Ketika berbicara Palestina, pikiran kita pasti tertuju pada perang, konflik berkepanjangan, ledakan bom, dan tembak menembak yang memakan banyak korban. Tapi lewat cerpen Nassar Ibrahim yang berjudul Sepatu, kita diperlihatkan perang dari sisi yang berbeda. Cerpen ini tidak bercerita tentang perang yang biasanya digambarkan dengan tembak menembak, bunuh-membunuh, dan bom-bom yang jatuh menimpa rumah-rumah warga. Namun dengan teknik zoom-in, perang dibidik ke arah lebih privat, pada konflik yang terjadi antarindividu. Bahkan jauh lebih ke dalam lagi, konflik batin seseorang.

Cerpen karya Nassar Ibrahim ini pernah terbit di Koran Tempo dalam bentuk terjemahan, diterjemahkan oleh Dyah Setyowati Anggrahita, pada Oktober 2015 (Klik di sini bagi yang tertarik membaca cerpen “Sepatu”). Sudah lama memang, tapi saya baru juga membacanya. Sebuah cerita yang bagus adalah cerita yang mampu membawa pembacanya masuk ke alam yang diciptakan penulis. Menjembatani jarak pengalaman yang mungkin ada antara pembaca dan penulis. Dan cerpen berjudul Sepatu ini mampu melakukan itu.

Cerpen ini bercerita tentang seorang warga Palestina yang menempuh berbagai pos-pos pemeriksaan militer demi keinginannya menuju Ramallah. Penulis sedari awal tidak menjelaskan apa tujuan dari tokoh protagonis, Nizar, ingin ke Ramallah. Namun di tengah gejolak batin antara memilih pergi dengan risiko mati atau berdiam diri kehilangan tujuan hidup, Nizar memilih pergi. Sedari awal tidak ada detail informasi tujuan Nizar ke Ramallah yang mustahil ditempuh tanpa surat izin dari negara. Hanya sebuah frasa urusan penting yang menjadi bekal pembaca untuk terus mengikuti perjalanan. Namun, itu yang justru membuatnya menarik.

Dalam perjalanannya, penulis membawa kita melihat tragedi yang menimpa masyarakat Palestina yang ia temui di perjalanan. Lewat perubahan gaya bahasa dari simile ke metafora, sense of tragedy itu ditingkatkan tanpa perlu memberi efek berlebih-lebihan seperti ketika seorang penulis menggunakan hiperbola. Dengan menggunakan simile untuk membandingkan warga Palestina dengan koloni semut.

Mereka bagaikan sebuah koloni semut yang mendapatkan jalan keluar, solusi, saat rumah dan jalanan mereka dihancurkan. Mereka cerdik dalam menghindar, menyesuaikan diri, dan bertahan.”

Mereka yang dimaksud penulis pada teks itu adalah warga Palestina yang kehilangan rumah. Penulis awalnya menggunakan simile, mengumpamakan manusia seperti koloni semut yang hidup berpindah-pindah tanpa rumah yang tetap. Dengan menggunakan kata penghubung ‘bagaikan’, penulis masih meninggalkan jejak sifat-sifat kemanusiaan dari warga Palestina.

Dalam teks-teks selanjutnya, kata penghubung ini dihilangkan, dan lewat metafora semut, hal-hal yang membedakan topik dan wahana ini semakin pudar, menjadi semakin samar. Dari seperti semut menjadi semut. Orang-orang Palestina ini benar-benar berubah menjadi semut dan mulai kehilangan sifat-sifat kemanusiaan mereka. Manusia dan semut mulai terlihat tiada beda. Penulis kemudian tidak lagi menyebut orang-orang Palestina ini sebagai orang, tapi menyebut mereka sebagai semut.

Selama berhari-hari, semut-semut ini menggali dengan tangan dan kaki mereka yang mungil, mengangkut butiran tanah ke tempat-tempat yang jauh sekali. Mereka membuat lubang yang sangat kecil tapi cukup. Mereka akan meneruskan perjalanan seakan tidak ada kejadian apa-apa. Boleh jadi sebentar kemudian, sengaja atau tidak, salah seorang dari mereka akan meruntuhkan lubang itu.  Semut-semut pun berhenti, menggerak-gerakkan antena mereka dengan gelisah, melihat keributan yang terjadi, merubunginya, lalu meroyakinya lagi dan mulai bekerja.

