Seorang lelaki dengan katana di pinggang kirinya—yang selanjutnya kita sebut sebagai sang ronin atau samurai tak bertuan—menyusuri sebuah jalan yang hanya dilalui desir angin. Sesampainya pada tiga cabang persimpangan di depan, ia berhenti dan kedua matanya menimbang-nimbang penuh keraguan. Ia ambil sepotong dahan kayu yang tergeletak di depan tiga buah batu (semacam patung kecil yang mungkin berfungsi sebagai penanda perbatasan atau apa pun itu) dan melemparkannya ke langit. Dahan itu, tentu saja patuh pada hukum gravitasi; jatuh dengan sisi ujung yang bercabang dua mengarah ke salah satu jalan. Sang ronin telah mempertaruhkan nasibnya pada sepotong dahan. Ia langkahkan kaki ke arah yang ditunjukkan dahan itu.

Demikianlah cerita dalam film Yojimbo (1961) bermula. Film klasik yang tumbuh dari tangan dingin Akira Kurosawa, salah satu sutradara asal Jepang yang menginspirasi seni gambar gerak modern. Selain Yojimbo, Kurosawa juga melahirkan film-film bertema sama yang berjudul Seven Samurai (1954) dan The Hidden Fortress (1958).

Selama 57 tahun kariernya di dunia film, Kurosawa telah menyutradarai 30 judul film, yang mengantarkannya sebagai peraih penghargaan Academy Award atau yang disebut juga sebagai piala Oscar pada tahun 1989. Film-film Kurosawa lebih populer di dunia Barat ketimbang di Jepang sendiri.

Dalam film Yojimbo, Kurosawa benar-benar memperlihatkan kepiawaiannya dalam mengolah alur cerita. Tidak seperti film-film mainstream yang menggunakan narasi sebagai pengantar dalam cerita, Kurosawa menjelaskan keadaan atau latar tempat dalam cerita dengan alur dan dinamika tokoh yang hidup.

Untuk memberi tahu penonton tentang sebuah daerah yang dicekam masalah misalnya, mula-mula Kurosawa menjelaskannya dengan sebuah adegan yang diperjelas percakapan dua tokoh. Itu terjadi setelah adegan yang dijelaskan paragraf pertama tulisan ini.

Saat sang ronin melanjutkan perjalanannya ke arah yang ditetapkan sepotong dahan tadi, dari arah muka, datang dua orang lelaki yang selanjutnya kita tahu, keduanya memiliki hubungan darah bapak dan anak. Sang bapak mengejar anaknya yang bersikeras berangkat ke luar daerah untuk menjadi petarung. Sebagai seorang bapak yang mengkhawatirkan keselamatan hidup anaknya, tentu saja ia melarang keras dan menekankan pemahaman bahwa mereka ditakdirkan menjadi petani, dan petani yang baik semestinya melanjutkan hidup di ladang.

Ada suatu pernyataan menarik yang tampaknya ditetapkan sebagai prinsip baru si anak; lebih baik menjalani segenap kenikmatan dan kemewahan meskipun hidup pendek daripada panjang umur tetapi makan bubur sepanjang hidup. Kalimat sang anak tentu cukup mendukung latar belakang cerita dan mewakili kepahitan di wilayah itu.

Sang ronin baru mendapatkan informasi terkait wilayah yang disinggahinya saat ia meminta izin untuk minum di sumur depan rumah milik sang bapak. Ketika sang ronin meneguk air yang baru saja ditimbanya, sang bapak bercakap-cakap dengan istrinya dan menyinggung perihal keadaan wilayah yang ditinggali mereka dengan sinis. Dari percakapan kecil itu sang ronin tahu bahwa dua kelompok menguasai wilayah tersebut; kelompok pedagang sutra dan pedagang sake. Kedua kelompok mafia ini berseteru hingga menimbulkan kecemasan bagi orang-orang yang tinggal di wilayah itu.

Adegan di atas baru menjelaskan skala kecil suasana wilayah yang disinggahi sang ronin. Penggambaran yang mencekam diperjelas pada adegan selanjutnya. Sang ronin akhirnya tiba di suatu tempat yang mungkin bisa kita sebut sebagai pusat kota/wilayah: angin bertiup kencang menerbangkan daun-daun dan debu jalanan (demikianlah penggambaran dalam film), sementara orang-orang menatap cemas sang ronin dari celah jendela atau pintu. Kurosawa menghadirkan kengerian yang misterius di wilayah itu dengan adegan seekor anjing yang berlari-lari kecil dengan sepotong tangan manusia di mulutnya dan melewati sang ronin yang memandangnya getir.

Yojimbo sendiri, judul film ini, secara harfiah memiliki arti sebagai pengawal/penjaga. Kehadiran sang ronin di wilayah itu akhirnya menjadi rebutan bagi kedua kelompok, setelah sang ronin membuktikan keahliannya dengan menebas putus tangan milik dua orang dari kelompok pedagang sake.

