Cerpen Tjak S. Parlan

Fahmi Idris duduk bersila di antara kerumunan kecil yang riuh itu—dan merasa takjub, bahwa dirinya telah berada di tempat yang tidak pernah dikunjunginya selama puluhan tahun. Dia tahu, dirinya sedang tidak bermimpi. Pada sore yang lembab itu, Ahmad Saleh telah menggiringnya memasuki sebuah pertaruhan: gelanggang yang terbuat dari perpaduan rasa getir, kesialan, juga keberuntungan yang tidak bertahan lama.

“Kamu harus yakin,” bisik Ahmad Saleh. “Seperti yang saya bilang tadi.”

Fahmi Idris memilin-milin lembaran lima ribuan menjadi sebuah gulungan kecil. Matanya menyelidik gambar-gambar berwarna pada perlak-beberan yang hanya sejangkauan tangan di depannya. Dia melepaskan napasnya sejenak, lalu menjatuhkan gulungan kecil lima ribuan itu tepat pada gambar pilihannya: bola kuning. Sudah tiga kali putaran dan dia belum beranjak dari warna yang sama.

“Harusnya palang merah, seperti saya bilang tadi,” Ahmad Saleh kembali berbisik.

Fahmi Idris bergeming. Hingga bandar bersiap-siap menggelindingkan bola di papan judi, dia tidak tergerak sedikit pun untuk mengubah pilihan. Tampaknya dia begitu yakin bola kuning akan memberikan keberuntungan. Dia mencoba membaca situasi, dari sekian banyak yang memasang taruhan, bola kuninglah yang menempati urutan paling buncit. Dia teringat apa yang diceritakan Ahmad Saleh, bahwa palang merah—pada hari di mana kawan karibnya itu memenangkan pertaruhan—juga mengalami kondisi yang sama: sepi peminat. Namun, bola bisa saja menggelinding ke mana saja. Tidak ada yang benar-benar tahu, bahkan seandainya bandar dan asistennya bersekongkol menyiapkan sejumlah trik jahat untuk mengelabuhi para petaruh. Dan jika itu terjadi, judi bola adil itu tidak akan pernah berumur panjang—setidaknya hingga Fahmi Idris datang kembali ke halaman belakang sebuah gudang tua sore itu.

Bola pun menggelinding ke arah sudut; mondar-mandir di antara gambar bola kuning, gunung hitam, palang kuning, bola hijau, gunung kuning, bola hitam, melewati palang merah, ke arah gunung kuning, lalu kembali dan berhenti di tengah-tengah palang merah. Sejumlah petaruh yang kegirangan berteriak dengan suara tertahan,”Mantap, palang merah!”

“Sudah saya bilang,” ujar Ahmad Saleh, nada suaranya terdengar sinis dan terkesan menyalahkan Fahmi Idris.

Fahmi Idris tetap bungkam. Dia kembali merogoh kantong celananya dan mengeluarkan selembar lima ribuan; itu lembaran terakhir dan dia berharap pilihannya kali ini tidak menjebloskannya ke dalam kesialan yang sama. Di dalam kantong celananya hanya ada uang dua puluh ribu rupiah hari itu. Dia harus keluar rumah untuk mengupayakan sesuatu yang istimewa. Satu hari lagi, usia pernikahannya genap sepuluh tahun; sesuatu yang selalu berjalan biasa-biasa saja—bahkan dia sering lupa atau sebenarnya dia ingat, tapi karena alasan tertentu dia pura-pura tidak mengingatnya. Ada kalanya, istrinya mencoba memancingnya dengan melihat foto-foto lama: pernikahan mereka yang sederhana. Namun, tidak pernah terjadi apa-apa. Tidak ada perayaan, bahkan yang paling sederhana pun. Mereka hanya mengingatnya dan membicarakannya sebentar saja seolah-olah hanya membicarakan hari-hari biasa.

“Seperti yang kita bicarakan di jalan tadi,” bisik Ahmad Saleh, “hari ini akan menjadi miliknya warna-warna merah.”

