Dua hari lalu saya berjumpa dengan Papka. Dia tersenyum—dia suka tersenyum—dan berulang-ulang bilang hidup ini indah. Waktu itu saya tidak ingat betul apa reaksi saya. Mungkin saya mengangguk tipis dan tersenyum formal. Yang jelas, dua hari berselang, yaitu hari ini, lelaki yang bekerja sebagai pelukis itu merusak jendela apartemennya. Sebelum ia makin kacau, para tetangga naik ke apartemennya di lantai tiga. Saya termasuk di antara mereka. Kami mengetuk pintu berkali-kali sambil bertanya apakah Papka baik-baik saja. Tak lama, seseorang dari lantai bawah lari terburu-buru dan mengabarkan bahwa Papka mati. Ia lompat dari jendela apartemennya. Tetangga-tetangga yang menunggu di luar tak punya cukup waktu dan alat untuk mengantisipasi tindakan tak terduga Papka.

Pada hari pemakaman, satu hari setelah ia bunuh diri, saya tidak melihat sanak keluarga atau kerabat mengiringi penguburannya. Hanya kami para tetangga yang menghadiri upacara pemakaman yang biasa-biasa saja itu. Tidak ada yang tampak kelewat murung, apalagi sampai menangis tersedu-sedu. Para pelayat bersedih, tapi kesedihan yang manusiawi belaka, seolah-olah yang baru saja mati hanya seekor kucing yang biasa melintas di halaman apartemen kami.

Berhari-hari sesudahnya, orang-orang tidak lagi membicarakan Papka. Mereka kembali sibuk dengan urusan masing-masing, begitu pula saya. Saya masih terus mengurus buku-buku pesanan para pesohor. Saya seorang ghost writer. Kadang kala saya jengkel dan merasa muak dengan diri sendiri karena menggambarkan para pejabat dan artis bobrok dengan pujian berbusa-busa dalam buku saya. Namun, saya bisa berdalih, itu bukan sepenuhnya kehendak saya. Itu adalah pekerjaan saya dan sampai saat ini saya belum menemukan alternatif pekerjaan yang cocok. Di luar menulis buku-buku pesanan, saya aktif mengarang novel dan mengirim cerpen-cerpen dan esai kebudayaan ke media-media massa. Akan tetapi aktivitas yang saya jauh lebih nikmati ketimbang membikin buku pesanan itu tak memiliki dampak berarti bagi neraca keuangan saya. Novel-novel saya tak pernah best seller. Sementara satu demi satu media tumbang dan sering menunggak honor sehingga membuat saya muak setengah mati karena diperlakukan seperti buruh yang diperas tenaganya tanpa upah.

Sekitar dua minggu selepas kematian Papka, saya iseng naik ke lantai tiga. Saya tinggal di lantai dasar dan kalau sedang jenuh saya sering menaiki lift hanya untuk naik-turun apartemen lima lantai ini. Saat itu langit sore sudah mulai menggelap—saya bisa melihatnya melalui jendela. Saya berjalan sepanjang lorong seraya menyapa para tetangga yang pintu apartemennya terbuka. Hanya ada dua tetangga yang saya sapa, Nyonya Alterni dan Tuan Vavoga, karena hanya pintu-pintu apartemen merekalah yang terbuka. Mereka menyapa balik dengan dibarengi senyum sebagaimana lazimnya tetangga yang baik. Saat mereka menutup pintu masing-masing, saya berjalan ke apartemen nomor 302, itu adalah bekas apartemen Papka yang sampai sekarang belum berpenghuni. Saya mengamat-amati bagian luar pintu apartemen itu dengan saksama. Kayu coklat keemasan, kenop pintu yang agak berkarat, dan emblem penanda nomor apartemennya sama belaka dengan seluruh pintu penghuni kompleks apartemen ini. Saya mengetuk pintu apartemen itu berkali-kali sambil mengulang apa yang para tetangga katakan tempo hari, “Papka, apakah kau baik-baik saja?” Sesungguhnya saya melakukan itu tanpa rencana, murni spontanitas. Suasana lorong lantai tiga sepi dan temaram. Saya mengetuk-ngetuk pintu dan mengulang ucapan itu lagi. Saya tahu itu tidak berguna, tapi paling tidak saya merasa puas melakukannya.

Ketika saya menjauhi pintu, saya mendengar deritan. Itu terdengar seperti suara pintu dibuka dan saya yakin datangnya dari arah pintu yang barusan saya ketuk-ketuk. Saya menghampiri pintu apartemen Papka. Saya berdiri di hadapannya dengan tegas seolah-olah saya sedang menanti kehadiran penjahat yang siap saya habisi. Saya masih menunggu selama beberapa saat, tetapi suara derit pintu tak terdengar lagi. Di jendela kecil di ujung lorong, saya melihat langit sudah hitam, malam sudah tiba. Saya memutuskan untuk turun dan menghentikan kekonyolan ini. Ketika beberapa langkah kemudian, lagi-lagi saya mendengar deritan pintu, buru-buru saya menoleh ke belakang dan berlari menghampiri pintu 302. Hilang kesabaran, saya mendobrak pintu itu dan saat pintu terbuka, segera saya terperangah.