Ia tidak memperkenalkan nama aslinya, Kurosawa sepertinya lebih berkehendak untuk menjadikan tokoh utama dalam film ini terbalut dalam kemisteriusan. Sang ronin hanya memperkenalkan diri sebagai Kuwabatake Sanjuro setelah pandangannya melesat jauh ke sebuah ladang murbei. Kuwabatake Sanjuro, secara harfiah bermakna ladang murbei berusia 30 tahun.

Secara tersirat, film ini juga memasukkan unsur historis Jepang. Latar waktu yang digunakan dalam film ini adalah masa peralihan dari periode Edo yang ditandai dengan pemerintahan keshogunan Tokugawa selama 264 tahun. Pada zaman Tokugawa, rakyat Jepang dikelompokkan oleh sistem kasta dengan hierarki tertinggi yang dipegang oleh kelas Samurai. Pemberontakan kerap terjadi karena sistem kelas yang kaku dan tidak adanya pengakuan terhadap perpindahan kelas. Keshogunan Tokugawa tumbang setelah Perang Boshin, dan mengakibatkan perubahan sosial bagi para samurai.

Sang ronin dalam film ini, adalah salah satu samurai yang terkena dampak. Itu ditunjukkan secara halus oleh Kurosawa di awal film, saat sang ronin tanpa nama ini menentukan hidupnya dengan sebatang dahan. Berakhirnya periode Edo membuat kasta samurai tidak diakui lagi, dan kebanyakan mereka pada akhirnya menyambung hidup dengan berkelana, mencari pekerjaan dengan keahlian ilmu pedang yang dimiliki.

Dalam film ini, Kurosawa tidak menjadikan karakter tokoh-tokohnya hitam-putih. Tokoh-tokoh bertindak dan bergerak secara manusiawi. Termasuk tokoh sang ronin kita. Ia adalah penjelmaan dari sikap manusia yang lebih senang menertawakan segala hal yang terjadi di sekitarnya. Sebuah sikap yang terkadang diperlukan untuk menanggapi manis dan pahitnya keadaan dalam hidup. Ia juga tidak terang-terangan bersikap heroik saat dirinya tersentuh oleh penderitaan seorang anak yang ibunya dijadikan tawanan oleh pimpinan kelompok pedagang sake.

Di salah satu adegan pertengahan film, ia bertindak sebagai Yojimbo yang penuh dengan siasat. Ia putuskan bergabung dengan kelompok mafia sake, dan dengan memanfaatkan kepercayaan dari kelompok itu, ia menyelamatkan ibu si anak kecil. Dalam waktu singkat dan efektif, sang ronin menghabisi para penjaga dan memanipulasi peristiwa yang terjadi dengan cerita karangannya.

Berbeda dengan tokoh jagoan dalam film pada umumnya, sang ronin tidak mengatakan hal-hal baik pada si anak kecil dan ayahnya saat berniat membantu mereka. Malahan sang ronin mengatakan kalimat sinis yang membuat ayah si anak kecil tertunduk, “Aku sangat membenci kelemahan.” Ia membantu dengan tindakan, dan sangat tidak berkenan dengan ucapan terima kasih mereka, meskipun pada akhirnya pengkhianatan sang ronin terungkap dan diketahui kelompoknya.

Motif yang mendasari sikap sang ronin tersebut pada dasarnya adalah bentuk kewajaran yang bisa dilakukan setiap manusia. Kebaikan, seperti halnya buang hajat, terkadang bukanlah hal yang harus disikapi dengan haru biru dan perasaan heroik. Itu hal yang biasa saja. Kemanusiaan adalah hal yang memang seharusnya ada pada tempatnya, tanpa harus memperlakukannya dengan sentimentil.

Kurosawa menampilkan gerak seorang samurai secara realistis dalam film ini. Tidak dengan adegan-adegan laga yang penuh koreografi. Sekian gerak pertarungan dihadirkan dengan gerakan yang efektif dan apa adanya. Selain itu, Kurosawa juga menjaga detail kausalitas dalam cerita secara apik. Saat sang ronin berkali-kali melempar pisau yang menancap tepat pada daun yang tertiup angin, tentu saja dimunculkan bukan tanpa motif. Pada adegan tersebut, keahlian sang ronin yang terkesan main-main tapi membuat takjub itu semacam memberi petunjuk pada penonton, bahwa keahlian sang ronin melempar pisau akan terpakai di akhir film.

Kesamaan film Yojimbo dengan film-film laga kebanyakan adalah, tokoh utama sama-sama mendapat kemenangan di akhir cerita. Namun, sang ronin lebih memutuskan untuk meninggalkan wilayah itu dan mungkin mengundi nasibnya kembali dengan sepotong dahan di persimpangan jalan.

4
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.