Judul                : Seks, Tuhan, dan Negara

Penulis             : Soe Tjin Marching

Penerbit           : Global Indo Kreatif

Tahun               : Juni 2020

ISBN                  : 978-623-93346-2-8

Seks bukanlah sesuatu yang sederhana, tak sebatas persoalan perbedaan jenis kelamin laki-laki dan perempuan. Seks dalam tataran lebih jauh bisa menjadi sangat rumit. Realitas seks berhubungan erat dengan negara dan agama. Yang pertama dengan cara memanfaatkan kekuasaan, dan yang kedua melalui dogma. Namun, pemanfaatan ini sama sekali tidak terpisah. Keduanya, atas nama moralitas, kemudian mengatur persoalan seks. Dan bagi Soe Tjen Marching (STM) dalam bukunya berjudul Seks, Tuhan, dan Negara, yang sering dirugikan dalam konteks ini adalah perempuan.

Buku tersebut adalah himpunan respons STM terhadap masalah seks yang tersebar di berbagai media baik cetak maupun daring dari rentang tahun 2001 sampai 2020. Sebagai sekumpulan tulisan, buku ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu Seks dan Gender, Negara dan Kekuasaan, dan Tuhan, Dogma, Agama. Sebelum membacanya, timbul kesan akan ada parade tulisan yang menekankan seks yang berhubungan negara dan agama. Tetapi, itu tidak terjadi sepenuhnya sepanjang tulisan. Sebab, penulis membahas persoalan lain, yang juga penting, seperti pembunuhan massal yang terjadi pada 1965 dalam konteks mutakhir. Barangkali ini konsekuensi jika berbagai macam tulisan dihimpun-jadikan satu. Namun, pendapatnya tentang hubungan seks, negara dan agama tetap menarik untuk disimak. Dengan nada cukup tegas, juga kadang-kadang keras, seperti dalam kata pengantarnya, penulis mencoba melawan berbagai propaganda dan dogma.

Di bagian pertama, Seks dan Gender, STM menekankan pentingnya pendidikan seks bagi masyarakat. Pernyataan klise tentang seks adalah tabu memang masih jadi persoalan, dan masyarakat belum sadar sepenuhnya bahwa keterbukaan seks merupakan sesuatu yang penting. Misalnya, dalam Make War, Not Love (hal. 63), STM mengkritisi orang tua yang membiarkan anak-anaknya menonton tayangan penuh kekerasan dan kekejaman tetapi segera mengawasi dan bahkan menyuruh tidur ketika menonton film yang dianggap mereka membicarakan seks secara vulgar. Kejahatan seksual justru terjadi karena berbagai bentuk pengekangan baik dari orang tua maupun negara yang suka ikut campur ke ranah privat ini.

Dari berbagai persoalan seks, perempuanlah yang menjadi korban. Mereka dituduh sebagai biang keladi. Mereka berada pada posisi objek. Dalam posisi itu tentu ada pihak yang berkuasa mengatur standar-standar yang layak bagi kehidupan seksual. Tulisan Mengharukan, Pemerkosa Nikahi Korban (hal. 81) setidaknya menunjukkan hal tersebut. Pihak korban justru meminta pemerkosa menikahi korban. Dengan begitu masalah dianggap selesai. Padahal, boleh jadi pemerkosaan atau pemaksaan juga terjadi dalam hubungan pernikahan. STM juga menyoal RUU Anti Pronografi (hal. 18) yang justru dianggap akan memicu kekerasan seksual.

Orientasi seksual juga tak luput dari bagian ini. Homoseksual dan lesbian atau LGBT sering dianggap menjadi masalah yang membahayakan moral bangsa. Mereka terpinggirkan karena stigma-stigma. Hal ini karena pandangan heteroseksual lebih dominan sehingga menciptakan persepsi bahwa membangun keluarga lebih penting daripada menghargai manusia (hal. 69). Ketimpangan pandangan masyarakat dan negara tampak di sini. Pernyataan yang menarik dari STM adalah bahwa amoralitas tidak hanya disebabkan oleh mereka yang berorientasi LGBT, tetapi sangat mungkin melibatkan siapa saja yang heteroseksual. Tuduhan masyarakat hanya terjebak dalam orientasi seksual yang arti sempitnya sebagai LGBT.

Di bagian Negara dan Kekuasaan, STM menyatakan secara tegas bahwa ia tidak percaya lagi moralitas di Indonesia. Pernyataan tersebut muncul dalam pembahasan kembali RUU Anti Pornografi. Baginya moralitas bukan milik rakyat Indonesia, tetapi milik orang-orang tertentu yang berkuasa. Atas nama moralitas, negara sewenang-wenang dalam membuat aturan. Moralitas melihat perbedaan untuk dicaci maki, bahwa mereka yang paling baik dan benar, sementara yang lain sebaliknya. Seks, negara, dan kekuasaan kemudian membentuk sistem yang absolut (tak dapat dipertanyakan) yang cenderung merugikan kaum perempuan.

Selanjutnya ia juga menyoal peristiwa berdarah 1965. Mulai dari bagaimana pembunuhan massal itu dianggap pembelaan atas nama bangsa dan negara (hal. 154), upaya rekonsiliasi yang berujung buntu, pembenaran pemutaran film Pengkhianatan G30S/PKI, sampai masih mandegnya penyelesaian kasus-kasus pelanggaran HAM oleh pemerintah hingga saat ini.

Di bagian Tuhan, Dogma, Agama, STM dalam salah satu tulisannya merespons fenomena aborsi. Pilihan antara membesarkan bayi dengan menanggung semua biaya dan nista bagi diri sendiri dan anaknya, bahkan keluarga perempuan dan melenyapkan bayi diam-diam dan mencoba mengubur semua rahasia seperti memakan buah simalakama. STM sendiri tidak menganjurkan perempuan yang hamil di luar nikah untuk aborsi, melainkan menganjurkan agar masyarakat tidak menghujat perempuan yang hendak melakukan aborsi sehingga mereka dapat melakukannya secara aman dan tak terbebani. Dengan kata lain, ia tidak pro aborsi tetapi mendukung kebebasan perempuan menentukan nasibnya sendiri (hal. 218).

Pernyataan terakhir di atas tampak menjadi prinsip dasar argumen STM. Ia sering merespons masalah dengan cara menampilkan masalah yang lebih besar dan urgent. Misalnya, di saat orang-orang menghakimi dan merasa jijik kepada pelacur, hal yang lebih penting adalah mencermati akar masalah ketimpangan ekonomi dan ruang seksual gelap yang dikuasai oleh pejabat, sementara masyarakat dibatasi rasa ingin tahunya terhadap seks. Lagi-lagi perempuan jadi korban. Ia dengan tegas menyatakan sudah saatnya perempuan bicara akan tubuh mereka sendiri (hal. 52). Tidak ada dikte kekuasaan atau atas nama moral dan Tuhan. Baginya feminisme bukanlah berbagai macam keharusan, ia justru membuka kesempatan dan kebebasan.

5
R. Ari Nugroho
R. Ari Nugroho lahir di Magelang. Domisili di Seyegan, Sleman. Bergiat di Kelompok Belajar Sastra Jejak Imaji dan Editor di Jejak Pustaka. FB: R Ari Nugroho, IG: r_ari.nugroho