enola.jpg

Judul Film           : Enola Holmes

Durasi                  : 2 jam 3 menit

Genre                   : Petualangan, drama, kriminal

Penulis naskah   : Jack Thorne

Sutradara             : Harry Bradbeer

Rilis                       : 23 September 2020 (Netflix)

Pemain                 : Millie Bobby Brown, Henry Cavill, Sam Claflin, dan Helena Bonham Carter

Netflix tak henti-hentinya menghadirkan tontonan menarik nan bermutu. Sepanjang tahun ini, setidaknya banyak sederet judul yang menarik perhatian baik karena mutu film, kisah yang menggugah, maupun deretan pemeran yang kondang. Begitu pula halnya dengan film yang berumah produksi Legendary Pictures ini. Sejak trailernya muncul kali pertama pada bulan Desember tahun lalu, film yang bertajuk Enola Holmes ini bisa dibilang sukses membuat para penggemar serial Sherlock Holmes penasaran. Sampai akhirnya, saat Netflix mendapat hak distribusinya pada bulan April lalu, dan mereka melepas film ini pada tanggal 23 September kemarin, beragam tanggapan positif menyambut perisilisan film ini. Tanggapan positif tersebut kiranya bisa dipahami. Dan oleh karena itulah, tulisan ini hadir di hadapan pembaca. Secara khusus, penulis ingin menelisik film ini dari kacamata feminisme dan gambaran politik di dalamnya.

Tentu, kita paham secara umum bila membicarakan feminisme. Jamak kita dengar, feminisme adalah gerakan revolusioner yang bertujuan mengentaskan ketidakadilan yang didapat kaum perempuan atas masyarakat yang misoginis. Lebih jauh lagi, gerakan ini membantu kaum perempuan untuk memperjuangkan hak dan kesempatan mereka di bidang pekerjaan, pendidikan, dan pilihan hidup yang sekian tahun tak didukung masyarakat. Dengan pemahaman semacam ini, kritik feminisme boleh jadi akan langsung terbayangkan ketika penonton tiba di sepertiga durasi film. Hal itu bukan tanpa alasan, sebab konflik yang mendera tokoh utama, Enola Holmes, secara jelas menunjukkan hal tersebut. Namun, sebelum membicarakan hal ini lebih jauh, ada baiknya kita menyinggung film ini di permukaan terlebih dulu.

Walaupun membawa nama besar Sherlock Holmes, film ini justru bukan diangkat langsung dari serial detektif karangan Sir Arthur Conan Doyle itu. Film ini diangkat dari seri lain, yakni novel Nancy Springer berjudul The Enola Holmes Mysteries: The Case of the Missing Marquess. Novel ini diterjemahkan tahun 2006 dengan judul Kasus Hilangnya Sang Marquess. Ya, bisa dibilang, novel ini masuk dalam kategori fanfiksi. Springer meminjam semesta imajiner Sherlock Holmes dan menghadirkan Enola Holmes sebagai adiknya. Oleh sebab itu, kehadiran Sherlock Holmes sendiri, berikut kakaknya Mycroft Holmes, lebih seperti pemeran pembantu, sebab kehadiran mereka tidak dominan. Secara keseluruhan, baik di dalam film maupun novelnya, kisah Enola Holmes mendapatkan panggung utama.

Namun demikian, bukan berarti film ini tidak menarik sama sekali. Aktris Millie Bobby Brown tampak sukses menjiwai sosok Enola Holmes yang ceria, lincah, dan cerdas. Dan tak seperti buku atau film Sherlock Holmes, film ini membawa warna detektif yang lain. Tidak ada pengusutan jejak kaki, pengendusan aroma zat tertentu, atau penelusuran bukti di bangkai hewan. Enola Holmes memecahkan kasusnya dengan cara tersendiri, yakni perpaduan dari kecerdasan, ingatan yang tajam, dan kemampuan pengusutan serta penyamaran yang patut diacungi jempol. Kasus pertama yang hendak dipecahkannya adalah mencari ibunya, Eudoria Holmes, yang meninggalkan Elona tepat di ulang tahunnya yang keenam belas tahun.

Itulah konflik pertama di dalam film sekaligus pengejewantahan dari representasi stigma tidak adil pada masyarakat kala itu dalam memandang perempuan seusia Enola. Kala itu, di London akhir abad ke-19, kiranya masih sebuah hal yang tabu mendapati sosok  perempuan seperti Enola yang cenderung lincah dan liar. Anggapan ini bukan datang dari penulis, melainkan dikutip dari pendapat kakak pertama Enola, Mycroft Holmes, yang memandang Enola kurang terdidik sebagai perempuan. Oleh sebab itu, dengan dalih supaya dapat diterima di masyarakat, Mycroft memasukkan Enola ke sekolah kepribadian milik sahabat lamanya, Nyonya Horrison. Ia ingin, Enola belajar tata krama di sekolah itu. Ia ingin, Enola mengerti tata krama berjalan, berpakaian, tertawa, dan bersopan santun sesuai aturan di masyarakat.

