Aku menemukan Ahu begitu urakan di apartemennya. Wajahnya memelas, bahkan tampak lebih menyedihkan dari seorang yang baru saja dipecat tanpa pesangon. Beberapa jenis pakaian berserakan di lantai, botol-botol air mineral yang sudah kosong tergeletak di ranjang dan meja. Dan bau tubuh Ahu agak tengik.

Tentu saja aku dibuat penasaran. Tidak biasanya Ahu seperti ini—sesuatu telah menimpa Ahu, dan aku ingin tahu itu apa.

Sebagai teman yang baik—percayalah, aku tidak beromong besar—aku menawarkan diri menjadi pendengarnya. Aku menarik kursi dan duduk di dekat Ahu, memintanya menceritakan hal apa yang membuat ia tidak karuan. Setelah berkali-kali aku pinta, akhirnya Ahu mau bercerita.

Ahu mengatakan keadaannya sedang gawat: pacarnya hamil. Pacarnya bilang kepada Ahu bahwa anak yang ia kandung itu adalah anaknya Ahu, walaupun perempuan itu juga bercinta dengan beberapa lelaki. Ahu menolak berita itu, sebab ia hanya peduli pada kenikmatan saat ia menancapkan kelaminnya, dan tidak sekali-kali ambil pusing jika sewaktu-waktu perempuannya hamil.

Tetapi kali ini Ahu benar-benar pusing. Ahu kesal dan marah kepada pacarnya, kepada dirinya, dan kepada situasi yang menurutnya keparat. Ia menyesali hubungannya dengan Ruri, pacar yang ia sudah bikin hamil.

Sial bagiku sebab harus mendengarkan Ahu bercerita panjang, tidak seperti yang kubayangkan, dan tidak hanya tentang hubungannya dengan Ruri, tetapi juga kisah cintanya bersama orang lain. Aku terkejut dan baru mendengar kisah cintanya yang lain itu—yang menurutku juga keparat.

Walau aku dan Ahu sendiri bilang percintaannya keparat, aku kira ada hal yang bernilai baik, sedikitnya, katakanlah, semacam kiat untuk meninggalkan kekasih—karena itulah aku rela repot-repot mengisahkan ini kepadamu.

MEDAN, 2013

Bukan lantaran jatuh cinta sehingga Ahu menerima Sinta sebagai kekasih, tetapi tiada alasan selain agar ia tak lagi merancap. Ahu berpikir, bila sudah punya kekasih, urusan berahi tak mesti ditunaikan oleh jemarinya, tetapi bisa tuntas dengan Sinta. Apalagi Sinta begitu mencintainya.

“Aku telah lama mencintaimu,” kata Sinta sekonyong-konyong pada suatu siang di bawah naungan pohon saga. “Mau kau jadi pacarku?”

Ia tak pernah menyangka perempuan itu berani menyampaikan isi dan maksud hatinya kendati Ahu sudah tahu perihal Sinta menaruh hati kepadanya sebab obrolan teman-teman Sinta sampai ke telinganya. Ahu menghargai kenekatan Sinta itu. Namun ia menerima Sinta sebagai kekasih bukan agar terlihat beradab—manusia yang harga-menghargai. Lebih dari itu, bagi Ahu ini adalah kesempatan yang tak seharusnya dilewatkan. Ahu berpikir ia hanya butuh siasat kecil agar Sinta kian luluh, walau kemungkinan akan berjalan baik-baik saja meskipun tanpa bersiasat.

“Aku juga mencintaimu,” sahut Ahu. Ahu menambahkan bahwa sejak hari-hari pertama melihat Sinta, ia dibuat penasaran.

Ahu mengucapkan omong kosongnya dengan tenang dan mengakhirinya seraya menyungging senyum. Suara lembut dan senyum menawan kepunyaan Ahu bagai tali yang mengikat Sinta. Senyum itu bikin Sinta sering susah tidur setelah kali pertama mereka berpapasan di lorong gedung laboratorium kampus. Sejak saat itu, Sinta mencari-cari cara agar bisa bertemu Ahu. Maka pantas kiranya bahwa tak ada yang lebih bahagia bagi Sinta selain mendengar Ahu yang juga cinta dia. Walau mengandung unsur manipulasi, tetap saja Ahu dan Sinta menjalin hubungan kekasih sebagaimana sepasang makhluk yang saling mencinta, selepas percakapan singkat yang sama sekali tak romantis itu.

