Sapardi Djoko Damono telah menutup buku riwayatnya. Minggu kemarin, 19 Juli 2020, jenazah sang penyair disemayamkan di rumah duka Kompleks Dosen UI Ciputat, Tangerang Selatan, sebelum dimakamkan secara tertutup di TPU Giritama, Bogor, dengan protokol kesehatan semasa pandemi covid-19. Hanya pihak keluarga dan kerabat terdekat yang menghadiri pemakaman. Sebelum kepergian, sang penyair memang berjuang penuh melawan penyakit komplikasi dalam dirinya.

Kini sang penyair telah memasuki fase yang jauh hari dituliskan dalam puisinya; Pada Suatu Hari Nanti. Dan sesuai janjinya, para pembaca karya-karyanya tidak akan pernah merasa sepi dan sendiri. Mereka akan tetap mendapati Sapardi dan unggunan api yang menghangatkan dalam bait-bait sajak sang penyair. Selamat jalan dan sampai jumpa, Maestro. Terang jalanmu tanpa mendung dan hujan.

Bagi pemerhati dan penikmat sastra Indonesia, nama Sapardi tentu saja wajib dikenali. Ia seperti api yang menjadi syarat mutlak saat seseorang menghendaki sepotong kayu menjadi abu. Jangankan bagi kalangan pemerhati dan penikmat sastra Indonesia yang minoritas itu, kalau benar-benar berniat membuktikan, Tuan bisa mendapati, ibu rumah tangga biasa pun bisa membaca puisi Sapardi di salah satu halaman undangan pernikahan yang sampai ke tangannya.

Sapardi Djoko Damono telah meraih banyak penghargaan internasional, di antaranya Cultural Award (1978) dari Australia, Anugerah Puisi Putra (1984) dari Malaysia, Mataram Award (1985), SEA-Write Award (1986) dari Thailand dan Anugerah Seni (1990) dari Pemerintah RI.

Sapardi pernah menjabat sebagai Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973–1980), redaksi majalah sastra Horison (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian, dan anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987).

Pada 1988, Sapardi mendirikan organisasi bernama Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (Hiski) dan sempat terpilih menjadi Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode. Dua tahun sebelum itu, ia memang mengemukakan gagasan perlunya mendirikan organisasi profesi kesastraan. Menurutnya, hal itu menjadi penting karena menganggap sastra sebagai khazanah penting yang perlu dikaji lebih dalam.

Pengalaman Traumatik Sang Penyair

Tapi siapa sangka, sastrawan sekaliber Sapardi yang telah dianugerahi berbagai penghargaan pun, masih diserempet permasalahan pahit di dunia penerbitan. Dari CNNIndonesia.com, ceritanya, buku puisi bertajuk Hujan Bulan Juni diterbitkan pertama kali oleh Penerbit Grasindo. Di penerbit itu, buku tersebut cetak ulang sebanyak empat kali. Pada awalnya ia memang menerima royalti atas penjualan bukunya. Tapi beberapa waktu kemudian, Sapardi tidak menerima apa-apa, bahkan sekadar laporan penjualan.

Riwayat tak menyenangkan juga dialami judul bukunya yang lain; Mata Pisau, Aquarium, dan Perahu Kertas. Sapardi pernah menerbitkan sendiri tiga buku puisinya itu. Buku itu tipis saja, sekitar 32 halaman, dan hanya dicetak sebanyak 200 eks. Barulah kemudian orang Balai Pustaka datang dan meminang tiga judul itu berurutan.

“Saya beri untuk diterbitkan. Tapi saya tidak dapat apa-apa. Bukannya saya mata duitan, tapi saya tidak tahu apa buku itu laku atau tidak,” cerita Sapardi.

Selama 17 tahun sejak buku-buku itu diterbitkan, Sapardi tidak mendapat laporan apa-apa. Dan pada tahun 2009, pihak Balai Pustaka kembali mendatanginya dan berniat menerbitkan buku-buku itu lagi. Itulah saatnya Sapardi meluapkan kekesalannya. Ia memutuskan untuk menarik ketiga naskahnya tersebut. Sejak itu ia punya dendam pribadi kepada penerbit.

“Dendam” itu ternyata memicu semangat lain dalam diri Sapardi. Karena pengalaman buruk tadi, dan juga kabar yang ia dapat bahwa Gramedia menyediakan sistem POD (Print On Demand), ia mulai belajar desain buku. Mendesain bukunya sendiri dan tak perlu repot-repot membayar orang.

