Jika ingin menghancurkan sebuah bangsa dan peradaban, hancurkan buku-bukunya. Maka pastilah bangsa itu akan musnah,” demikian pernyataan Milan Kundera tentang buku. Dan seperti kepastian teori gravitasi, pernyataan Kundera tersebut benar belaka. Segala pengetahuan dan informasi, berserikat dalam baris-baris paragraf sebuah buku.

Meskipun informasi dan pengetahuan dapat kita akses melalui perangkat lain, tentu saja banyak orang yang mengimani bahwa ada hubungan ajaib antara kegiatan membaca dengan sihir sebuah buku. Masih banyak orang yang menyukai suara gesekan lembar kertas saat tangan membolak-balik halaman buku.

Beberapa waktu lalu di masa pandemi ini, Ruang Literasi mengundang tiga pemuda yang bergelut di wilayah penjualan buku secara daring (online). Mereka adalah Tomi dari Buku Akik, Dana (pemilik Berdikari Book), dan Andre dari Warung Sastra. Saat ini, mereka adalah garda terdepan di wilayah penjualan buku secara daring. Pada bincang-bincang kali ini, mereka akan berbagi dan menjawab banyak hal menarik mengenai perbukuan.

Sudah berapa lama sih kalian berjualan buku? Dan kenapa berjualan buku, bukan skincare atau apa gitu… Dan tolong diceritakan dong sejarah singkat toko buku kalian. Mungkin kita mulai dari Bung Andre, ya.

Warung Sastra hadir di tahun 2017, waktu itu teman saya (Bagus) yang memulai dulu, dan awalnya hanya iseng-iseng. Namanya waktu itu juga bukan Warung Sastra.

(Dana Owner Berdikari nimbrung)

Terus namanya apa itu dulu?

Jual Buku Apa Saja.

(Masih pertanyaan dari Dana)

Nama akunnya Jual Buku Apa Saja?

Iya, itu nama akunnya.

Saya host-nya di sini. Kenapa malah Anda yang bertanya-tanya?

O iya, iya.

(Dana, Tomi, dan Andre Tertawa. Host melanjutkan pertanyaan)

Sejak kapan nama Warung Sastra resmi dipakai?

Seingat saya di bulan Februari 2017.

Oke, terus kenapa memilih jualan buku, Mas? Kenapa tiba-tiba masuk ke dunia kutukan ini?

Karena awal yang menjalankan adalah teman saya Si Bagus, Mas. Dia memang senang membaca, lalu iseng jualan, terus ditekuni, dan ya… keenakan aja, sih, Mas.

Ternyata enak berjualan buku itu, ya?

Iya. Dan sistemnya jelas.

Kalau Bung yang bertopi bintang merah ini (Dana), sepertinya memang benar-benar mewakili toko buku kiri sedunia, ya.

(Tertawa)

Untuk Bung Dana, kalau Berdikari Book itu bagaimana sejarah singkatnya, nih?

Berdikari itu lahir di bulan Oktober 2014. Dulu, namanya juga bukan Berdikari, tapi sepertinya saya rahasiakan aja, ya.

Dibuka aja dong, Andre aja tadi udah dibuka, kok. (Kali ini Tomi yang nimbrung)

Wah. Sebenarnya nama awalnya versi Indonesia aja sih, Buku Berdikari, begitu. Tapi kok kurang nginternasional, kan harus internationale, jadi dibalik aja jadi Berdikari Book.

Kok nggak Independent Book jadinya? (masih pertanyaan Tomi)

Oh, jelek, Pak. Jadi nggak menjual. Kalau Berdikari kan Berdiri di Kasur Sendiri. Begitulah kira-kira singkatnya.

Waktu itu kenapa terjun di dunia buku?

Soalnya waktu itu buku adalah penjualan pertama yang saya lakukan. Sebelum-sebelumnya sudah coba yang lain, tapi kok yang ada transaksinya malah di buku.

Maksudnya waktu itu juga jualan selain buku?

Saya juga jualan produk lain, ada kaos… kaos bola.

Manchester United kaosnya ada juga?

Ada…

Pasti paling nggak laku, ya?

(Dana dan Host tertawa) Nah, produk buku yang malah ada penjualan.

Oke. Kalau Buku Akik itu bagaimana awalnya, dan sejak kapan dimulai?

Itu dulu tahun 2015, setahun setelah Berdikari, karena dulu saya pelanggannya Berdikari. Sering COD-an dengan Mas Dana. Terus coba-coba iseng upload buku-buku koleksi pribadi, dan kok ada yang beli. Akhirnya keenakan dan seterusnya jualan.

