Antara tahun 2012-2013 (saya lupa tahun pastinya), Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mengadakan seminar kebahasaan yang diselenggarakan di Auditorium UNY. Saat itu, saya dan beberapa kawan sama-sama memutuskan untuk mengikuti seminar tersebut. Jadilah kami bagian dari ratusan peserta di gedung itu: para mahasiswa bahasa yang ingin menyerap ilmu dari dua begawan sastra (Indonesia), Ajip Rosidi dan Prof. Suminto A. Sayuti.

Sebetulnya, ada beberapa hal yang membuat kami tertarik untuk menghadiri seminar itu. Pertama, sertifikat, yang berguna untuk syarat kelulusan kami beberapa waktu kemudian. Kedua, salah satu narasumber pada acara tersebut adalah Pak Minto atau Prof. Suminto.

Beliau dosen sastra favorit kami, yang selain humoris (tapi sangat galak jika tengah marah), juga membuat suasana kelas menjadi hidup. Pak Minto juga mahir menjelaskan teori-teori kesusastraan dengan analogi-analogi sederhana yang dekat dan mudah dicerna. Ketiga, karena pembicara lainnya adalah Ajip Rosidi. Saya rasa hanya mahasiswa sastra Indonesia yang salah jurusan dan tak berminat pada buku yang tidak mengenalnya.

Ketika acara dimulai, segalanya berlangsung lancar. Pak Minto mendapat giliran lebih awal untuk sampaikan materi. Dan seingat saya, materi beliau tidaklah berpanjang lebar. Saya melihatnya sebagai bentuk penghormatan kepada Ajip Rosidi yang diakui sebagai gurunya pula.

Dan ketika gilirannya selesai, tibalah saatnya Ajip bicara. Tapi yang kami harapkan, ternyata sangat jauh dari ekspektasi. Ia bicara seperti orang tua yang sedang memimpin tahlilan. Suaranya begitu lirih dan kurang jelas. Ajip juga menyampaikan materi dengan membaca makalah yang sebelumnya sudah dibagikan panitia kepada kami. Keadaan demikian berlanjut hingga sesi tanya-jawab. Uniknya, pada saat sesi ini—pada saat giliran Ajip menjawab—listrik gedung tiba-tiba mati, tetapi Ajip terus saja asyik menjawab pertanyaan salah satu peserta, seolah-olah ia hanya bermonolog tanpa menyadari kondisi yang terjadi.

Saya sama sekali tidak mengetahui kepribadian Ajip, tetapi mungkin—dan tentu saja ini hanya asumsi pribadi yang berpotensi salah—saat itu ia sedikit kesal, karena pada saat ia “membacakan” makalahnya, sebagian besar peserta hanya mengobrol dengan kawan-kawan di sebelahnya. Auditorium yang lumayan besar itu hanya riuh dengan suara-suara percakapan kecil. Ditambah lagi dengan fungsi sarana yang menghambat jalannya seminar (listrik mati).

Meskipun demikian, materi yang dibagikan dalam makalah itu sangatlah berbobot. Seperti biasa, Ajip selalu mampu melihat permasalahan kebahasaan dengan jeli beserta solusi yang bernas dalam tulisannya.

Pada 26 Juli 2020, beredar kabar bahwa Ajip Rosidi dirawat intensif di RSUD Tidar Magelang, Jawa Tengah. Tiga hari sebelum itu, sang begawan tak sadarkan diri setelah jatuh di depan kamarnya. Setelah menjalani CT scan, Ajip ternyata mengalami perdarahan di otak dan harus menjalani operasi. Pada hari Rabu, 29 Juli 2020, sastrawan yang juga suami dari aktris senior Nani Wijaya itu pulang ke haribaan Tuhan. Masyarakat sastra Indonesia kembali berduka setelah kepergian sastrawan Sapardi Djoko Damono seminggu sebelumnya.

