosiasi sampai batas mana menerima atau mengampuni standar normal pada masyarakat. Dan yang demikian merupakan pergulatan sepanjang hidup manusia. []

5
Teguh Afandi
Pembaca buku dan sesekali menuliskan catatan pembacaan.