-tidak ada cara ampuh menyembuhkan lara akibat patah hati, kecuali dengan ….

 

Sebagaimana kiat salah satu puisi dari enam puluh enam puisi yang ditulis Niskala dan Asef Saeful Anwar, yaitu Kiat-Kiat Mencegah Lara, saya mendekati sewajarnya dan mengharapkan sewajarnya. Mendekati puisi-puisi ini dengan sewajarnya tidak sesulit mendekati sosok yang tidak pernah mencintai kita, karena puisi-puisi ini telah bersedia mencintai kita sejak Semesta di Tubuhmu berkata:

suatu hari aku ingin
berkunjung di tubuhmu
menyusuri belantara kerinduanmu.

Mudah. Sebab jika kau datang dalam keadaan penuh lara, maka bukankah ketika ada yang menunggumu dengan pelukan terbuka sudah merontokkan satu lara? Dirimu akan jadi rumah dan dirawat dengan baik dan jadi sumber kebahagiaan. Namun, berhati-hatilah. Kita harus tetap waspada pada setiap larik, setiap bait, dan setiap puisi yang dibaca. Waspada dengan pertanyaan mengapa ia hanya ingin berkunjung dan tidak ingin menetap? Mengapa ia ingin berkunjung ke ingatanmu, untuk memastikan bahwa ia satu-satunya orang yang tak sanggup kau lupakan?

Pertanyaan tersebut, mungkin adalah satu dari sekian cara mengharapkan sewajarnya. Sering kita dinasihati agar mengharapkan sewajarnya, tapi seperti apakah mengharapkan sewajarnya? Wajar dengan batas-batas yang kabur? Bukalah halaman berikutnya, maka akan kau temukan cerminan dari perasaan ditinggalkan. Pertanyaan yang sama, cara mengenang yang sama, juga pilu yang sama. Puisi-puisi ini sama seperti kita, masih mencari-cari dan berusaha tidak jadi pembenci setelah berulang kali dilukai dan melukai. Ada satu harapan yang boleh dilebih-lebihkan, yaitu percakapan yang melegakan. Dirimu akan jadi pendengar dan didengarkan. Dengan catatan: kau membawa lara dan sanggup merasakannya. Jika tidak, hanya akan kau temukan seorang penyair yang terombang-ambing dalam kata-kata sementara kemelut hidupnya sembunyi dalam puisi-puisi tertentu dan nyaris tidak terbaca.

Semisal, puisi “Betapa Tidak Tahu Dirinya Aku Menulis Puisi Hujan” menghujani ingatan kita tentang bagian-bagian pahit dalam hidup. Bahwa hidup yang menantang bisa jadi adalah petualangan dari utang ke utang karena gaji kecil dan kebutuhan hidup yang tak memadai, tidak bisa diajak nongkrong di kafe sambil menikmati sepotong quotes penyair pemula. Dalam puisi ini, penulis membawa setiap kekacauan yang selama ini samar. Apakah kau juga merasakannya? Merasakan setiap pertengkaran kecil karena sibuk berselisih paham tanpa berusaha saling mengerti, merasakan hatimu hancur sebagai rakyat yang habis-habisan mengulurkan tangan tapi lagi-lagi yang lebih tinggi tidak pernah mengerti. Akhirnya kau nyaris putus sekolah, mati-matian berusaha menjaga dua atau tiga nyawa-orang tua, dirimu, anakmu, juga puisi-puisimu. Kau menerima dan memaafkan lagi, kembali bekerja dan merasa lelah berkepanjangan.

Sejenak mari kita melihat bagaimana penyair Niskala dan Asef Saeful Anwar bermain-main dengan lara dalam puisinya. Puisi “Mendengarkan Radio Dangdut” misalnya, terasa merdu karena persajakan dan kesenduannya. Seperti lirik lagu dangdut yang pernah saya dengar, misalnya dalam lagu Tersisih Rita Sugiarto–walau puisi ini seperti buat Evi Tamala–, puisi ini barangkali bisa disebut sebagai puisi dangdut, yang masih jadi pertanyaan, bagaimana bentuk sebenarnya dan tidak banyak penyair menulis tentang puisi dangdut. Kemudian dalam puisi “Bermain Peribahasa”, penyair menulis ulang beberapa peribahasa menjadi renyah dan lucu, hingga kau akan terkurung dalam pernyataan “iya juga, ya…” seperti dalam kutipan berikut.

#3

Ketika kau menuduh seseorang sebagai musuh dalam selimut

Kau mungkin tak sadar kaulah yang selama ini menyelimutinya.

(di bawah selimut tidak selalu ada cinta)

 

Pada awalnya, satu puisi dengan puisi lain sebagai bentuk kolaborasi dalam antologi ini terasa berebut isi dan berebut sepi. Entah siapa yang jadi sepi dan siapa yang jadi isi. Namun, jika harus memilah, maka Asef Saeful Anwar menggiring sepi ke ruang puisi, sementara Niskala menjadi isi dalam puisi-puisi mereka. Saya berusaha memahami semampunya agar bisa memuji sepantasnya. Tapi saya tidak akan pernah menerima seadanya, sebab mereka tidak boleh mentok sampai Kiat-Kiat Menyembuhkan Lara, sekalipun saya harus gagal mencegah lara.

Akhir kata, buku ini tidak memiliki pengantar. Kau harus mengantarkan dirimu sendiri, mencari kunci, dan membuka puisi demi puisi yang asam dan pahit. Lalu pulanglah dengan pilihan, memaki atau memaafkan.

Judul Buku : Kiat-Kiat Menyembuhkan Lara

Penulis : Niskala & Asef Saeful Anwar

Penerbit : Shira Media

Tahun Terbit : 2020

2
Ng. Lilis Suryani
Ng. Lilis Suryani lahir di Cianjur, Juli 1996. Menyelesaikan pendidikan di Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM. Pernah aktif di Komunitas Sastra Cianjur dan Sanggar Puisi Lincak. Senang menulis puisi. Sekarang tinggal di Yogyakarta.