Sekelompok manusia dalam konflik berkepanjangan ini direduksi menjadi koloni semut untuk memberikan sebuah gambaran tentang penderitaan, sebuah tragedi. Hidup mereka, orang-orang Palestina ini, terdegradasi menjadi koloni semut yang disebabkan konflik tiada henti. Mereka dipaksa membangun tenda-tenda pengungsian kecil hanya untuk kemudian dihancurkan seperti halnya koloni semut yang bersarang di rumah manusia.

Kamu pasti sering melihat semut membuat sarang di rumahmu. Kamu merasa terganggu oleh kotoran yang ditimbulkannya pada propertimu, membuatmu merasa boleh menyiramnya dengan minyak tanah, menghancurkan rumah-rumah sementara mereka. Kamu merasa bahwa mereka hanya serangga kecil yang mengusik kehidupanmu. Dengan semudah itu, seperti halnya rumah-rumah semut, tenda-tenda pengungsian milik pengungsi Palestina ini dihancurkan.

Kamu juga pasti pernah merasa terganggu saat semut-semut ini datang ke meja makanmu, mengerubungi makananmu, membuatmu kesal dengan serangga kecil ini. Kemudian kamu menyemprotkannya dengan obat serangga agar mereka mati. Kamu merasa berhak melakukan itu karena kamu adalah manusia, makhluk paling mulia, dan mereka hanyalah serangga.

Tidak hanya semut, para pengungsi Palestina ini bahkan direduksi juga menjadi gundukan hitam kecil yang kotor untuk lagi-lagi, meningkatkan sense of tragedy.

Di jalanan berlumpur, orang-orang terlihat seperti gundukan hitam kecil, bergerak berurutan. Sekumpulan manusia itu berjalan terpincang-picang, berhenti, berjalan maju, lalu mundur. Mereka akan menempuh apa pun untuk mencapai tujuan mereka.”

Seperti sebelumnya, penulis memulai dengan gaya bahasa simile sebelum menggantinya menjadi metafora. Bersamaan dengan dihilangkan penghubung ‘seperti’, sisa-sisa kemanusiaan dari warga Palestina direduksi menjadi sebuah benda yang kotor. Nyaris tidak tersisa sifat-sifat kemanusiaan dalam diri mereka, hanya sebuah gundukan hitam yang kotor.

Bungkalan-bungkalan hitam itu terhenti, memandangi, dan berpaling pada diri mereka sendiri, pada penderitaan mereka, pada keringat dan air mata mereka. Namun lagi-lagi menemukan jalan yang baru, membuatnya, menjumpainya, dan melanjutkan dengan kekeraskepalaan mereka yang abadi.

Tragedi digambarkan lewat kias untuk mengaburkan fakta. Sastra dapat mengubah fakta menjadi fiksi; sesuatu yang benar-benar terjadi dan ditangkap penulis dibuat menjadi cerita dengan penggunaan simbol yang menarik juga menggelitik. Motif Nizar yang tidak diketahui menuju Ramallah, membuat kita berpikir tentang sebuah tujuan besar dalam diri Tokoh Nizar yang rela mempertaruhkan nyawa hanya untuk tiba di Ramallah.

Diceritakan kemudian bagaimana ia mengelak dan mendesak, numpang dari mobil ke mobil, melewati bukit pindah ke gunung, tiba di pos pemeriksaan yang satu ke pos pemeriksaan yang lain, hingga akhirnya Nizar tiba pada pos pemeriksaan terakhir. Ramallah, kota yang dituju telah ada di depan matanya.

Bersama ribuan pengungsi lainnya; wanita, anak-anak, laki-laki, tua dan muda, pedagang, pelajar, Nizar dihentikan dan tidak diberi izin lewat karena tidak memiliki surat izin dari negara. Tapi Nizar yang keras kepala rela melakukan apa pun juga hanya untuk tiba di Ramallah, demi sebuah urusan genting yang harus ia selesaikan. Lagi-lagi penekanan pada urusan penting.