Bisikan itu mampir sebentar di telinganya, lalu mengambang di awang-awang bersama kepulan asap rokok para petaruh. Pikiran Fahmi Idris terbelah, antara bisikan-bisikan Ahmad Saleh dengan apa yang diucapkan istrinya menjelang siang sebelum dia keluar rumah dan berputar-putar tanpa tujuan hingga Ahmad Saleh mendamparkannya di tempat perjudian bola adil itu. “Mungkin kecoak di kamar mandi pun akan tertawa, kalau orang semacam kita ini punya kebiasaan merayakan ulang tahun pernikahan,” ujar istrinya ketika itu.

Apa yang diucapkan istrinya itu sesuatu hal yang biasa, tapi terus-menerus terngiang di telinganya. Tiba-tiba dia merasa ada sesuatu yang hilang dan kurang dan dia harus bertanggung jawab untuk mengembalikannya. Dia bisa mengingatnya dengan jelas ketika istrinya mengucapkan itu—istrinya mengucapkannya seraya mengusap-usap jemari manisnya yang polos dan kosong. Meski tidak ada isyarat kesedihan yang terpancar dari wajah istrinya, tapi Fahmi Idris tidak bisa memungkiri bahwa di jari manis itu tidak ada lagi cincin emas yang melingkar. Sudah dua tahun berlalu dia belum juga bisa menggantikannya dengan yang baru. Istrinya harus menjual cincin kawin itu untuk menutupi kekurangan biaya rumah sakit akibat kecelakaan tunggal yang telah dialaminya.

“Sudah yakin dengan pilihanmu?” suara Ahmad Saleh lirih menyusup ke telinganya. Fahmi Idris kembali memilin-milin lembaran lima ribuan yang sudah lecek di tangannya. Orang-orang mulai menjatuhkan pilihannya: gunung kuning, gunung hijau, gunung hitam, gunung merah; bola hitam, bola kuning, bola merah, bola hijau; palang hitam, palang kuning, palang hijau, palang merah. Dan Fahmi Idris memasang taruhannya untuk bola merah.

“Nah, seperti yang saya bilang, warna merah!” ujar Ahmad Saleh seraya menepuk bahu Fahmi Idris.

Rupanya Fahmi Idris tidak hanya berhenti sampai di situ. Entah mendapatkan ilham dari mana, tiba-tiba dia membisikkan sesuatu ke telinga Ahmad Saleh. Ahmad Saleh yang sedari awal bertingkah seolah-olah tahu segalanya tentang permainan bola adil, mengernyitkan dahinya, lalu merogoh kantung celananya dan membuka sebuah dompet lusuh. “Kita sama-sama pahit, kawan,” bisiknya seraya menyodorkan selembar lima ribuan kepada Fahmi Idris. Fahmi Idris menerimanya dengan dingin lalu meremas uang itu sedemikian rupa dan melemparkannya ke gambar pilihan yang sama: bola merah.

“Astaga, kenapa tidak menunggu putaran berikutnya?” bisik Ahmad Saleh lebih lirih dari sebelumnya. “Itu uang terakhirmu.”

Fahmi Idris tidak menggubris apa yang diucapkan Ahmad Saleh. Dia sudah tidak sabar menunggu bandar menggelindingkan bola bekel di papan permainan. Sementara itu, sang bandar tampak seolah-olah sedang mengulur waktu; laki-laki tua berwajah kenyang itu mengisap rokoknya dengan santai, menaburkan bedak ke papan judi, dan menggosoknya berulang-ulang dengan sebuah sapu tangan lusuh seolah-olah sedang menghapus keberuntungan semua orang yang ada di gelanggang itu. Fahmi Idris berdebar-debar. Dia tidak bisa menolak kenyataan bahwa itu benar-benar uang terakhirnya. Dan jika bandar itu benar-benar menghapus keberuntungannya, dia tidak memiliki kesempatan lagi untuk memberikan sebuah kejutan kepada istrinya—meski dia mulai meragukan cara mendapatkannya. Namun, waktu sedemikian pendek, dan hari istimewa itu tinggal sejengkal di depan mata.

Oke, semua siap!” ujar bandar seraya menggelindingkan bola.

