Di berugak bambu reot; di hadapan botol dan gelas-gelas berisi tuak, bangkai-bangkai gayas yang menyusut, hangus; disaksikan lalat-lalat yang terbang gelisah, Maq Colaq dan Man Kadip menantang nenek moyang Sumir.

Sumir hanya duduk bersila. Tubuhnya yang tidak berbaju tampak berkilau. Terutama perutnya yang telah membuncit. Dan ia tertawa setiap mendengar kata api. Tawa dengan sedikit seringai dan guncangan kedua bahu. Lalu ia tenggak habis isi gelasnya.

Beberapa potong kayu menyala di halaman. Mendesis-desis.

“Itu api,” Maq Colaq menunjuk api. Sumir diam saja. “Itu, di halaman, buka matamu!” kata Maq Colaq lantang, lalu cepat ia ketawa yang kemudian diikuti oleh Man Kadip. “Api di depannya ndak dia lihat. Mungkin ada nenek moyangnya di sini. Makanya dia ndak lihat, haha,” tambah Man Kadip.

Tentu Sumir melihat ujung-ujung kayu bakar yang membara itu. Tetapi, kedua rekannya berharap ia turun dan menunjukkan kesaktiannya. Bukan hanya duduk di tempatnya dan terus mengatakan dirinya tidak bisa apa-apa.

Jika membahas hal lain, Maq Colaq, Man Kadip, dan Sumir, akan saling hujat sampai urat-urat leher mereka menegang. Tetapi, jika sudah membahas api, maka secara otomatis Man Kadip dan Maq Colaq berada di satu kubu. Mereka berdua akan bersama-sama menyerang Sumir, sampai apa yang mereka harapkan terkabulkan. Namun, Sumir hanya menanggapi mereka dengan tertawa nyengir, menampakkan barisan giginya yang telah berwarna kuning kehitaman.

“Ayo ambil api itu, pakai tanganmu!” perintah Maq Colaq.

“Ayo, mumpung saya masih di sini,” tambah Man Kadip.

Tadinya, ia hendak pergi ke Makam Meleko mencari nomor togel seperti biasanya. Ia tidak mengerti kenapa ia malah terdampar di rumah Maq Colaq dan mabuk. Sayup-sayup ia masih ingat tujuan awalnya. Ingatan yang dengan cepatnya menghilang.

“Apa tadi?” tanya Sumir. Pada saat kedua rekan minumnya berbicara, ia sibuk mengunyah gayas demi gayas yang ia jejalkan ke dalam mulutnya.

“Apa tadi, Man Luh?” tanya Maq Colaq ke Man Kadip; yang ditanya berpikir sebentar. Ia juga telah melupakan kata-katanya sendiri. Puluhan gelas tuak yang masuk ke dalam tubuhnya membuat ingatannya payah.

“O, ya, saya suruh kamu ambil api itu,” katanya mendadak.

“Ah! Saya ndak bisa. Ayah saya saja yang bisa.”

“Suruh ayahmu ke sini, kakekmu, semuanya.” Maq Colaq kembali berkata dengan lantang, seperti marah-marah.

“Ayo dong, saya mau pergi sebentar lagi ini,” desak Man Kadip. “Segelas lagi habis, saya pergi langsung,” ancamnya lagi.

Tadi, beberapa saat setelah Man Kadip duduk di berugak, sambil menuangkannya tuak, Maq Colaq bercerita.

“Tadi malam, Sumir kunyah bara api,” katanya.

“Wah! Api?” Man Kadip tidak percaya.

“Ya, api,” kata Maq Colaq penuh tekanan.

“Saya mau bisa juga,” Maq Colaq menepuk bahu Sumir.

Man Kadip mengurungkan niatnya untuk pergi. Ia berharap Sumir akan menunjukkan kebolehannya dan pada saat itu ia akan menanyainya nomor togel.

“Ayo, Sumir,” perintah Man Kadip.

“Ya, ayo, sekarang!” tambah Maq Colaq.

“Haha, saya ndak bisa, Man Gde, Saya ndak bisa.”

Naq Colaq, istri Maq Colaq, ketakutan dari dalam rumah. Setiap kali ia mendengar suaminya memaksa Sumir untuk memakan api, seperti yang ia lihat malam sebelumnya, darahnya akan tersirap dan ia mulai mengumpat-umpat.

“Kamu kek makan api sana, lain-lain aja. Jangan mau Sumir,” teriaknya. Ludah berwarna merah karena mamahan sirih muncrat dari mulutnya. Di dalam, ia sedang berusaha mencari tingo di pusarnya. Disinari lampu teplok yang tentu sangat redup. Karena kata-kata suaminya di luar membuatnya tidak tenang, ia membentak-bentak, berusaha membuat suaminya paham bahwa ia sedang mencari tingo dan tidak akan bisa menemukan apa-apa kalau suaminya masih terus berbicara.

“Diam!” bentak suaminya dari luar.

Man Kadip tertawa. Sumir tertawa. Maq Colaq juga tertawa. Mereka lupa perkara api. Naq Colaq semakin menggila. Ia berdoa gayas yang telah dimakan suaminya hidup lagi dan menggerogoti ususnya.

Yok! Ayo dong! Itu apinya sudah besar,” Man Kadip tidak sabar.