“Kau datang tepat waktu, Gustam. Dari tadi saya kesulitan membuka pintu ini,” kata seseorang yang kuyakini sebagai Hantu Papka. Tangannya mengempit sesuatu. Kepalanya berdarah-darah dan mukanya amburadul. Tapi baju wol coklat dan celana bahan panjang abu-abu yang dikenakannya cukup bagiku untuk memastikan bahwa ia adalah Papka—Papka dalam bentuk hantu.

“Buat apa kau kembali ke sini, Papka? Kau kan sudah mati,” seruku heran.

“Saya lupa membawa lukisan-lukisan bergambar mendiang istri saya.”

“Lantas, apa gunanya lukisan-lukisan itu bagi orang yang sudah mati?”

“Saya ingin melihat istri saya.”

“Maksudmu?”

“Saya kira kalau saya mati, saya bakal langsung bertemu istri saya. Nyatanya tidak. Di alam kematian yang saya diami, tak ubahnya seperti di apartemen ini. Saya punya beberapa tetangga, tetapi saya tidak bisa menemukan istri saya. Padahal saya sudah rela lompat dari lantai tiga yang, walaupun cuma sebentar, rasa sakitnya mengilukan sekali. Kau pasti tidak bisa membayangkannya.”

“Jadi, kau bunuh diri hanya agar bisa menemui mendiang istrimu?”

“Ya, begitulah.”

“Konyol sekali. Saya pikir hal-hal semacam itu hanya ada dalam buku-buku cerita.”

“Kau pasti tidak tahu rasanya merindukan orang yang kausayang, sedangkan orang itu sudah mati.”

“Memang bagaimana rasanya?”

“Rasanya seperti mau mati dan kemudian saya memang betul-betul mati.”

Mukanya yang bobrok dan tak sedap dipandang memandang ke arah saya. Tajam sekali pandangannya seakan-akan hendak menyilet saya. Ia bilang ia terburu-buru dan harus kembali ke kuburannya sekarang juga. Sebelum berlalu ia menambahkan, “Di almari, saya menyimpan beberapa lukisan terbaik saya. Kalau dijual, harganya pasti mahal. Lukisan-lukisan itu kuwariskan untukmu dan silakan kau jual atau koleksi atau terserah apa maumu. Selamat tinggal, saya tidak akan merepotkanmu lagi.”

Hantu Papka melayang-layang dan gerakannya begitu gegas seperti sekelebat angin.

Selepas ia pergi, saya mendekati almari setinggi lima kaki di dalam kamarnya. Almari itu tak terkunci. Begitu saya buka, terpampanglah enam lukisan dalam bingkai yang semuanya bergambar potret-potret orang yang saya kenal. Itu adalah potret para penghuni lantai tiga apartemen. Ada lukisan bergambar Nyonya Alterni, Tuan Vavoga, Tuan Baldacosta, Tuan Gagarin, dan Nyonya Elbila (Nyonya Elbila sudah tak lagi menghuni apartemen, ia pindah ke tempat lain sebulan sebelum kematian Papka). Lukisan terakhir, yang teronggok di pojok almari, adalah lukisan bergambar diri Papka sendiri. Lukisan-lukisan lain teramat cantik dan indah, tapi lukisan potret diri Papka begitu seram dan mengerikan. Dalam lukisan itu, terpampang gambar yang persis sekali dengan penampakan Hantu Papka barusan—kepala berdarah-darah, muka rusak, dan setelan baju wol plus celana panjang. Meskipun lukisan itu mengerikan, ada satu hal yang janggal dan serupa anomali: bibir dalam lukisan itu menyunggingkan senyum—senyum yang tampak sebagaimana senyum Papka pada hari-hari lampau.

Saya mendekap dan membawa lukisan-lukisan itu ke luar. Saya berjalan sepanjang lorong yang semakin malam semakin sepi. Saya menaiki lift dan turun ke lantai satu. Setiba di kamar, saya meletakkan keenam lukisan itu di sudut meja kerja. Saya mengambil lukisan bergambar Hantu Papka. Saya memandang ke luar jendela dan sebentuk gagasan menyelusup ke dalam benak saya. Cerita kehidupan dan kematian Papka rasanya menarik untuk ditulis sebagai novel, pikir saya. Atau jangan-jangan Papka memang memberikan lukisan-lukisan berharganya itu sebagai imbalan agar saya mau menulis kisah hidupnya. Dia tahu betul bahwa saya adalah seorang ghost writer.

Saya belum dapat memastikan akan saya tulis dalam bentuk novel atau biografikah kisah Papka. Namun saya sudah tahu bagaimana mengawali cerita tentang Papka. Di kalimat pembuka, saya akan menulis soal seorang lelaki yang tiba-tiba, pada pagi yang cerah, merusak jendela dan melompat dan mati seketika. Rasanya itu bukan pembuka yang buruk. (*)

Tambun Selatan, 1 April 2020

8
Erwin Setia
Erwin Setia lahir tahun 1998. Penikmat puisi dan prosa. Penulis lepas. Menulis puisi, cerpen, dan esai. Tulisan-tulisannya pernah dimuat di berbagai media seperti Koran Tempo, Jawa Pos, Media Indonesia, dan Pikiran Rakyat.