Bola pun menggelinding. Para petaruh tidak mau tinggal diam. Mereka bersahutan, menjaga taruhannya masing-masing. Meskipun tidak dengan suara yang lepas-lantang, gelanggang itu menjadi lebih riuh dari sebelumnya; ada gerutuan, ada makian, ada pengharapan pada apa saja yang diucapkan.

“Palang merah!”

“Ayo, gunung kuning!”

“Sial, bola merah!”

Bola terus menggelinding ke arah mana saja bersama permainan nasib. Bola mengarah nyaris ke tengah-tengah; bergolek melewati deretan gunung hitam, bola kuning, palang hitam, gunung kuning, bola hitam; lalu bergeser sedikit ke palang hijau—bertahan sebentar di sana dan melewati deretan bola merah, gunung hijau, palang merah, bola hijau; kembali dengan pelan ke palang merah, gunung hijau, dan akhirnya berhenti di bola merah.

“Anjing, bola merah!” teriak Ahmad Saleh tiba-tiba.“Bangsat! Kamu dapat, bangsat!”

Ekspresi kegembiraan aneh Ahmad Saleh itu sedikit menular ke wajah Fahmi Idris. Dia menyambut tepukan keras Ahmad Saleh pada telapak tangannya. Tidak lama kemudian, tangannya sudah mengenggam uang sebesar seratus ribu rupiah. Fahmi Idris menghitung dalam hati: berapa kali putaran—dan keberuntungan—agar bisa mendapatkan uang senilai emas dua gram? Sementara, Magrib sudah di ambang. Menurut Ahmad Saleh, bandar biasanya menutup permainan beberapa saat sebelum Magrib tiba. Dia mulai mengingat-ingat, berapa harga terbaru satu gram emas? Ketika orang-orang mulai menaikkan jumlah angka taruhan dan meletakkannya pada pilihannya masing-masing, Fahmi Idris masih memilin-milin selembar uang lima puluh ribuan. Sisanya, lima lembar sepuluh ribuan sudah masuk ke dalam kantong celananya.

“Tinggal satu putaran,” bisik Ahmad Saleh, “Jangan asal pasang!”

Fahmi Idris berusaha memantapkan pilihannya. Seperti mendapatkan wangsit mendadak, dia kembali merogoh kantong celananya. Tiga lembar sepuluh ribuan ditambahkannya—kini taruhannya genap delapan puluh ribu dan memasangkan semuanya untuk palang merah.  Dia menjadi orang terakhir yang memasang taruhannya pada putaran kali ini. Ketika bola mulai menggelinding dari tangan bandar, jantungnya berdetak kencang. Dia membayangkan sebuah hari istimewa dan sebuah kejutan. Dia tahu, istrinya pasti tidak akan setuju jika mengetahui dia sedang berada di tempat seperti itu. Sesekali—jika dia menang taruhan—dia berpikir untuk mengarang cerita saja; bahwa dia telah mendapatkan sebuah pekerjaan bagus yang tidak terduga. Selintas-lintas apa yang ada dalam benaknya itu, terpecah-pecah oleh suara-suara riuh para petaruh. Bola menggelinding ke kanan, ke kiri, ke depan, serong sedikit, lalu kembali ke sudut; berputar-putar lagi di sana, mempermainkan harapan para petaruh. Bola bekel itu berputar-putar di antara bola kuning, palang merah, bola hijau, gunung hitam. Para petaruh semakin riuh. Detak jantung Fahmi Idris berpacu semakin kencang. Dia memilih untuk memejamkan mata dan berharap seseorang akan meneriakkan—atau memaki—taruhan terakhirnya. Dia berharap ketika membuka mata, bola itu telah berhenti di satu titik yang telah dipilihnya.

“Palang merah!” Itu suara Ahmad Saleh, terdengar paling lantang dan membuat sejumlah petaruh yang kalah hanya bisa mengutuk. Fahmi Idris langsung membuka mata dan matanya berbinar melihat bola mungil itu benar-benar berada di sana—bercokol di tengah-tengah gambar palang merah, tanpa ada yang bisa mengganggu gugat.