Sapardi memilih nama Editum sebagai tanda bahwa ia sendiri yang mengerjakan bukunya. Mulai dari desain halaman depan, ilustrasi di bagian dalam, dan puisi yang tertulis di tiap lembarnya, dikerjakan oleh tangan Sapardi sendiri. Termasuk peredarannya, buku-buku tersebut tidak ditawarkan ke toko-toko besar, melainkan dibawanya tiap kali ia menjadi pembicara di acara-acara seminar.

Melihat Sapardi bisa menjual sendiri karya-karyanya, Gramedia mendatangi Sapardi dan meminta hak penerbitan atas buku Hujan Bulan Juni

“Saya bilang nanti dulu, saya masih trauma. Kemudian saya bilang, kalau Anda mau menerbitkan hard cover, saya tetap berhak terbitkan buku soft cover pakai nama Editum,” kata Sapardi melalui CNNIndonesia.com.

Gramedia menyambut baik. Dan ternyata kerjasama itu memberi angin segar bagi Sapardi. Sejak pertengahan 2013, buku tersebut masuk rak Best Seller sebelum masuk cetakan ketujuh pada tahun 2016.

Puisi-Puisi Sapardi Pernah “Dicuri” Mahasiswanya

Pencurian puisi ini tentu saja bukan dalam arti yang buruk. Ini terjadi saat Sapardi mengajar di Universitas Indonesia. Kisahnya, ada kira-kira sekitar sepuluh orang mahasiswa dari Fakultas Sastra Universitas yang diam-diam merekam puisi-puisinya.

Puisi-puisi yang direkam mahasiswanya itu ternyata digarap menjadi lagu. Dan beberapa tahun setelahnya, Sapardi berterima kasih karena “pencurian” puisi itu. Karena dengan dijadikan lagu, puisi-puisi Sapardi justru lebih populer dan disukai banyak orang. Yang paling dikenal dari kesepuluh mahasiswa itu adalah Reda Gaudiamo dan Ari Malibu (alm.), duet keduanya begitu syahdu dengan perpaduan lirik puitis dan petikan nada gitar yang apik. Selain Ari-Reda, puisi-puisi Sapardi juga diterjemahkan ke dalam musik oleh Ananda Sukarlan pada awal 2008 dengan menggelar konser bertajuk “Ars Amatoria”. Ada juga Kartu Pos Bergambar Jembatan Golden Gate San Francisco yang dibawakan Melancholic Bitch “Re-Anamnesis” pada tahun 2017.

Menulis Puisi Karena Tidak Bisa Menyanyi

Penyair berzodiak Pisces ini bertungkus lumus dengan puisi sudah sejak belia. Ia pernah menciptakan delapan belas sajak dalam satu malam. Kegemarannya dengan puisi sudah terlihat sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Atmosfer kesenian itu sepertinya diturunkan dari kakek dan neneknya.  Kakeknya dari pihak ayah gemar membuat wayang dan pernah memberikan sekotak wayang kepada sang cucu. Nenek dari pihak ibunya gemar menembangkan puisi Jawa yang diciptakan sendiri.

Sapardi Djoko Damono, sastrawan dan dosen UI pada Temu Kritikus dan Sastrawan, 12-16 Desember 1984. (KOMPAS/Don Sabdono)

“Tapi saya tidak bisa menyanyi, suara saya jelek,” kata Sapardi yang ternyata pernah menjadi pemegang gitar melodi band Fakultas Sastra UGM di masanya. Dan sejak itulah ia memutuskan untuk mengembangkan keterampilannya sebagai pembuat sajak.

Ia menulis untuk publikasi mulai di kelas II SMA. Saat itu karyanya untuk pertama kali dimuat surat kabar di Semarang. Dan sejak itu, puisi-puisinya banyak diterbitkan majalah sastra, budaya, dan beberapa buku.

Kumpulan sajaknya yang berjudul Sihir Hujan (yang menurut riwayat ditulisnya dalam keadaan sakit) menerima Anugerah Puisi Poetra Malaysia tahun 1984. Hadiah berupa uang sejumlah Rp 6,3 juta pada saat itu digunakannya untuk memborong buku.

Terkait proses kreatif, Sapardi mengatakan, puisi-puisi yang ditulisnya merupakan respons dari apa yang telah dibacanya. Seperti nasihat para penulis pada umumnya, Sapardi menganjurkan untuk banyak membaca puisi agar bisa menulis puisi, seperti halnya orang belajar banyak mendengar agar mahir berbicara.

“Dari sana kosa kata bertambah, kalimat bertambah. Semakin pintar seseorang memilih apa yang dia baca, dia akan terpengaruh. Kalau kita baca sesuatu dan bilang tidak terpengaruh, itu bohong,” ujar Sapardi.