Tanpa izin semua itu mustahil. Namun karena kengototannya, membuat para tentara Israel yang berjaga menjadi penasaran dan berniat mengerjainya. Ia diberikan syarat-syarat yang berat, lebih berat, amat berat, yang mungkin hanya orang gila yang mau melakukannya.

Pertama, ia disuruh membuang topinya di bawah terik matahari yang panas bukan main. Ia bersedia. Kedua, ia diminta melepaskan sepatu untuk melanjutkan perjalan ke Ramallah dengan resiko panas pasir dan batu serta pecahan kaca mengoyak kakinya. Ia bersedia.

Ketika berpikir semua syarat terpenuhi, ia gegas berjalan, tetapi tentara-tentara itu memanggilnya dan meminta syarat ketiga, membawakan segelas teh. Lagi-lagi ia bersedia. Setelah mendapatkan segelas teh yang diberikan langsung kepada tentara yang segera menyeruputnya, ia melanjutkan perjalanan ke Ramallah.

Klimaks dari cerita ini adalah ketika penulis berhasil menipu para pembacanya setelah diungkapnya ternyata urusan penting Nizar itu tidak lain hanya untuk bisa lewat pos penjagaan. Sesuatu yang mungkin bagi banyak orang amat sangat tidak penting. Tapi bagi Nizar, seorang warga Palestina yang telah kehilangan segalanya, itu adalah sebuah simbol kemenangan.

Bagi orang-orang yang hidup dalam represi yang mana bahkan hak untuk bepergian dibatasi, bisa melewati pos-pos penjagaan tanpa surat izin adalah sebuah kemenangan perang. Mereka yang telah kalah dalam perang skala besar, kehilangan segala hak paling fundamental sebagai manusia, membutuhkan suatu pegangan untuk tetap bisa melanjutkan hidup. Karena tidak mungkin memenangkan perang senjata, Nizar memilih perangnya sendiri–melewati pos-pos penjagaan.

Setelah klimaks, penulis dengan cerdas menutup cerita ini dengan memberikan sebuah gambaran detail yang sederhana, bagaimana sebuah konflik itu terjadi dan akan terus terulang. Penulis memperlihatkan bagaimana sebuah konflik yang dekat tidak melibatkan skala besar seperti perbedaan agama, ras, dan kewarganegaraan, melainkan karena hal sepele, rasa saling tidak percaya antarindividu yang dipupuk dan terus menggelembung menjadi dendam.

Sekembalinya dari Ramallah dengan bertelanjang kaki, Nizar kembali ke pos penjagaan untuk mengambil sepatu dan identitasnya yang dititipkan pada para tentara. Di sana ia merasa ada yang aneh dari sepatunya. Ketika memakainya ada cairan kuning hangat menggenangi sepatunya. Tentara-tentara itu tertawa-tawa melihat tingkah Nizar yang terkejut dengan cairan kuning yang mengisi sepatunya.

Setelah membuang cairan kuning dari sepatunya, Nizar berjalan pulang tanpa ragu. Tiga langkah, ia berhenti, berbalik membuat para tentara terkejut. “Satu kata terakhir,” ucapnya tegas, “yang ingin kusampaikan padamu. Selama kau terus mengencingi sepatu kami dan kami mengencingi tehmu, tidak akan ada perdamaian antara kita. Mengerti?”

Jika ditanya bagaimana menilai suatu cerpen itu bagus? Saya mungkin bingung menjawabnya karena pertanyaan itu mungkin memiliki ribuan jawaban yang berbeda bagi masing-masing pembaca. Bagus tidaknya suatu karya tidak terlepas dari selera pembaca. Tapi satu hal yang bisa menjadi tolok ukur universal dalam menilai sebuah karya–terutama cerpen yang tidak sampai lima belas menit dibaca–-adalah jika ia bisa memberikan efek yang tidak selesai begitu selesai dibaca. Cerpen ini menyisakan pengalaman yang tidak akan selesai dalam lima belas menit-an pembacaan, pengalaman yang tidak akan selesai dalam sekali duduk.

8
Aliurridha
Peneliti bahasa dan penerjemah lepas. Sehari-harinya lebih banyak diisi dengan menulis esai, cerpen, dan cerita horor. Karyanya tersebar di beberapa media. Aktif berkegiatan dalam komunitas Akarpohon. Tinggal di Gunungsari, Lombok Barat.