Kemenangan Fahmi Idris menutup semua putaran permainan hari itu. Sejumlah petaruh yang kurang beruntung, menggerutu dan meminta satu putaran lagi dan itu hal yang biasa. Besok mereka akan mengulanginya; beberapa mungkin akan beruntung, yang lainnya bisa saja lebih sial dari sebelumnya. Asisten bandar segera membayar seluruh kemenangan petaruh putaran terakhir. Delapan ratus ribu rupiah untuk Fahmi Idris. Tentu, itu jumlah yang besar dan nyaris tidak terduga baginya. Tangan Fahmi Idris pun gemetar menghitung ulang uang kemenangannya: seratus, dua ratus, tiga ratus, empat ratus…

Belum ada satu pun yang beranjak. Orang-orang tampaknya belum rela meninggalkan tempat itu. Lalu entah dari mana, tiba-tiba ada suara-suara membentak, disusul sebuah tembakan peringatan yang menciutkan nyali siapa saja. Orang-orang saling berpandangan mencari-cari sumber keributan. Sejumlah aparat, yang menyaru sebagai petaruh atau sekadar penggembira, telah bersiap siaga. Bandar dan asistennya dibekuk tanpa perlawanan berarti. Para petaruh berusaha menyelamatkan diri dengan segala macam cara, tidak terkecuali Fahmi Idris dan Ahmad Saleh. Ada yang bertahan di pedagang asongan—seseorang yang menyediakan rokok, kopi dan minuman ringan setiap kali judi bola adil itu digelar; ada juga yang lari tunggang-langgang, tapi segera berbalik arah karena digiring kembali oleh polisi. Dan Fahmi Idris, berpura-pura pergi ke toilet yang sudah tidak terpakai di belakang gudang tua itu. Dia merasa lega karena luput dari perhatian sejumlah aparat yang sedang sibuk dengan urusannya. Namun, ketika langkahnya nyaris mendekati toilet, sesosok aparat berpakaian lengkap tiba-tiba menghadangnya. Nyalinya pun kecut—dia membayangkan betapa malunya digelandang ke kantor polisi gara-gara urusan semacam itu. Lalu tanpa berpikir panjang, dia merogoh kantong celananya dan mengeluarkan semua hasil taruhannya. Aparat itu menatapnya dengan tajam. Perasaan Fahmi Idris semakin tidak keruan. Ditariknya kembali uluran tangannya yang gemetar menggenggam segepok uang. Setarikan napas berikutnya, sebuah tembakan peringatan kembali terdengar. Suaranya begitu dekat hingga terasa akan memecahkan gendang telinganya.  Aparat itu kembali menatapnya dengan tajam, tapi kali ini dengan sebuah isyarat. Fahmi Idris menangkap isyarat itu. Dia letakkan segepok uang di atas lantai bangunan yang lembab, tepat di depan sosok tinggi besar itu berdiri. Lalu dengan langkah tergesa-gesa, Fahmi Idris pergi menjauh. Sekian meter dari gudang tua itu, dia menoleh ke belakang. Tidak ada satu pun yang mengejarnya hingga sebuah suara mengejutkannya.

“Kita aman,” ujar Ahmad Saleh yang tiba-tiba muncul dari balik rimbun kamboja tua di sisi bangunan. “Saya lupa memberitahumu kalau hari ini ada operasi besar-besaran.”

Fahmi Idris mencoba memahami apa yang dikatakan Ahmad Saleh. Sudah nyaris setengah tahun dia tidak pernah bertemu dengan kawan karibnya itu. Mungkinkah Ahmad Saleh adalah bagian dari skenario penggerebekan? Persetan, pikir Fahmi Idris. Namun, dia tidak rela dirinya hanya bungkam—kali ini dia merasa harus benar-benar membuka suara.

“Bangsat benar, kamu! Bajingan!” maki Fahmi Idris berkali-kali. ()

Ampenan, 13 Juni 2020

4
Tjak S. Parlan
Tjak S. Parlan, lahir di Banyuwangi, 10 November 1975. Menulis cerpen, puisi, feature perjalanan, novel. Buku terbarunya adalah Sebuah Rumah di Bawah Menara—kumpulan cerpen (Rua Aksara, 2020). Mukim di Ampenan, Nusa Tenggara Barat.