Minggu-minggu awal pacaran, Ahu tampak elegan. Ia tak ingin tergesa-gesa dan merusak alasan sekaligus tujuan ia menerima Sinta. Ahu masih mempekerjakan jemarinya untuk merancap sekurang-kurangnya empat kali dalam sepekan. Nanti ada masanya, batin Ahu.

Satu kali, mereka berjalan-jalan ke lapangan sepak bola di kampus, jikalau ada yang sedang bertanding, mereka menonton tanpa antusias, sekadar menghabiskan waktu berduaan. Satu kali yang lain, mereka pergi ke bioskop menonton film luar negeri yang sedang ramai dibicarakan oleh orang-orang di kantin fakultas. Mereka berulang kali melakukan itu.

Pertemuan telah mengubah kampus dan bioskop menjadi tempat yang membosankan. Sinta merasa perlu suasana beda, sedangkan Ahu tidak akan pernah bisa mewujudkan impiannya di lapangan sepak bola. Ahu menemukan tempat yang lebih memungkinkan agar yang didambakannya itu terlaksana, dan indekos adalah jawaban yang paling pas.

“Aku bisa ke kosmu,” ucap Ahu. Sinta membalas, “Datanglah, tapi pulangnya tak boleh larut.”

Di hari yang ditentukan, Ahu menuju indekos Sinta. Kedatangan Ahu sudah dinanti oleh Sinta yang ramah menyambutnya di ruangan sekitar empat kali tiga meter persegi. Tidak banyak barang di sana: ranjang kecil yang tampak sesak bila dua orang dewasa berbaring di atasnya; satu meja belajar dengan buku-buku tersusun rapi di atasnya; lemari kecil berdiri di salah satu sudut ruangan; kamar mandi kecil yang dilengkapi jamban dan ember tampungan air; galon air berpompa dan dua cangkir di sampingnya; poster bintang film Korea dan jam menempel di dinding—singkatnya, kehadiran Ahu masih menyisakan area lowong untuk rebahan di lantai sekalipun.

“Beginilah kamarku,” Sinta berucap agak canggung. “Sederhana.”

“Rasa-rasanya aku akan betah berlama-lama dan rajin berkunjung ke sini.”

Hari-hari selanjutnya Ahu semakin sering menandangi Sinta. Dalam beberapa kesempatan, Ahu merayu kekasihnya itu untuk bercinta. Setiap Ahu merayu, Sinta selalu menolak. Sinta selalu menolak sampai Ahu berpikir tidak ada gunanya berpacaran dengan Sinta, sebab ia hanya bisa mengandalkan jemarinya tatkala libidonya bangkit. Hingga mereka mengakhiri hubungan kekasih, tidak sekali pun Ahu berhasil menyetubuhi Sinta. Yang terjadi adalah masing-masing mereka merasa direndahkan. Sinta merasa dilecehkan tiap kali Ahu memintanya menanggalkan pakaian. Sementara Ahu terusik ketika Sinta berulang kali berkilah bahwa bersetubuh di luar pernikahan itu dilarang agama dan dosa besar.

Namun hal yang bikin Ahu begitu marah bahkan mengutuk adalah ketika ia tahu Sinta hamil sebelum menikah. Sejak berita itu tersiar, Ahu kerap beranggapan pemeluk agama tidak lebih dari kumpulan orang munafik. [Dan yang terakhir ini, aku kira Ahu berlebihan.]

JAKARTA, 2019

Ahu baru saja tiba di hadapan pintu rumah kontrakan Ruri. Ruri segera menghampiri dan menariknya masuk, tepat ketika Ahu hendak melangkahkan kaki melewati kisi-kisi.

Dengan wajah tegang, Ruri mengatakan bahwa ia hamil.

Ahu terbelalak mendengar informasi itu. “Kau hamil?”

“Aku hamil. Rahimku sudah berisi benihmu.”

“Apa? Aku tak yakin itu anakku.”

“Ini anakmu, Ahu.”

“Bagaimana aku bisa percaya, kau tidur tidak hanya denganku. Kalau pun kau hamil, bisa jadi itu anak orang lain.”