Sang penyair juga meyakini niat menulis jauh lebih penting ketimbang inspirasi. Dan karena itu pula, ia lebih sering merespons dan menuliskan hal-hal yang ada di sekitarnya. Hal-hal yang terjadi dalam kehidupannya sehari-hari. Dari peristiwa-peristiwa nyata yang dialaminya itulah, Sapardi menyebutkan, biasanya ada satu ungkapan atau satu kalimat yang muncul dan menjadi pemicu terciptanya sebuah karya. Tidak perlu memusingkan diri suntuk mencari makhluk bernama inspirasi.

Satu hal yang juga menurutnya penting untuk diperhatikan adalah emosi. Penulis yang baik akan menghindari menulis dalam keadaan emosi.

“Kalau kita emosional, apa saja, baik itu marah, jengkel, muram, ya jangan menulis. Nanti kalau sudah turun ya baru menulis. Ada jarak antara apa yang kita ingin tulis dengan waktu menulis. Jarak estetik namanya. Itu penting sekali,” kata Sapardi melalui CNN Indonesia.

Dan puisi, menurutnya adalah karya seni yang logis. Bukan sekadar luapan perasaan atau emosi tak berdasar. Bait, kalimat, dan tata bahasa adalah struktur yang terhubung satu sama lain. Jika struktur sebuah tulisan atau sebuah puisi sudah kuat, maka semakin kokoh tulisan itu.

Salah satu novelis terkemuka Indonesia saat ini, Eka Kurniawan, seperti yang dituliskannya dalam status Facebook-nya, pernah bertanya pada Sang Maestro perihal intensitas menulisnya yang tinggi. Dan Sapardi menjawabnya dengan rileks tanpa jawaban-jawaban yang berisi argumen kepengarangan. “Biar saya nggak pikun,” demikian jawabnya. Dari jawabannya tersebut, kita dapat melihat bagaimana Sapardi sebagai seorang maestro sudah melampaui semua tetek bengek kesusastraan, dan lebih memilih sebagai Sapardi yang manusiawi, yang kembali pada hakikatnya.

Karya-Karya Sang Maestro

Sapardi selama hidupnya sudah menciptakan banyak karya, yang terdiri dari karya sastra maupun karya ilmiah. Karya-karya berupa puisi dan fiksi antara lain berjudul Duka-Mu Abadi (1969), Lelaki Tua dan Laut (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway), Mata Pisau (1974), Sepilihan Sajak George Seferis (1975; terjemahan karya George Seferis), Puisi Klasik Cina (1976; terjemahan), Lirik Klasik Parsi (1977; terjemahan), Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak (1982, Pustaka Jaya), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia), Water Color Poems (1986; translated by J.H. McGlynn), Suddenly The Night: The Poetry of Sapardi Djoko Damono (1988; translated by J.H. McGlynn), Afrika yang Resah (1988; terjemahan), Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R. F. Brissenden dan David Broks), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998).

Untuk karya-karyanya mulai tahun 2000 antara lain berjudul Ayat-ayat Api (2000), Pengarang Telah Mati (2001; kumpulan cerpen), Mata Jendela (2002), Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro? (2002), Membunuh Orang Gila (2003; kumpulan cerpen), Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia Periode Awal (1870an – 1910an) (2005; salah seorang penyusun), Mantra Orang Jawa (2005; puitisasi mantra tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia), Kolam (2009; kumpulan puisi), Sutradara Itu Menghapus Dialog Kita (2012; kumpulan puisi), Namaku Sita (2012; kumpulan puisi), The Birth of I La Galigo (2013; puitisasi epos “I La Galigo” terjemahan Muhammad Salim, kumpulan puisi dwibahasa bersama John McGlynn), Hujan Bulan Juni: Sepilihan Sajak (edisi 1994 yang diperkaya dengan sajak-sajak sejak 1959, 2013; kumpulan puisi), Trilogi Soekram (2015; novel), Hujan Bulan Juni (2015; novel), Melipat Jarak (2015, kumpulan puisi 1998-2015), Suti (2015, novel), Pingkan Melipat Jarak (2017; novel), dan Yang Fana Adalah Waktu (2018; novel).

Adapun karya-karya nonsastra dapat kita temukan dengan judul-judul berikut: Sastra Lisan Indonesia (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad, Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN. Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan, Dimensi Mistik dalam Islam (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel “Mystical Dimension of Islam”, salah seorang penulis. Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia (2004), salah seorang penulis. Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978). Politik Ideologi dan Sastra Hibrida (1999). Pegangan Penelitian Sastra Bandingan (2005). Babad Tanah Jawi (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939). Bilang Begini, Maksudnya Begitu (2014), buku apresiasi puisi. Alih Wahana (2013), Kebudayaan (Populer) (di Sekitar) Kita (2011), dan Tirani Demokrasi (2014).

3
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.