“Saya ndak bisa. Ayah saya aja yang bisa,” kata Sumir.

“Panggil ayahmu,” Man Kadip berkata seperti menantang. “Siapa sih ayahmu? Dia bisa pegang api? Ah, saya ndak percaya, kalau emang dia bisa pegang api, suruh dia datang sekarang, pegang api itu.” Ia menunjuk api di halaman dengan wajahnya, “Jangan-jangan ayah kamu ndak bisa apa-apa, haha.”

Mereka berdua kompak, sahut-sahutan, menghina ayahnya, mengungkapkan segala macam keburukan yang begitu saja lahir di kepala mabuk mereka.

Kesal karena ayahnya dihina, Sumir tiba-tiba meloncat turun. Dan tanpa menunggu lama; tanpa mengucapkan apa-apa lagi, dengan kedua tangannya ia meraup bara api, membuka mulut, dan memasukkan setangkup bara yang merah menyala ke dalam mulutnya yang membuka lebar itu.

Seketika senyap. Tidak ada yang tertawa. Maq Colaq dan Man Kadip bahkan berhenti bernapas. Dari lubang dinding, Naq Colaq melihat api naik turun. Dan, karena begitu ketakutan, Ia meneriakkan umpatan-umpatan apa pun yang terlintas di kepalanya, bukan hanya untuk suaminya, tetapi juga kepada Man Kadip dan juga Sumir. Ia berseru bahwa Man Kadip adalah manusia yang lebih buruk dari anjing dan tidak pantas diberi makan, dan mengatakan Sumir laki-laki yang lebih bodoh dari batu-batu di sungai.

Namun, baik suaminya maupun Man Kadip tidak menggubrisnya. Tuak telah membuat mereka tidak memberi perhatian pada umpatan-umpatan, sekejam apa pun umpatan itu.

“Ayo ajarin saya,” bujuk Maq Colaq setelah Sumir kembali duduk.

“Ayo, ajarin saya juga, biar saya bisa tidur di api, cari nomor togel,” tambah Man Kadip.

“Saya ndak bisa, saya ndak bisa, haha,” jawab Sumir.

“Terus siapa yang bisa?”

“Ayah saya.”

“Kan tadi kamu bisa.”

“Tadi bukan saya. Tadi ayah saya.”

“Ah kamu bohong, jelas-jelas tadi kamu, bukan ayahmu.”

“Ayah saya tadi itu.”

“Kamu tadi itu. Saya sama Man Kadip lihat. Ya Man Luh?”

“Ya, saya lihat dia tadi, bukan ayahnya.”

“Emang kalian tahu gimana rupa ayah saya?”

“Ndak tahu.”

“Nah kan. Rupanya aja kalian ndak tahu.”

“Tapi tadi itu kamu, bukan ayahmu.”

“Emang kalian tahu gimana rupa ayah saya?”

Man Kadip dan Maq Colaq saling lihat.

“Tahu saya, kayak kamu rupanya,” jawab Maq Colaq senang.

“Nah, tadi itu saya atau ayah saya?” Sumir tertawa lebih senang.

“Itu kamu,” jawab Man Kadip.

“Ya, tadi itu kamu,” tambah Maq Colaq.

“Tadi itu ayah saya, bukan saya, saya ndak bisa apa-apa, saya hanya bisa minum tuak.”

“Kamu bisa minum tuak dan pegang api,” jawab Man Kadip.

Ndak, saya hanya bisa minum tuak, ayah saya yang bisa pegang api.”

“Tadi kan kamu bisa.”

“Ayah saya yang tadi itu, bukan saya.”

“Kamu tadi itu, jelas-jelas saya lihat tadi.”

“Kalian tahu ndak gimana rupa ayah saya?”

“Kayak kamu sihnya, ke mana kek air mengalir.”

Naq Colaq yang telah putus asa karena tidak akan bisa menemukan tingo yang mengganggunya, mengumpat-umpat lagi seperti tengah dicekik setan.

“Anjing, setan. Kalau kalian kenyang pulang sana. Anjing. Babi,” teriaknya.

“Ayo ajarin saya,” Maq Colaq bertanya dalam ketidaksadaran.

“Saya juga, ajarin,” tambah Man Kadip.

“Ayah saya aja yang bisa, saya hanya bisa minum tuak.”

‘Tadi kan kamu bisa, setan!” Maq Colaq marah. Namun, tetap mabuk.

“Tadi ayah saya, setan,” Sumir membentak.

Ndak! Kamu tadi itu,” tambah Man Kadip, ia juga membentak.

“Emang kamu tahu rupa ayah saya?” Sumir masih membentak.

“Tahu,” jawab Maq Colaq, “Tidak tahu,” jawab Man Kadip. Keduanya saling lihat.

“Anjing, setan, babi, anjing, setan babi!” teriak Naq Colaq dari dalam rumah.*

2016-2020

Catatan Kaki:

Tingo   : tungau

Gayas  : ulat yang bersarang di tanah dan bisa dimakan.

8
Arianto Adipurwanto
Arianto Adipurwanto lahir di Selebung, Lombok Utara, 1 November 1993. Kumpulan cerpennya berjudul Bugiali (Pustaka Jaya, 2018) masuk 5 besar prosa Kusala Sastra Khatulistiwa tahun 2019. Bergiat di Komunitas Akarpohon, Mataram, NTB.