Karena di Buku Akik berisi banyak seniman, jadi Buku Akik diamini sebagai ruang untuk mendanai kegiatan berkesenian kita. Karena kita sadar, kita tidak bisa hidup dari seni, dan kita sepakat untuk menghidupi kesenian dari Buku Akik.

Baik. Pertanyaan selanjutnya ini, Bung. Wabah Covid-19 saat ini sedang melanda dunia, dan sampai ke Indonesia. Imbasnya tentu banyak sekali. Nah, kira-kira situasi sekarang ini berpengaruh nggak, sih terhadap penjualan?

Yang pasti tagihan tetap jalan. (Dana menjawab)

Tetap jalan, ya?

(Tertawa)

Tapi interaksi sosial di media sosial meningkat, sih. (Tomi menyambung)

Interaksi media sosial meningkat. Terkonversi sebagai omsetkah?

Nah, tadi itu gimana, Bro? (Tomi melempar pertanyaan pada Andre)

Ya, kalau Warung Sastra sendiri bagaimana?

Alhamdulillah, lancar.

Lancar, ya? Kalau sebelum dan sesudah pandemi ini ada pergerakan yang seperti apa, naikkah, turunkah, atau stagnan? Atau seperti apa?

 Naik, sih.

Kalau di Berdikari?

Frekuensi pelayanan pada pelanggan (chat) naik. Dan itu memengaruhi transaksi juga.

Baik. Kalau saya lihat akun media sosial toko buku teman-teman, di sana sering share banyak hal. Salah satunya tentang Covid-19 dan berita-berita politik. Alasan apa yang membuat teman-teman memilih melakukan hal itu?

Karena membaca buku termasuk salah satu cara membangun kesadaran politis dan nalar kritis, itu berarti fenomena politik yang terjadi harus kita bagikan biar membuka ruang diskusi di sana. Lalu karena akun kita punya banyak followers, artinya kan jangkauan kita cukup luas, dan karenanya pula punya tanggung jawab untuk menebar kebaikan. Kritik itu termasuk menebar kebaikan. (Jawaban Tomi)

Tapi Buku Akik bukan buzzer kubu-kubu politik tertentu, kan?

Tentu bukan, tapi kita memang sering dituduh sebagai buzzer. Kritik pemerintah sedikit dibilang kadrun, kalau share info bagus dari pemerintah dibilang pro-rezim. Itu dukanya, sih.

Kalau Berdikari, saya lihat malah share drama korea di akun media sosialnya. Kira-kira apa yang ingin didapatkan dari situ, Bung Dana?

Sedari awal, Berdikari mengampanyekan bahwa apa pun perlu untuk dibaca. Fenomena maupun wacana. Jadi berangkat dari situ, kita tetap share fenomena-fenomena yang muncul. Selain itu ya, karena terkadang “toko sebelah” sudah share suatu hal, jadi tidak mungkin kita membagikan hal yang sama dan berulang-ulang.

Warung Sastra juga melakukan hal yang sama. Misalnya di akunnya bisa kita temui unggahan foto mural di jalanan, karena kalimatnya yang menggugah. Kira-kira apa yang dicapai dari hal itu, Mas Andre?

Apa ya, mungkin karena itu hal unik, jadinya akan memantik kesadaran aja sih, bahwa hal-hal tersebut ada di sekitar kita dan ternyata dekat.

Warung Sastra juga punya program-program khusus di masa pandemi, yaitu diskusi online untuk masyarakat luas. Dan ternyata mendapat sambutan cukup baik, karena saya rasa masyarakat sudah cukup jenuh dengan berita-berita negatif terkait Covid-19 dan mereka butuh info atau hal yang baru. Waktu itu kita pernah adakan diskusi online, dengan nama Discord Sastra, temanya Sastra dan Agama. Program ini akan tetap berlanjut tiap pekan.

Menurut Bung sekalian, kira-kira bagaimana persaingan toko buku online hari ini?

Kalau bagi kami (Berdikari) tidak masalah, Bung. Justru dunia perbukuan malah lebih hidup dan semakin ramai. Bacaan juga jadi lebih beragam, karena setiap toko buku punya produk andalan, punya karakter masing-masing. Dan juga pihak penerbit akan lebih senang, kan…

Oh, penerbit lebih senang ya…

Iya.

Kalau dari Buku Akik sendiri?

Kita dari awal tidak pernah berpikir untuk berkompetisi, tapi bekerja sama. Termasuk dengan Pak Dana ini, kita selalu barter banyak hal…

Meskipun di medsos (Buku Akik dan Berdikari) terlihat bermusuhan, ya?