Enola jelas bersikeras menolaknya. Ia menganggap, ia tidak butuh sekolah tersebut. Sedari kecil, ia membaca semua buku di perpustakaan Ferndell Hall. Ia mengenal dengan baik Shakespeare, Locke, ensiklopedia, Thackeray, dan esai Mary Wollstonecraft. Sesungguhnya, ia betul-betul gadis yang cerdas. Karena itulah, Enola sampai harus melarikan diri dari rumah. Alasannya sudah jelas: Satu, ia menolak masuk sekolah itu; dan dua, ia ingin mencari ibunya di London setelah mendapati petunjuk di kado ulang tahunnya. Dari situ, dimulailah petualangan Elona Holmes. Perempuan ini menyelinap di kereta api jurusan London dan menyamar sebagai laki-laki. Namun, sesuatu tak terduga terjadi di tengah perjalanannya. Di kereta tersebut, Enola justru dipertemukan dengan seorang putra bangsawan besar yang juga melarikan diri, namanya Viscount Tewkesburry Marquess of Basilwether.

Pertemuan itu, mau tak mau, menjadi mula dari masuknya Elona ke pusaran politik keluarga Marquess. Dalam hal ini, representasi masyarakat di dalam film pun tak berhenti hanya berkisar pada gerakan feminisme tadi. Dari sisi historis, film ini secara baik menyoroti pergerakan politik Inggris kala itu, yakni meletusnya reformasi yang kini dikenal sebagai Undang-undang Reformasi 1832. Secara singkat, reformasi ini menggalakkan keadilan dalam sistem pemilihan umum di Inggris. Reformasi ini ingin seluruh lapisan masyarakat London terlibat di dalamnya, tak peduli mereka datang dari kalangan berpendidikan atau tidak. Maka tak heran, dalam penelusuran Elona di London, didapati olehnya di tempat yang berkaitan dengan jejak si ibu selembaran untuk memicu kekacauan: Protes, rusuh, dan pembangkangan sipil. Ya, tiga hal ini erat kaitannya dengan keberadaan ibu Elona dan eksisnya gerakan revolusioner kala itu.

Dan, sebagaimana beragam gerakan-gerakan tertentu di suatu negara yang mengundang kubu pro dan kontra, gerakan reformasi ini pun demikian adanya. Di kubu kontra, atau boleh dibilang kaum konservatif, datang dari Mycroft Holmes sendiri. Kakak pertama Elona itu secara terang-terangan menganggap gerakan ini konyol. Berikutnya, pihak lain yang menentang gerakan ini juga datang dari keluarga besar Marquess. Penentangan inilah yang memicu terbunuhnya ayah Tewkesburry dan diburunya Tewkesburry hingga membuat pemuda itu kabur, kemudian bertemu dengan Elona di kereta api. Benar, ada pihak yang ingin Tewkesburry terbunuh, sehingga ia tak jadi diangkat sebagai Dewan Bangsawan dan reformasi itu akan terhambat mengingat Tewkesburry sendiri berada di kubu mendukung pembaruan tersebut.

Setelah bertemu Tewkesburry, petualangan Elona Holmes lebih terlihat tantangannya. Sebab, ia bukan lagi memiliki tujuan menemukan keberadaan ibunya, tetapi, ia mau tak mau mesti terlibat dengan masalah pemuda itu. Keterlibatan Elona di sini, kemudian membawa hal lain berikutnya, yakni menemukan jati dirinya. Penonton mesti ingat kalau Elona adalah gadis usia enam belas tahun yang juga tengah berada dalam krisis identitas untuk menjadi apa di masa depan. Perjalanan dan petualangannya bersama Tewkesburry inilah yang sedikit demi sedikit menumbuhkan kedewasaan dan keyakinan dalam diri Elona.

“Pilihannya selalu ada padamu. Apa pun yang dikatakan masyarakat, itu tak bisa mendiktemu,“ kata Sherlock Holmes kepada Elona. Terang, kemudian, kalimat ini meneguhkan Elona untuk memilih jalannya sendiri. Dan itu bisa diartikan sebagai kritik feminisme yang dilayangkan melalui representasi Enola ini: Bahwa pilihan selalu ada di tangannya, tidak peduli anggapan masyarakat kala itu. Sekalipun anggapan itu datang  dari kakaknya sendiri, Mycroft. Lebih dari itu, harapan baik juga menyertai Elona, ibunya ingin gadis itu menemukan kebebasan, masa depan, dan tujuan hidupnya. Sekali lagi, film ini merepresentasikan itu semua secara baik. Melalui Elona Holmes, kaum perempuan memang seharusnya menentukan pilihan hidupnya sendiri. Sebab, seperti dikatakan Elona bahwa, “Hidupku adalah milikku.”

Benar, kita tak perlu terlalu peduli dengan pendapat orang lain atas pilihan yang kita ambil.

6
Wahid Kurniawan
Wahid Kurniawan, penikmat buku, mahasiswa Sastra Inggris di Universitas Teknokrat Indonesia.