Ajip Rosidi pada tahun 1959. Sumber foto: jernih.co

Menulis sejak usia 12 dan nasihat Mochtar Lubis

Sastrawan yang lahir di Majalengka, 31 Januari 1938 ini sudah pandai dan gemar membaca sejak kelas satu Sekolah Rakyat. Ayahnya yang seorang guru Sekolah Rakyat memiliki banyak koleksi buku. Buku-buku cerita rakyat, yang berbahasa Sunda ataupun berbahasa Indonesia, sudah menjadi karibnya sepanjang hari. Dan ternyata hal itu tidak membuat Ajip puas.

Suatu hari, Ajip mendengar kabar bahwa sekitar 15 kilometer dari rumahnya, ada rumah seorang mantan menak Sunda (menak: priyayi) yang di dalamnya tersedia sejumlah buku dan majalah. Maka bersama kawan-kawannya, Ajip datang ke sana dan membaca buku-buku lama berbahasa Sunda. Semua dilahap habis olehnya.

Dibandingkan dengan sastrawan seangkatannya yang memulai karier kepengarangan pada tahun 1950-an, Ajip termasuk sastrawan yang terlalu muda jika dilihat dari usia kepengarangannya. Tulisannya dimuat dalam rubrik anak-anak surat kabar nasional Indonesia Raya beberapa kali, saat ia duduk di kelas 6 dalam usia 12 tahun. Surat kabar Indonesia Raya sendiri, salah satu penjaga gawang redaksinya adalah Mochtar Lubis, salah satu sastrawan Indonesia yang termasyhur dengan roman-romannya.

Dalam otobiografi yang ditulis Ajip sendiri, Hidup Tanpa Ijazah, Ajip menceritakan bagaimana keramahan Mochtar Lubis saat menyambut dan melayaninya.

“Kalau aku datang ke redaksi sk. Indonesia Raya, dan kalau kebetulan ia sedang senggang, Mochtar Lubis suka juga melayani aku. Dia waktu itu sedang menulis roman Senja di Jakarta. Menurut dia, roman itu dia tulis di tengah kesibukannya memimpin surat kabar yang antaranya setiap hari harus menulis Tajuk Rencana. Setiap hari dia tulis roman itu lima halaman,” tulis Ajip (hlm. 144).

Dari situ juga Ajip diberi wejang oleh Mochtar Lubis bagaimana mendisiplinkan diri. Nasihat yang saya rasa berlaku pula untuk semua orang yang memilih babak bundas di dunia kepengarangan.

“Harus disiplin. Hanya dengan begitu kita bisa berkarya secara berencana. Sayangnya para pengarang kita tidak suka mendisiplin dirinya sendiri,” demikian nasihat Mochtar Lubis.

Ajip menerima nasihat itu dan mencoba disiplin dalam menulis. Hanya saja, dalam otobiografinya ia mengaku bahwa cara demikian tidak cocok untuknya. Ajip menulis jika sedang ada dorongan untuk menulis. Karena dengan adanya dorongan, ia bisa menulis dengan cepat.

Pada tahun 1951-1953, Ajip memutuskan untuk lanjutkan pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Di masa-masa inilah produktivitas Ajip semakin kuat. Karya-karya Ajip, berupa prosa maupun puisi, dimuat dalam majalah sastra dan budaya, seperti majalah kebudayaan Indonesia, Mimbar Indonesia, Siasat, Zenith, Langkah Baru, yang di dalamnya sering muncul karya sastrawan angkatan sebelumnya. Anak SMP ini, pada masa itu namanya sudah berdampingan dengan pengarang-pengarang terkenal seperti Idrus, Pramoedya Ananta Toer, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Achdiat Karta Mihardja, Utuy Tatang Sontani atau Aoh Karta Hadimadja.