Walaupun terlihat bermusuhan. Tapi nggak apa-apa, itu dibentuk aja.

Oh, itu settingan?

Publik yang menyimpulkan sendiri. (Netizen) tidak tahu saja kalau di balik layar kami saling komunikasi.

Jadi begitu saja, kalau bisa kolaborasi, nggak perlu berkompetisi.

Menurut Bung Andre bagaimana, persaingan toko buku online hari ini?

Bagus.

(Tertawa)

Wow. Jawaban yang cukup padat, singkat, dan cukup menjelaskan. Tapi tidak merasa terancam?

Tidak merasa terancam. Sebab dari Warung Sastra sendiri secara grafiknya masih naik.

Beberapa waktu lalu sempat muncul keramaian pembagian buku dalam format PDF, supaya masyarakat bisa baca buku dari rumah. Itu terkait dengan isu pembajakan. Kita sendiri tahu, bahwa buku bajakan beredar dengan sangat luas dan sangat mudah didapatkan. Bagaimana pendapat kalian terkait dengan pembajakan buku ini? Mungkin dari Bung Andre terlebih dulu.

 Saya merasa cukup miris, sih. Karena semua itu ada hak ciptanya dan menulis itu tidak gampang. Ketika buku bentuk PDF menyebar, kalau itu resmi dari penerbit, saya rasa nggak masalah. Yang disayangkan adalah ketika buku-buku tersebut menyebar lewat website ilegal dan itu menurut saya merupakan perbuatan dosa tersendiri.

Menurut Bung Dana bagaimana?

Kita punya kampanye terkait tentang itu, “Perbanyak bacaan, jagalah kewarasan,” jadi silakan beli buku bajakan, baca buku bajakan kalau situ nggak waras. Kira-kira begitu, kan.

Dari Buku Akik sendiri?

Buku Akik punya slogan juga: “Sebab Buku Lebih Mulia daripada Batu”. Dan terkait buku bajakan, sebenarnya agak bingung juga, sebab saya pernah tumbuh bersama buku bajakan. Misalnya, di masa saya beberapa buku karya Pramoedya Ananta Toer (buku original) sulit untuk didapatkan, yang ada malahan buku bajakannya. Akhirnya ya terpaksa saya beli. Apalagi dulu belum punya penghasilan, makanya memilih untuk beli buku bajakan karena harganya waktu itu.

Tapi kemudian tersadarkan ketika berkenalan dengan penerbit. Banyak penerbit-penerbit kecil, yang memang menggantungkan hidupnya dari penjualan buku mereka. Dan pembajakan, bagi mereka adalah sebuah pembunuhan. Dari situlah saya stop berhubungan dengan buku bajakan.

Kalian terhubung dengan berbagai penerbit, baik indie maupun mayor. Kira-kira apa harapan kalian terkait dengan penerbit-penerbit buku? Idealnya seperti apa? Mulai dari Buku Akik dulu.

Kalau harapan kami, lebih kepada sistem saja, yaitu sistem konsinyasi. Karena biasanya kita kan nggak punya kemampuan untuk membeli banyak di depan, nih. Kita punya kemampuan menjual, tapi untuk membeli banyak, sepertinya kurang. Jadi, kebijakan yang ideal menurut saya adalah sistem titip jual atau konsinyasi.

Kalau menurut Bung Berbintang Merah (Dana), kira-kira gimana, tuh?

Kalau penerbit melihat kami sebagai toko buku online yang dapat diandalkan, saya harap pihak penerbit bisa memberikan dukungan penuh. Saya sering mendapatkan contoh kasus, misalnya ada penerbit yang sedang meluncurkan buku, tapi kemudian mereka bilang, “tidak dijual di toko buku”, lalu fungsi saya ini apa?

Dalam hubungan yang lebih khusus, kita sebagai toko buku online kan bukan pesaing penerbitan. Tapi mitra atau partner mereka, untuk tumbuh bersama. Seperti yang Bung Tomi bilang tadi, kita berkewajiban dan butuh untuk menumbuhkan ekosistem masing-masing. Bertumbuh di wilayah penerbitan (produksi), kami dalam hal penjualan, dan sebagian lagi pada percetakan.

Baik, dari Andre bagaimana, nih?

Kami harapannya pihak penerbit lebih memperhatikan dan meningkatkan kualitasnya terkait cetakan buku. Kita bermitra dengan banyak penerbitan, dan terkadang ada salah satu atau dua buku yang kualitas cetakannya seperti buku bajakan. Kita sebagai penjual ‘kan bertanggung jawab untuk memberi kepuasan pada pelanggan, bagaimana agar mereka nyaman dalam membaca. Soalnya saya juga cukup sering mendapatkan komplain, “Mas, kok ini tulisannya miring-miring, ya (bentuk layout),” atau “Mas, kok tulisannya buram, ya?” Kira-kira begitu.

