Sekelumit Catatan di Masa Pandemi Covid-19

Selama pandemi Covid-19 melanda negeri ini, keramaian di kampung saya semakin meningkat. Setelah keramaian pos ronda yang pada akhirnya menjadi pusat aktivitas masyarakat, kini keramaian hinggap di ladang tebu yang baru saja dipanen. Satu hektar kebun tebu yang terbentang di sebelah barat pos ronda menjadi pusat aktivitas baru di sore hari. Jika kemarin-kemarin banyak orang yang sibuk menggeluti aktivitas bersepeda di sore hari, kebiasaan itu digeser dengan bermain layang-layang.

Anak-anak yang sempat merengek minta dibelikan sepeda sudah berganti minta dibelikan layang-layang. Bagi mereka yang beruntung, mereka bisa mendapatkan dua-duanya. Sepeda dan layang-layang. Tetapi bagi mereka yang kurang beruntung harus puas dengan sepeda lama yang mereka miliki dan membuat layang-layang sendiri.

Anak-anak bersepeda tidak lagi seramai sebelumnya. Di kampung saya, anak-anak mulai terjun ke ladang tebu yang baru saja dipanen dan menerbangkan layang-layang mereka di sana. Berbeda dengan musim layang-layang di tahun sebelumnya, ladang tebu itu dibiarkan kosong karena hanya empat atau lima anak yang menikmati musim layang-layang. Tapi musim layang-layang kali ini, ladang tebu itu mendadak ramai bahkan menjadi pusat bermain layang-layang. Banyak anak dari desa tetangga singgah ke sana dan menerbangkan layang-layang mereka di ladang tebu itu.

Wussshhh! Wusssh! Angin bertiup kencang dan kaki-kaki kecil berlari berusaha menerbangkan layang-layang yang mereka bawa. Suasana semakin meriah ketika akhirnya bukan anak-anak saja yang turun ke ladang bermain layang-layang. Orang-orang dewasa, laki-laki maupun perempuan akhirnya ikut turun ke ladang dan menikmati senja dengan menerbangkan layang-layang.

Kreativitas di Balik Layang-layang

Setelah beberapa hari menonton pemain layang-layang di ladang tebu, akhirnya tangan saya mulai gatal. Oh ya, musim layang-layang kali ini menjadi semakin meriah karena bukan hanya banyak pemain layang-layang, tetapi mereka yang tidak ingin bermain juga menonton dari tepi ladang. Dan ya, mereka ikut bersorak-sorai seperti sedang menonton bola di lapangan. Mereka tim hore yang ikut menyemarakkan musim layang-layang mesikpun setiap sore hanya hadir untuk menonton. Tapi saya akui, itu membuat musim layang-layang kali ini menjadi semakin meriah.

Oke, kembali lagi pada layang-layang dan segenap kreativitas di baliknya. Bagi saya pribadi, layang-layang bukan hal yang asing karena sejak kecil terbiasa menerbangkan layang-layang. Saya dan teman-teman semasa kecil juga terkadang memilih membuat daripada harus membeli. Nah, di musim layang-layang kali ini, saya kembali memutuskan bergabung di ladang tebu untuk menguji kemahiran saya menerbangkan layang-layang.

Awalnya, saya sempat khawatir lupa cara menerbangkan layang-layang. Sebab, menerbangkan layang-layang itu tidak bisa sembarangan. Tidak asal ada angin lalu layang-layangnya dilepas untuk terbang begitu saja. Butuh kemahiran untuk menarik dan mengulur senar layang-layang. Terlebih jika layang-layang itu sendiri tidak terlalu seimbang. Si pemain harus pandai mengulur dan menarik supaya layang-layang itu bisa seimbang di tengah angin yang bertiup, lalu mengulur lagi supaya layang-layang itu bersedia naik lebih tinggi. Intinya, tidak bisa diburu-buru karena ada jenis layang-layang yang harus naik perlahan untuk menyeimbangkan dan menyesuaikan tiupan angin.

