Segala-galanya Ambyar-MARK MANSON.jpg

Judul               : Segala-galanya Ambyar
Penulis             : Mark Manson
Penerjemah      : Adinto F. Susanto
Penerbit           : Grasindo
Cetakan           : 1, 2020
Tebal               : 357 halaman
ISBN               : 978-602-052-283-8

Di buku berjudul asli Everything Is F*cked ini, Mark kembali hadir dengan gayanya yang khas: paduan menarik antara penelitian psikologi, sejarah, pandangan para ilmuwan dan kebijaksanaan para filsuf, serta humor. Jika di buku sebelumnya, Sebuah Seni untuk Bersikap Bodo Amat (Grasindo: 2018), Mark menggedor kesadaran kita agar tegas menentukan mana yang penting dan tidak untuk dipikirkan dalam hidup, maka di buku keduanya ini Mark mengajak kita menemukan dan merawat harapan di tengah keadaan kehidupan yang kacau saat ini.

Kehidupan kacau atau “ambyar” adalah ketika banyak orang mengalami krisis eksistensi diri dan kehilangan makna hidup meski secara material lebih baik. Mark memaparkan banyak data. Di Amerika Serikat (AS), gejala-gejala depresi dan kecemasan selama 80 tahun terakhir melonjak di kalangan anak muda. Sejak 1985, baik laki-laki maupun perempuan memiliki angka kepuasan hidup rendah. Penyebabnya, tingkat stres yang meningkat 30 tahun belakangan.

Selain mewabahnya stres di negara maju, di tingkat global Mark juga melihat keadaan “ambyar” tersebut dari adanya ancaman nyata terhadap kelestarian dan perdamaian: perang nuklir, ekstremisme, hingga menguatnya pegiat teori konspirasi. Kita memang manusia paling aman dan makmur sepanjang sejarah, namun keputusasaan yang mewabah juga lebih parah daripada masa sebelumnya. Ini yang disebut Mark sebagai paradoks kemajuan.

Di tengah paradoks kemajuan tersebut, Mark menekankan pentingnya kita memiliki harapan. Meski keadaan dunia kacau, setiap orang mesti punya harapan sebagai spirit menjalani kehidupan. Menurutnya, untuk membangun dan merawat harapan, kita butuh tiga hal: kesadaran akan kendali diri, kepercayaan akan nilai sesuatu, dan sebuah komunitas. “Kendali diri” berarti merasa memegang kendali atas hidup kita. “Nilai” artinya kita punya sesuatu yang penting untuk diperjuangkan. Adapun “komunitas” berarti kita merekat dan menjadi bagian dari sebuah kelompok yang sama-sama menghargai nilai-nilai yang kita pegang dan berjuang keras meraihnya.

Jangan mengejar kebahagiaan

Sepanjang sejarah, para psikolog lebih banyak berkutat pada hal-hal yang dianggap negatif: orang-orang gila, penyakit mental dan gangguan emosi. Baru pada 1980-an, psikologi mulai melirik “kebahagiaan”. Satu kenyataan menarik bahwa tak ada orang yang bahagia sepanjang waktu. Pun, tak ada yang sedih terus sepanjang waktu.

Mark menyuguhkan contoh survei para psikolog pada ratusan orang dari berbagai latar kehidupan. Mereka diberi pertanyaan: dalam skala 1-10, berapa level kebahagiaan Anda saat ini? Hasilnya: kelewat sering orang memberi nilai “7”. Orang mungkin akan sangat bahagia dalam momen-momen tertentu, namun tak lama akan kembali ke level “7”. Pun, orang mungkin jatuh dalam kubangan penderitaan yang dalam, namun tak lama kemudian akan kembali ke level “7”. Seperti apa pun kejadian eksternal menimpa, manusia akan hidup dalam kondisi pikiran yang konstan: merasa sedikit-tapi-tidak-teramat bahagia (level 7).