Tahun 1953-1955, Ajip diberi kepercayaan menjadi redaktur Suluh Peladjar, majalah pelajar yang saat itu tersebar hampir ke seluruh wilayah Indonesia. Ketika melanjutkan sekolah di SMA Taman Madya Taman Siswa Jakarta, ia menerima tawaran untuk menjadi redaktur majalah bulanan Prosa (1955) bersama Sammah S.A. Beberapa majalah lain yang pernah ditanganinya, adalah Madjalah Sunda (1965-1967) dan majalah bulanan Budaja Djaja (1968-1979), sebuah majalah sastra dan budaya terbitan Jakarta yang sangat diperhitungkan pada masa itu.

Pengalaman unik bersama Pramoedya A. Toer

Pengarang novel Perdjalanan Penganten (1958) ini ternyata pernah memiliki pengalaman unik tentang Pram, pengarang Tetralogi Buru itu. Diceritakan dalam otobiografinya pula, suatu hari sekitar pukul 15.00 sore, ada seseorang mengetuk pintu rumah Ajip. Ketika pintu dibuka, nampaklah Pramoedya Ananta Toer di hadapannya. Dan dia berkata kepada Ajip dengan suara yang dalam di tenggorokan, “Kau ada nasi, tidak? Aku sudah beberapa hari tidak makan!”

Sayangnya, waktu itu Ajip sedang tinggal seorang diri di rumah. Istrinya, Ibu Fatimah atau biasa dipanggil Empat, sedang berangkat ke Jatiwangi untuk sebuah urusan keluarga. Dan selama ditinggal, Ajip selalu makan di luar. Jarang sekali ia masak di rumah. Saat Pram datang dan meminta makan, di rumah Ajip hanya ada nasi dingin tanpa lauk pauk apa pun. Apa boleh buat, pengarang besar yang sedang lapar tidak pilih-pilih makanan. Jadilah Pram makan nasi dingin itu dengan tambahan mentega.

Ajip memiliki pandangan sendiri tentang Pram. Menurutnya, Pram adalah sosok yang individualistis dan egosentris. Ajip mengira, Pram adalah orang yang tak pernah tertarik dengan persoalan orang lain. Pram juga berprinsip tidak akan meminta tolong kepada orang lain, tetapi dia juga tidak akan peduli jika seseorang harus ditolong. Seperti contoh, orangtua Maemunah (istri Pram) memiliki banyak rumah yang disewakan, tetapi Pram menolak ketika disuruh tinggal di salah satu rumah mertuanya itu. Pram lebih memilih mengontrak di rumah petak yang berlantai tanah di Rawamangun. Tentu saja itu pengalaman pertama bagi Maemunah. Namun karena ia sangat mencintai Pram, semua keadaan diterimanya dengan ketulusan hati.

Ajip juga mengherankan tindakan yang dilakukan orang-orang kepada Pram. Yang kita tahu, Pram adalah penulis kiri, tetapi Ajip tahu betul alur cerita Pram, mengapa ia memutuskan untuk bergabung dengan Lekra pada saat itu. Pada tahun 1956, Pramoedya diundang pemerintah RRC untuk menghadiri peringatan wafatnya pengarang Lu Hsun yang kedua puluh. Karena undangan itulah, menurut Ajip, Pram disangka publik telah menjadi kiri, dan kelompok non-komunis menganggapnya musuh. Itu berdampak pula pada karier Pram. Majalah Star Weekly tidak mau lagi memuat tulisannya. Dua judul bukunya, Keluarga Pembangunan dan Subuh dikembalikan hak penerbitannya dan tidak dicetak lagi.

Menurut Ajip, orang seperti Pram yang sudah menjadi pengarang penting di Indonesia, tentu saja akan didekati oleh orang kiri. Mereka akan memanfaatkan pengaruh Pram untuk kepentingan politik. Seharusnya, kelompok non-komunis menggandeng Pram agar tidak masuk ke kubu komunis. Bukan menendangnya jauh-jauh yang mengakibatkan Pram memilih bergabung dengan kubu komunis. Apalagi, setelah penolakan-penolakan karyanya itu, Pram diberi kerja penerjemahan karya Maxim Gorky (novel Ibunda). Maka tidaklah heran jika Pram menganggap orang-orang kiri sebagai penolongnya.