Ruri menegaskan kembali bahwa ia hamil oleh Ahu. Ruri memang bercinta dengan banyak lelaki, dan Ahu tahu itu. Namun sudah sebulan terakhir Ruri berhenti bercinta dengan bekas pacarnya dan lelaki lain—dan sebulan belakangan itu pula Ruri hanya bersama Ahu. Pengakuan Ruri itu tidak berarti apa-apa bagi Ahu karena usia kehamilan sudah lebih dari sebulan.

Dan tetap saja Ahu menyangkal telah menghamili Ruri.

“Aku tak percaya.”

“Ini anakmu. Kau harus nikahi aku.”

Sekali lagi, Ahu tetap membantah. Ruri kian naik darah, sehingga dengan sekuat tenaga ia mendorong dada Ahu yang bidang dengan kedua tangannya. Dorongan kasar mungkin saja membuat Ahu terjengkang kalau ia tak ligat mengendalikan tubuhnya.

Ahu menukas setelah beberapa jenak mereka diam, “Aku belum siap menikah.”

Ruri lekas membalas perkataan Ahu dengan melontarkan nama-nama mamalia. Ruri bilang Ahu itu anjing, monyet, kerbau, serigala, dan babi. Menurut Ruri, Ahu telah berubah menjadi sejenis makhluk yang tahu enak saja tetapi tidak mengenal tanggung jawab. Ruri menyampaikan seluruh pendapatnya itu dengan kegeraman yang tinggi.

Ahu berupaya menenangkan diri. Ia menghela napas panjang seraya pikirannya mencari-cari jalan keluar atas persoalan mereka. Ia mencintai Ruri, namun hidup sebagai seorang suami—dan kelak menjadi ayah—merupakan sesuatu yang menyebalkan. Sekitar dua menit memeras pikiran, ia melahirkan solusi yang barangkali tidak begitu layak bagi sepasang manusia dewasa, tetapi kondisinya memungkinkan untuk dilakukan.

“Gugurkan saja kandunganmu.”

Sontak Ruri berkata, “Dasar binatang.” Napas Ruri memburu. Ruri menguakkan seluruh kekesalannya kepada Ahu. “Kau mau bunuh anakmu. Hah? Anjing saja tak pernah bunuh anaknya. Kau lebih-lebih dari anjing. Taik…”

[Sebentar! Apakah anjing tidak pernah membunuh anaknya? Aku tahu Ruri bukan seorang zoologis atau pemerhati anjing, dan aku hanya tahu tetanggaku punya anjing yang suka bercinta di depan gerbang rumahku yang membuatku ingin sekali membunuh mereka jika saja pecinta anjing lenyap dari muka bumi ini. Kau tahu, aku malas mencari tahu di internet atau di perpustakaan, dan aku menantimu mengirimkan informasi tentang sifat-sifat atau kemuliaan anjing ke surel jasmansimanjuntak@gmail.com]. Maaf…

Ahu hanya berdiri, tanpa bersuara. Ruri memalingkan wajah, membelakangi dan dua langkah menjauhi Ahu. Entah apa yang ia pikirkan di balik lesunya tatapan Ahu.

Masih membelakangi Ahu, Ruri berujar, “Aku akan membesarkan anak ini tanpa kau, ayahnya. Kau boleh pergi. Kau pergi dari sini dan dari hidupku.”

Ahu hendak protes, namun Ruri kembali mengusir saat Ahu mulai bicara. “Pergi!”

“Tapi aku mencintaimu.”

“Taik, pergi kau. Monyet!”

SIBOLGA, 2015

Segelas es kelapa muda bersanding dengan segelas air perasan jeruk yang hangat di atas meja. Pelayan baru saja mengantar pesanan Ahu dan kekasihnya.

Sebagaimana Sabtu malam yang lalu, Pantai Ujung Sibolga lebih ramai pengunjung ketimbang hari biasa. Kendati angin darat kerap membawa gigil, tetap saja tempat ini jarang sepi.

“Ini malam yang ramai, tapi aku tetap ingin bicara serius denganmu.”

“Santai saja. Nanti itu yang serius,” balas Ahu. “Minum dulu, lihat-lihat orang dulu.”

“Maaf Ahu, aku tidak bisa lama.”

“Ada apa?”

“Aku senang dan semakin cinta kepadamu setelah empat bulan kita pacaran.”

“Baguslah,” tukas Ahu seraya mencolek tangan kiri kekasihnya.

“Sebentar, jangan bicara dulu. Biar aku lanjut”

Ahu menurut.

