(Resensi Novel: Kita Tak Pernah Tahu, ke Manakah Burung-Burung Itu Terbang – Y. Agusta Akhir)

Judul Novel : Kita Tak Pernah Tahu, ke Manakah Burung-Burung Itu Terbang

Penulis          : Y. Agusta Akhir

Penerbit       : UNSA Press

Cetakan        : Pertama, September 2017

Tebal             : vii + 370 halaman

ISBN              : 978-602-74393-6-8

***

Cerita dalam novel ini berawal dari kisah Warih yang mengalami kesaksian atas mitos buaya putih dengan narasi realis yang cakap. Agusta, Sang Penulis buku ini seperti mengajak kita mengenali kembali sisi-sisi kejiwaan kita seutuhnya dalam menjalani pelbagai peristiwa kehidupan.

Novel setebal 380 halaman ini mengetengahkan suatu lanskap sureal yang sejatinya begitu lekat dengan latar kehidupan masyarakat nusantara, khususnya Jawa pedesaan. Betapa hal-hal di luar jangkauan nalar, secara tak tersadari sebetulnya terekam dan masih terjaga keberadaannya dalam ruang batin masyarakat kita hingga kini. Entitas semacam sungai, pohon tua, pemakaman, cermin, dan hal-hal lain yang keberadaan fisiknya biasa kita saksikan dalam keseharian, pada pengertian yang lain niscaya membawa pengalaman supra-nalar di kesadaran sebagian besar dari kita. Alam pemikiran modern yang kita dapatkan sejauh ini tak mudah untuk menggeser kesadaran alamiah itu, meskipun telah banyak dari kita yang berusaha menyangkalnya. Mungkin akan lain cerita jika perwujudan hal-hal itu semakin terjauhkan sehinga tak dapat kita jumpai lagi secara fisik di kehidupan nyata.

Sepanjang cerita dari awal sampai akhir, menjadi fragmen perjalanan—antarruang, antarwaktu dan antartokoh pula—mempertemukan Warih dan Mahligai menuju perjalanan hidup berikutnya. Meski banyak kita dapati hal-hal absurd yang menyelisihi logika umum, Agusta mampu mengemasnya menjadi alasan masuk akal yang bahkan tak mampu kita sangkal, setidaknya sulit kita akui ketidakbenarannya. Seperti halnya penampakan buaya putih sebagai penanda akan datangnya petaka—yang pada bab berikutnya terjelaskan sebagai mayat terapung seorang perempuan bernama Mahligai dengan posisi dada menghadap ke atas—yang menunjukkan suatu keganjilan logika, meski semua itu pada akhirnya terjelaskan.

Beberapa penyajian kontradiktif dan keunikan nama tokoh-tokoh, menjadi hal menarik lain dari novel ini. Kontradiksi yang dimaksud antara lain terkandung dalam pemunculan sosok Warih yang baru saja akil baligh namun memiliki jiwa tua, atau ayah Sang Guru yang berumur seratus tahun lebih namun masih berfungsi alat vitalnya, dan sebagainya. Sedangkan nama-nama tokoh semacam Sandika, Mangertos, Kirangan, Popo, dan Sumangke, mengingatkan kita pada sosok-sosok punakawan yang menjadi cerminan atas sifat-sifat kemanusiaan kita sesungguhnya. Selain itu Agusta juga sesekali menggunakan simbol-simbol memikat yang memberi ruang penafsiran tak terbatas bagi pembaca, seperti dedaunan jatuh berwarna merah keemasan, burung terbang berjumlah sembilan, dan cermin yang mampu bicara. Pembaca juga akan serasa dibawa pada suatu setting lokasi yang eksotis manakala menyimak perjalanan Warih bersama Kung dan penggambaran situasi rumah Kung, mengingatkan kita pada satu novel fantasi klasik berjudul ‘Alice in Wonderland’ yang sarat pesan dan simbol metaforik.

Lepas dari kedalaman serupa itu, Agusta juga menyuguhkan banyak kosakata kekinian yang membuat novel ini tak jatuh dalam kemuraman, sesuatu yang menyeramkan, alih-alih mistis. Lebih-lebih ketika hal itu tiba-tiba muncul dalam narasi, adegan ataupun percakapan yang sedang serius, justru membuat hadirnya suatu penekanan rasa tersendiri, antara jijik dan penasaran, antara tegang dan konyol, antara prihatin dan lucu, dan lain sebagainya. Terlebih ketika penulis menyuguhkan ikon-ikon penanda zaman—semacam: Terminator, Ellyas Pical, David Beckham, Lance Bass, Joe Satriani, dan sebagainya—semakin membuat novel ini terasa renyah dan mengakrabi para pembaca, apalagi untuk mereka yang memang menjadi saksi hidup kehadiran ikon itu di masanya.

Selain itu, saya membaca adanya sebuah puncak dari surealisme dalam Novel ini, terwakili oleh kisah ‘Pertemuan Dua Jiwa: Kung dan Mahira’ (halaman 358-359) yang—sebagai pembaca hanya bisa merasakannya—menjadi satu fenomena kejadian atau kesadaran tertentu. Empat paragraf dalam bab menjelang akhir itu, yang kemudian menjadi bab terpendek dibandingkan keseluruhan bab lainnya, berisi satu adegan dengan narasi dan percakapan pendek yang multitafsir. Justru dengan kepadatan seperti itu, bab ini menjadi bagian terpenting dari keseluruhan cerita, menjelaskan banyak hal, merangkai banyak pengertian, dan tentu saja merajut banyak dugaan yang terbangun sebelumnya. Tersirat pula sesungguhnya, suatu rangkaian kisah hidup yang tak kenal kata selesai dalam penggambaran karakter dan psikologi setiap tokoh, memantulkan segenap sisi diri kita seutuhnya.

Sebagai Pemenang Ketiga Lomba Novel Pilihan UNSA 2017, novel ini layak menjadi salah satu bacaan fiksi bergenre realis magis yang rupanya sedang digemari saat ini. Meski tergolong cukup tebal, kemunculan kalimat singkat di bawah judul bab, berikut gambar ilustrasi yang menyertainya, bisa memberi jeda istirahat sekaligus mengasup energi tersendiri untuk mengawali pembacaan selanjutnya. Salah satu hal sederhana tapi sulit dilakukan ketika membaca novel ini adalah mengingat lalu mengucapkan kembali judulnya, setidaknya itu yang terjadi pada saya. Kejadian itu seperti halnya kesadaran kita yang sebetulnya tak mampu menangkap keseragaman pembacaan atas apa yang tertuang dalam buku ini.***

3
Ian Hasan
Kelahiran Ponorogo, saat ini bergiat di Sanggar Pasamuan Among Anak (Pamongan) Karanganyar, selain terlibat di beberapa komunitas, termasuk Komunitas Kamar Kata.