Di satu siang, bersama dua bocah laki-laki yang masih duduk di bangku SD, saya memutuskan untuk membuat layang-layang bersama mereka untuk diterbangkan sore harinya. Layang-layang yang kami buat adalah layang-layang plastik yang memang saat ini sedang musim. Layang-layang itu kami desain seperti berudu. Dengan kepala bulat dan ekor yang Panjang. Ukurannya pun lumayan besar. Satu layang-layang lagi berukuran sedang dengan desain burung.

Di sinilah kreativitas di balik layang-layang dimulai. Kemahiran masa kecil saya dalam membuat dan menerbangkan layang-layang kembali diuji. Setelah memilih buluh bambu dan menimbangnya sampai seimbang, barulah kami membentuk kerangka. Saya merasa sangat beruntung; membuat layang-layang sampai kemudian menerbangkannya dengan dua bocah SD yang memang sudah mahir. Kerja sama yang sempurna!

Saya mengikuti cara mereka menimbang buluh bambu. Dan, ternyata masih sama seperti pengalaman ketika saya kecil. Buluh bambu yang sudah dibersihkan dan dibentuk dengan ukuran tipis diletakkan di atas jari telunjuk. Jika buluh bambu itu sudah tenang dan tidak miring-miring lagi, maka bisa dikatakan bahwa buluh bambu itu sudah seimbang. Selanjutnya, kami bersama-sama menentukan ketebalan plastik yang akan digunakan untuk menutup kerangka. Kami tidak bisa menggunakan plastik yang terlalu tebal tentu saja. Plastik tipis menjadi pilihan kami karena itu lebih aman dan sesuai dengan besar kerangka yang kami buat. Jika plastik terlalu tebal dengan kerangka yang tidak terlalu besar, dikhawatirkan layang-layang menjadi terlalu berat dan butuh angin yang lebih besar untuk terbang.

Oke, layang-layang kami sudah siap!

Penerbangan Pertama

Bersama dua bocah SD tadi, saya akhirnya turun ke ladang tebu sekitar pukul 4 sore. Angin berhembus cukup kencang. Satu per satu pemain layang-layang mulai berdatangan. Sore itu, kami menerbangkan tiga layang-layang. Layang-layang pertama berbentuk burung yang bisa saya katakan sangat seimbang sehingga ia cukup mudah untuk diterbangkan. Saat senar diulur sampai hampir 50 meter lebih pun, ia masih tenang di atas. Jika sudah tenang begini, saya berani melepasnya dan menerbangkan satu layang-layang berbentuk berudu.

Layang-layang berudu ini tidak cukup imbang. Buluh bambu di punggungnya kurang tebal sehingga beberapa kali ia harus nyungsep ke tanah. Dua bocah ini bahkan sempat putus asa dan akhirnya membuang layang-layang itu setelah sekian kali jatuh. Saya jelas tak bisa diam. Layang-layang itu sudah kami buat bersama. Ia harus terbang, pikir saya.

Saya pun berinisitaif mengambilnya dan mencoba menerbangkannya lagi. Saya meminta satu bocah SD ini memegang gulungan senar, sementara saya akan memegang bagian senar yang sudah terulur, dan satu bocah lagi saya minta memegang layang-layang untuk kemudian diterbangkan.

“Oke, kita harus santai, soalnya layang-layang ini terlalu ringan di bagian punggungnya. Pelan-pelan saja, biar menyesuaikan dengan laju angin!” ucap saya memberi aba-aba.

Saya pun dengan santai dan pelan menarik dan mengulur layang-layang tersebut sampai akhirnya ia bisa membubung tinggi ke angkasa.

“Mbak, terbang, Mbak!” teriak anak-anak itu girang.

“Kan udah kubilang, layang-layangmu bakal terbang, tapi memang harus pelan-pelan naiknya!” kami bertiga pun saling tos.

Saat kami sudah sedikit santai, seorang anak laki-laki SMP datang merapat dan mencoba menerbangkan layang-layangnya yang cukup besar. Layang-layangnya tidak menggunakan senar, melainkan tali tambang yang berukuran kecil. Awalnya kami memperhatikan karena ia mencoba menerbangkan dengan ayahnya. Setelah kami hanya duduk mengamati, kami menyimpulkan bahwa mereka kurang mahir untuk menerbangkan layang-layang. Merasa gemas, akhirnya saya dan satu bocah SD ini turun tangan untuk menerbangkan layang-layang itu.

