Cinta yang mengasyikkan penuh isyarat, cinta yang menyebalkan banyak syarat. Begitulah pernyataan Asef Saeful Anwar mengenai cinta dalam buku terbarunya, Kiat-Kiat Menyembuhkan Lara. Pernyataannya tersebut mungkin membuat kita kembali melihat pada diri dan segala yang sudah kita lakukan secara naluriah terkait hal misterius bernama percintaan. Di hari kemarin, bisa jadi kita mabuk dalam keindahan cinta; berlarat-larat hidup dalam percintaan yang penuh isyarat.

Di hari yang sudah-sudah, kita mungkin bertemu sang (mantan) kekasih, menjalin obrolan-obrolan yang (barangkali) sebagian besar berisi kode-kode semata. Mungkin kita dan sang kekasih terhubung dalam satu frekuensi yang sama, mungkin juga tidak. Ketika kita terhubung dengan kekasih dalam gelombang yang sama, itulah yang disebut Asef mengasyikkan. Tapi jika tidak menangkap apa yang disebut isyarat, atau bahkan salah menerjemahkan isyarat, nah! Tak tahulah lagi kita apa nasib sang waktu.

Bisa jadi pula, di hari kemarin kita terjebak pada percintaan yang menyebalkan. Sedari awal, kita seakan disodorkan selembar kertas bermeterai berisi syarat-syarat dalam menjalankan hubungan. Alangkah mengenaskannya bernapas dalam keadaan seperti itu atas nama cinta. Kau mungkin akan merasa sebagai seorang penjahat yang terus menerus dikuntit seorang intel, dikirimi pesan whatsapp bertubi-tubi yang berisi pertanyaan yang akan membuatmu terdengar seperti kerbau mendengus; di mana, sedang apa, dengan siapa. Bisa jadi kita korban dari praktik percintaan yang menyebalkan, atau jangan-jangan malah sebagai subjek pelaku?

Dua keadaan yang disinggung Asef bisa pula membuka kemungkinan lain tentang percintaan. Dengan pernyataannya itu, jangan-jangan Asef hanya menyindir proses percintaan yang selalu konyol; di awal perkenalan, kita dan sang kekasih masih bisa bernapas dalam nuansa keindahan penuh isyarat, dan setelah berlarut-larut, barulah kita menjalani percintaan dengan syarat-syarat yang melelahkan, baik kita sadari maupun tidak kita sadari. Bisa mundur atau kabur dari percintaan tak sehat semacam itu pun sudah syukur-syukur.

Buku ini berisi puisi-puisi Asef Saeful Anwar dan istrinya, Niskala. Keduanya sudah lama dikenal publik sebagai penulis yang memiliki kreativitas tinggi. Membaca puisi-puisi keduanya, seperti dihadapkan pada isyarat-isyarat dalam percintaan. Isyarat dalam puisi (percintaan), tentu saja membuka banyak pintu pemaknaan bagi pembaca. Dan pengalaman-pengalaman setiap pembaca menentukan pula proses pemaknaan dari sebuah puisi.

Ada ciri yang membedakan puisi Asef dengan puisi Niskala dalam hal pemaknaan tematik. Keduanya memang sama-sama menuliskan cinta dan hal-hal lain yang mengikutinya. Namun, saat kita baca puisi keduanya secara bergiliran dalam buku ini, maka akan kita temukan dua warna yang memberi ciri. Asef senantiasa menulis cinta dan seluruh pergulatannya dengan menyertakan konklusi dalam puisinya, sedangkan puisi-puisi Niskala sering kali terasa mengalir sebagai sungai kecil di kala hujan; dominan di wilayah melankolis, meskipun di beberapa puisi ia menunjukkan daya eksplosif.

Keduanya mewakili filosofi Yin Yang; mewakili rasionalitas laki-laki yang di dalamnya terdapat pula setitik kasih yang kadang tidak logis tapi dahsyat itu, dan mewakili kehalusan seorang wanita yang lembut seperti alir air namun sewaktu-waktu bisa saja terhimpun tenaga besar darinya. Karena itulah puisi keduanya terasa saling melengkapi—di halaman-halaman tertentu terasa pula seperti saling bertanya dan menjawab.