Pertanyaan selanjutnya, tiga buku terakhir yang dibaca? Mulai dari Pak Tomi.

Catatan Najwa 2, Semesta Murakami (John Wray, dkk.), sama Collapse-nya Jared Diamond.

Bung Dana?

Identitas dan Kenikmatan (Ariel Heryanto), Unmarketing (Scott Stratten), dan The Industries of The Future (Alec Ross).

Sekarang Bung Andre.

Para Bajingan yang Menyenangkan (Puthut EA), Pulang (Leila S. Chudori), Revolusi Industri 4.0 (Astrid Savitri).

Penulis favorit dalam dan luar negeri, mulai dari Bung Andre.

Rusdi Mathari, Leila S. Chudori, dan Puthut EA.

Penulis luar: J.D. Salinger, Albert Camus, Nawaal El Sadawi.

Kalau Bung Dana?

Budi Hardiman, Haryatmoko, Ariel Heryanto.

Penulis luar: Nietzsche, Terry Eagleton, dan Karl Marx, tentu saja.

Tomi, nih sekarang.

Penulis Indonesia: Chairil Anwar, Pramoedya Ananta Toer, Remy Silado.

Penulis luar: J.K. Rowling, Voltaire, dan John Steinbeck.

Banyak yang bilang, minat baca orang-orang kita itu rendah. Apakah benar begitu, kalau memang benar, menurut kalian siapa yang paling bertanggung jawab atas itu? Bung Andre dulu, deh.

Kalau minat baca rendah, itu sepertinya nggak. Karena logikanya begini, buku bajakan kan banyak, berarti yang mau baca kan banyak sebenarnya. Daya belinya saya kira juga cukup lumayan. Yang dipermasalahkan pembeli itu adalah ongkos kirim. Karena negara kita kepulauan, ongkir antarpulau jadi sangat mahal. Jadi menurut saya, yang mesti bertanggung jawab dengan permasalahan ini, ya pemerintah. Minimal ongkos kirim di pos dikurangi, atau mungkin bisa digratiskan untuk buku. Masyarakat kita mau baca semua.

Bung Dana, bagaimana menanggapi ini?

Kami pernah melakukan survei kecil-kecilan, lebih banyak yang mengoleksi buku, atau yang membaca bukunya. Dan survei membuktikan lebih banyak yang membaca buku. Ternyata banyak teman-teman yang koleksinya tidak seberapa, tapi bacaannya luas. Karena mendapatkan bacaan dari pinjaman, misalnya. Artinya kan minat baca masyarakat secara umum cukup tinggi. Kita bisa mengatakan rendah, mungkin hanya karena kita melihat penjualan buku yang rendah.

Kalau siapa yang bertanggung jawab, saya tidak tahu…

Sepertinya Bung Tomi punya jawaban khusus…

Saya punya pandangan terkait influencer, tapi saya tidak bermaksud menuntut para influencer untuk bertanggung jawab atas hal ini, ya.

Masyarakat kita hari ini kan suka meniru apa yang sedang ramai dan populer. Seperti yang disinggung di awal tadi, ketika kita punya jangkauan luas, kita juga punya semacam tanggung jawab sosial terhadap hal-hal baik. Jadi, saya setuju kalau influencer bahkan buzzer digerakkan untuk kampanye gerakan membaca, karena bangsa kita suka meniru apa yang idolanya lakukan. Sepertinya itu menjadi cara alternatif.

Oke, sekarang tolong jawab cepat pertanyaan-pertanyaan ini.

Maudy Ayunda atau Dian Sastro?

Dian Sastro (Tomi dan Andre).

Bung Dana kok diam saja?

Nggak kenal keduanya, Pak.

Masa sih?

Iya. Tapi Maudy aja, deh.

Baik. Joko Pinurbo atau Sapardi Djoko Damono?

Joko Pinurbo (Tomi dan Andre)

Lho, kok Bung Dana nggak jawab lagi?

Lha saya nggak suka puisi, Pak.

Sekarang dari penjualan aja, deh. Jokpin atau Sapardi?

Jokpin, Jokpin.

Fiersa Besari atau Boy Chandra?

Fiersa Besari. (Andre)

Fiersa, dong.(Dana)

Fiersa Besari. Karena Boy Chandra belum pernah beli buku di Buku Akik, jadi saya pilih Fiersa. Boy, beli, Boy! (Tomi)

***

3
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.