“Jo, layang-layangnya sama kayak punyamu. Harus pelan-pelan naiknya! Oke?!”

Saya dan Juan–nama bocah SD ini–kemudian mengambil alih untuk menerbangkan layang-layang milik anak lelaki SMP itu. Teknik yang sama kami gunakan seperti ketika kami menerbangkan layang-layang berudu yang tadi sempat ogah-ogahan untuk terbang.

“Santai, Jo!” aba-aba saya lagi.

Pelan, diulur, ditarik lagi, diulur lagi, akhirnya layang-layang milik anak SMP ini bersedia naik dan melenggang bersama dua layang-layang lain yang sudah naik lebih dulu.

Kejahatan di Balik Permainan Layang-layang

Senja semakin matang. Layang-layang yang naik pun semakin banyak. Beraneka warna dan bentuk melenggang di angkasa. Matahari kian matang di ufuk barat memberi kesan jingga dan kehangatan. Layang-layang itu semakin melenggang santai di angkasa. Mulai dari layang-layang berbentuk burung, lampion, kapal, berudu, cacing, wajah hantu, semua menyemarakkan sore di ladang tebu.

Semakin ramai layang-layang, maka semakin dekat pula dengan kejahatan. Kejahatan? Iya, kejahatan. Semasa saya kecil, setiap kali ada layang-layang milik orang tak dikenal mendekati layang-layang saya, saya tidak akan ragu untuk berperang senar dan memutus layang-layang yang dekat-dekat dengan layang-layang saya.

Entah kenapa, keinginan jahat itu kembali muncul ketika ada dua buah layang-layang–entah milik siapa–mendekat ke layang-layang saya. Saya pun berpikir untuk menyerang layang-layang tersebut. Saya yakin senar layangan saya cukup tajam karena sudah membuat jari-jari saya berdarah dan telapak tangan saya perih. Pertama, layang-layang cacing itu mendekat dan sudah saya peringatkan untuk tidak dekat-dekat. Sebab, jika di atas senar ketemu senar bisa saja saling bertautan dan akan bergulung kemudian–istilah bahasa Jawanya bundet.

Sayangnya pemilik layang-layang itu seperti sengaja ingin mengacaukan layang-layang milik saya. Oke, saya tunjukkan kebolehan saya bermain layang-layang. Saya biarkan layang-layang itu dekat-dekat dengan saya dan ketika senar kami saling bersentuhan, segera senar milik saya, saya tarik supaya kencang di atas. Sambil terus saya tarik, sambil saya mainkan tarik ulur-tarik ulur, sebelum ia sempat melawan, putuslah senar layangan miliknya. Layang-layang cacing itu terjun bebas kemudian. Entah kenapa, ada kepuasan tersendiri dalam hati. Dua bocah SD yang sejak tadi bersama saya berteriak kegirangan.

Layang-layang kedua yang mengacau layang-layang saya adalah layangan kapal. Layang-layang itu memang sudah berat sebelah. Setiap kali naik selalu oleng ke kanan. Saya berteriak supaya pemiliknya memperbaiki layang-layangnya. Setelah beberapa kali tak diindahkan, saat beberapa kali pula, layang-layang mereka hampir menghantam milik saya, saya mulai mengatur strategi. Senar layang-layang saya tarik dan kencangkan untuk melawan layang-layang kapal itu. Sayangnya, aksi jahat saya ini diketahui pemiliknya dan ia pun memilih membawa layangannya jauh-jauh dari sana. Saya kembali tertawa!

Di sinilah saya meyakini, selalu ada kesenangan-kesenangan kecil di tengah wabah ini. Bahkan setelah kejahatan-kejahatan di balik permainan layang-layang ini, tak ada permusuhan di antara kami. Di senja berikutnya, kami kembali bermain layang-layang bersama dan menjadi teman.

4
Weda S. Atmanegara
Weda S. Atmanegara, penulis kelahiran Klaten, 20 Juli 1994. Pernah mengenyam pendidikan Sastra Indonesia, Universitas Negeri Yogyakarta. Suka mengamati hal apa pun karena dari sana ide menulis itu lahir.