Memutuskan untuk hidup tanpa ijazah

Ajip Rosidi dikenal sebagai pengarang yang telah menghasilkan ratusan judul buku berkualitas. Dan karena konsisten berkarya, ia diganjar banyak penghargaan, salah satunya diangkat menjadi profesor tamu di Osaka Gaikokugo Daigaku (Universitas Bahasa Asing Osaka). Sejak itu, ia juga ditugasi mengajar di Tenri Daigaku (1982—1994) dan Kyoto Sangyo Daigaku (1982—1996). Padahal dalam bidang akademik, ia tidak menyimpan ijazah SMA. Ia memutuskan untuk membuktikan keberhasilannya di bidang kepenulisan tanpa ijazah.

Pada saat Ajip akan menghadapi ujian akhir, desas-desus di surat kabar memantik pergulatan batinnya. Kabar itu tentang kebocoran soal ujian yang terjadi sebelum waktu ujian tiba. Saat membaca berita tentang kebocoran dan polemik tentang manfaat ujian itulah, ia menyimpulkan bahwa betapa hinanya berlaku curang hanya karena ingin lulus. Orang-orang ingin lulus agar mendapat selembar ijazah. Ya, ijazah yang untuk melamar pekerjaan itu.

Tapi Ajip remaja mempertanyakan betul-betul hal itu dalam dirinya. Sebagai pengarang, timbul pertanyaan dalam dirinya, apakah ijazah berpengaruh dalam wilayah yang telah dijadikannya sebagai pilihan hidup, yakni kesusasteraan? Beberapa hari ia disibukkan dengan pikiran itu. Sampai pada akhirnya ia memutuskan untuk tidak menggantungkan hidupnya kepada selembar kertas bernama ijazah. Ia bertekad untuk membuktikan bahwa ijazah sama sekali tidak menentukan prestasinya dalam kesusasteraan. Ditambah pula dengan pengalaman buruk tentang guru-guru bahasa Indonesianya di SMP dan SMA, yang pada akhirnya disimpulkan Ajip sendiri, para guru itulah yang seharusnya banyak membaca.

Setelah keputusannya mantap, Ajip menulis sebuah surat yang ditujukan kepada gurunya, Pak Abdurrachman Soerjomihardjo di Taman Madya, Taman Siswa. Surat yang berisi pernyataan Ajip untuk tidak mengikuti ujian nasional karena ingin membuktikan tekadnya tadi.

Ajip dan buku otobiografinya, Hidup Tanpa Ijazah. Sumber foto: tirto.id

Saya rasa di titik inilah Ajip membuktikan dengan senyata-nyatanya, betapa besar dan penting manfaat budaya membaca yang juga menjadi perintah pertama langit kepada Nabi. Ajip sudah menerapkan keyakinannya, bahwa membaca bukanlah kegiatan formal yang hanya bisa dilakukan di sekolah. Buku-buku dapat dibeli, dapat ditemukan secara terjangkau di beberapa tempat seperti perpustakaan.

Dengan membaca, Ajip telah melampaui kebanyakan orang yang memiliki gelar tinggi. Cukup banyak orang-orang bergelar tinggi dan menduduki jabatan mentereng, tetapi tidak memiliki peranan atau prestasi yang bermanfaat untuk orang banyak. Semestinya kita bangga dan bersyukur memiliki salah seorang sastrawan yang mewarisi karya-karya bermutu, yang telah memberi sumbangan nyata dalam dunia literasi Indonesia, tanpa mengabaikan pesan tersirat yang dicontohkan Ajip: Bacalah!

Selamat jalan dan sampai jumpa, Maestro!

4
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.