Ada beberapa puisi kolaborasi Asef dan Niskala dalam buku ini, antara lain berjudul “Malam Kian Larut Tangan Kita Tak Jua Bergenggaman”, “Kita Tidak Lagi Duduk di Sana”, “Pada Hujan yang Kesekian”, “Apel”, “Pada Suatu Kini: SDD”, dan “Kiat-Kiat Menjaga Kemesraan”.

Pada puisi “Kita Tidak Lagi Duduk Di Sana”, kedua penulis mempertanyakan fungsi dan sistem-sistem yang ada dalam struktur sosial masyarakat dan membuat korelasi dengan makna kebahagiaan.

mengapa ada dinas kesejahteraan,                                                                                       
ada dinas kesehatan                                                                                                                     
tapi tidak ada dinas kebahagiaan?

Dalam puisi ini juga, keduanya menghadirkan jawaban terhadap pertanyaan yang sepertinya jarang dipertanyakan orang:

mengapa lampulampu di kedai kopi                                                                          
kebanyakan remang?                                                                                                                     
cahaya mata peminum kopi                                                                                                      
begitu terang menyalakan cinta.                                                                                
bagaimana dengan lokalisasi?                                                                                             
duh, bukankah mereka yang berahi                                                                                     
adalah sedang menyalakan api?

Puisi “Apel” adalah puisi humoris dan manis untuk dibaca. Asef dan Niskala menghadirkan citra apel dengan sekian kisah sejarah yang mengikutinya; kisah Newton saat pertama kali merumuskan teori gravitasi, riwayat Zulaikha yang mengumpulkan kawan-kawannya dan terlena mengiris jemari mereka sendiri saat melihat Yusuf, hingga cerita populer tentang Steve Jobs yang mendapatkan inspirasi logo apple. Di akhir puisi ini, keduanya menutup riwayat citra apel dengan permainan bahasa yang disebut homograf.

Hmmm …                                                                                                                               
jadi kau ini sedang apel dengan membawa apel?

Asef juga sengaja mempertanyakan suatu hal yang sekiranya kukuh sebagai mitos dalam percintaan, tapi seakan dipegang teguh dalam bawah sadar setiap orang:

jika jerawat adalah tanda cinta kenapa harus cuci muka?                                                   
jika cuci muka mencegah jerawat kapan bisa jatuh cinta?

Asef seakan bertujuan menggugurkan mitos itu dengan pertanyaan yang sarat logika, dan berniat menunjukkan bahwa apa yang diyakini pandangan umum terkait jerawat dan cinta adalah kekonyolan yang tak berdasar. Sebab, jika memang jerawat adalah tanda cinta yang didamba-dambakan, semestinya memang tidak perlu dilenyapkan dengan pembersih wajah. Biarlah jerawat-jerawat itu memenuhi kulit wajah, dan kita akan dipandang sebagai manusia yang penuh cinta dan kasih. He-he.

Mendekati bagian akhir buku, Niskala menghadirkan sebuah puisi yang judulnya ditetapkan sebagai judul buku ini. Puisi ini hadir seperti seorang ibu yang mencurahkan air segar wejangan tentang keikhlasan kepada anaknya yang dahaga. Pembaca akan dituntun bagaimana mengobati lara, sebelum ditakdirkan menjadi orang yang terberkati dan penyembuh bagi hati yang lain. Hal yang serupa ditemukan pula dalam judul “Kiat-Kiat Mencegah Lara”.

Sebelum dua puisi terakhir dalam buku ini, pembaca juga akan mendapatkan kiat-kiat yang digemari para pecinta dan pasangan kekasih. “Kiat-Kiat Menjaga Kemesraan” menawarkan langkah-langkah nyata berupa teknis tindakan yang unik dan manis untuk menciptakan harmoni dalam hubungan.

Kau bisa baca buku ini seorang diri ataupun bersama belahan jiwa dengan suara yang lirih.

Judul: Kiat-Kiat Menyembuhkan Lara

Penulis: Niskala & Asef Saeful Anwar

Penerbit: Shira Media

Tahun: 2020

Hal: 126 hlm.; 13 x 19 cm

8
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.