“Aku rasa kau pacar yang baik, dan entah aku baik atau tidak bagimu. Aku bilang kau baik karena kau punya rencana tentang hubungan kita. Kau tak mau membebani dirimu sendiri dan tak juga mau membebaniku terus-menerus. Aku kira, hubungan yang saling menanggung adalah hubungan yang sehat. Mungkin karena itulah aku merasa nyaman denganmu dan semakin cinta…”

Kekasih Ahu memberi jeda pada omongannya seraya meneguk es kelapa muda. Melihat itu, Ahu menyarankan agar kekasihnya menandaskan minumannya terlebih dahulu, dan bila perlu memesan yang lain, atau melihat orang-orang yang ribut dengan tawa, atau menatap ke laut, atau menyulut sebatang rokok, atau… Menurut Ahu, pembicaraan yang serius itu sebaiknya ditunda saja. Akan tetapi, kekasihnya berkukuh melanjutkan omongannya.

“Kau harus tahu bahwa aku mencintaimu. Tidak sedikit pun aku meragukanmu. Tapi, aku rasa kita harus mengakhiri hubungan ini.”

Ahu menganggap apa yang kekasihnya katakan tidak lebih dari candaan belaka, dan itu tidak lucu sama sekali. Ahu mengatakan kepada kekasihnya agar ia menghentikan gurauan. Namun kekasihnya lekas membalas, seakan ingin menegaskan bahwa ia tidak tengah bercanda.

“Aku serius.”

“Apa?”

“Sebaiknya kita putus.”

“Bagaimana bisa? Kau bilang kau makin cinta dan nyaman denganku.”

“Iya, tapi hubungan kita harus berakhir.”

“Mengapa?”

“Aku rasa yang pendeta katakan saat ibadah Minggu kemarin itu benar. Aku yakin kau ingat apa yang dia bilang. Hubungan kita ini tidak ada benarnya di mata Tuhan. Kita berdosa dan telah melanggar kehendak Tuhan. Aku tidak mau berdosa karena hubungan ini, dan aku tidak ingin masuk neraka karena itu.”

Ahu menjadi kesal mendengar perkataan kekasihnya. Ia geram sebab kekasihnya begitu saja termakan omongan pendeta itu—yang Ahu dan kekasihnya tidak tahu nama pendeta itu sebab merasa tidak perlu tahu dan mereka hanya dua kali mengunjungi gereja itu. Ahu lebih geram lagi kepada pendeta yang sok tahu perihal dia dan Lingga. Bagi Ahu, pendeta itu adalah keparat penjaja surga dan neraka. Dan menurut Ahu, kekasihnya itu sudah begitu bodoh mau mendengarkan omongan pendeta jahanam itu. [Ahu benar-benar mengatakan kata-kata kasar itu, dan aku kira tak elok mengurangi kadar kekesalannya dengan mengganti “keparat penjaja surga dan neraka” dan “pendeta jahanam” menjadi diksi yang lebih ramah.]

Ahu mengeluhkan keputusan kekasihnya. Namun kekasihnya hanya berkata, “Maafkan aku, Ahu.”

Kekasihnya hanya berkata, “Maafkan aku, Ahu.”

Ahu tidak tahan lagi dengan sakit hati dan kekesalan yang sekaligus menimpanya. Ia sudah meneguk air perasan jeruk—yang tak lagi hangat—hingga tandas. Ia kira dengan meminum itu, ia bisa lebih tenang. Tetapi menenangkan perasaan yang sedang kacau tidak cukup dengan air perasan jeruk.

Ahu bangkit dan meninggalkan kekasihnya. Ia pergi membawa sakit hatinya.

Setelah tiga menit berlalu, kekasih Ahu menyusul. Namun beberapa meter saja kekasih Ahu melangkah, suara dari belakang mencegatnya, “Bang, minumannya belum dibayar.”

Kekasih Ahu mengeluarkan uang dan membayar tagihan.

6
Jasman Fery Simanjuntak
Saya lahir dan dibesarkan di Sibolga, Sumatera Utara. Menyukai buku-buku sastra dan non-fiksi bertema lingkungan hidup dan seksualitas dan gender. Saat ini berdomisili di Tangerang, Banten. Bila ingin berkomunikasi, dapat dihubungi melalui jasmansimanjuntak@gmail.com