Sialnya, nilai “7” tersebut kerap mempermainkan kita lewat keinginan menambah level kebahagiaan. Betapa banyak orang berpikir, “Jika pindah bekerja di tempat itu, saya akan lebih bahagia”, “Andai gajiku naik sekian, pasti lebih bahagia”, “Jika bisa membeli barang itu, saya pasti akan bahagia”, dan seterusnya. Banyak orang selalu merasa kurang bahagia dan lupa mensyukuri keadaan.

Mark melihat, “pengejaran kebahagiaan” sering melempar kita pada nihilisme. Kita dibelenggu mentalitas kekanak-kanakan: hasrat tanpa tepi untuk terus meminta lebih, dahaga yang tak terpuaskan. Itulah akar dari korupsi, kecanduan, kehinaan, dan pembusukan. Mark berkesimpulan, mengejar kebahagiaan itu menyesatkan. “Dengan mengejar kebahagiaan, Anda secara paradoks justru membuatnya susah diraih,” tulis Mark (hlm 231).

Hidup dengan baik bukan berarti terus bahagia. Seperti kata para filsuf, Plato, Aristoteles, dan Stoik, hidup bukanlah tentang kebahagiaan, tetapi tentang karakter: menumbuhkan kemampuan menanggung derita dan berkorban secara tepat. Karena penderitaan itu konstanta universal kehidupan, peluang untuk berkembang dari penderitaan itu bersifat konstan pula. Ketika kita berani menanggung derita, kita akan menemukan nilai dan makna di dalamnya.

Kebebasan yang menyandera

Selain mengejar kebahagiaan, masalah manusia modern adalah keinginan merasakan kebebasan atau kemerdekaan. Padahal “kemerdekaan” itu sebenarnya palsu belaka. Seperti “mengejar kebahagiaan” yang menjauhkan kita dari kedewasaan, “kemerdekaan palsu” juga sama: membikin kita tetap bermental kekanak-kanakan.

Kemerdekaan palsu dibangun dari konsumerisme yang membuat orang gampang terobsesi kenyamanan dan kenikmatan. Orang menjadi rapuh dan gampang mencandu. Sebentar-sebentar memeriksa pesan, email, Instagram, Youtube, Netflix, dan seterusnya. Bagi Mark, perilaku kompulsif bertujuan mengalami “lebih banyak hal” tersebut sejatinya bukan bentuk “kemerdekaan”, tapi sebaliknya: menyandera kita. Mark berkesimpulan, bentuk paling sejati dan paling etis dari kemerdekaan justru adalah pembatasan-diri (self limitation) (hlm 275).

Argumen-argumen Mark bagai roller coaster, membawa pikiran dan perasaan pembaca naik turun. Kadang kita diajak terbang tinggi dengan optimisme, namun tiba-tiba dibanting kembali ke jurang kehampaan lewat kenyataan-kenyataan pahit kehidupan. Mark pun mengakui, ajakan mencari dan merawat harapan pun tak menjamin segalanya bakal beres. Tapi setidaknya, perjuangan hidup ini menjadi lebih bermakna dan bernilai.

Meski disampaikan secara kejam dan terkesan urakan, muara dari tiap poin yang dipaparkan Mark adalah nilai-nilai luhur kehidupan: kejujuran, keikhlasan, keberanian menanggung penderitaan (jalan kedewasaan), kesadaran untuk tahu batasan (kesederhanaan), dan rasa syukur.

Ini bukan buku kiat-kiat menemukan harapan, apalagi kebahagiaan. Mark “hanya” membedah dan menyelami dimensi, faktor, dan lapisan harapan, pemaknaan atas kondisi kehidupan, serta menyuguhkan sudut pandang khas-nya: berani, realistis, berbeda, kadang terasa lucu dan subjektif namun menghujam pikiran dan perasaan. Setelah menelusurinya, kita bisa menilai dan menentukan sikap. Setidaknya untuk mulai memperbaiki diri sendiri dan membuat dunia di sekitar kita menjadi sedikit lebih baik. Ya, sedikit saja, dan itu sudah sangat bermakna.

3
Al Mahfud
Penikmat buku dari Pati. Menulis artikel, esai, dan ulasan buku di berbagai media.