Saya baru memarkirkan sepeda motor saat alunan musik Instrumental Erhu yang ritmis dan lembut mendayu menggema dari sudut sasana. Sementara, di halaman yang luas, para praktisi sudah tenggelam dalam gerak harmoni; lembut seperti air sungai mengalir, kokoh bagai gunung tegak menjulang. Saya betul-betul kalah dari orang-orang sepuh itu dalam hal menaklukkan waktu. Ya, di sasana itu, saya anggota yang paling muda. Rata-rata para praktisi dan senior berusia di atas setengah abad.

Segera saya letakkan tas dan jaket di tempat yang telah disediakan, dan memosisikan diri di barisan paling belakang. Beradaptasi dengan gerakan yang sedang berlangsung, sembari menyamakan gelombang frekuensi para senior. Untungnya saya sudah lumayan hapal rangkaian jurus yang sedang berlangsung sehingga saya tidak bingung dan ragu untuk bergerak.

Di pagi yang cerah dan segar itu, kami menyelesaikan empat rangkaian jurus Tai chi dengan durasi kurang lebih satu jam. Para praktisi menutup latihan dengan tepuk tangan meriah. Alangkah bahagianya hadir di tengah-tengah mereka.

Beberapa saat kemudian, pelatih sasana tai chi Alun-Alun Kidul Yogyakarta, Bapak Murdiono, menghampiri dan menawarkan pada saya air mineral kemasan dan camilan yang dibawa salah satu anggota.

“Setelah berlatih, tubuh kita sudah mengeluarkan banyak cairan (keringat), jika tidak segera diganti, akan berisiko membuat kita dehidrasi dan itu berpengaruh bagi ginjal,” Bapak Murdiono menerangkan. Pembicaraan tentang tai chi lantas mengalir lancar.

Tai chi, didefinisikan Bapak Murdiono sebagai “semangat tertinggi”, meskipun dalam sejarahnya, tai chi tergolong beladiri yang memiliki makna “tinju tingkat atas”. Baginya, perubahan zaman turut menentukan makna dan fungsi tai chi. Pada hari ini, tidak banyak orang yang tertarik mendalami ilmu beladiri untuk keperluan mempertahankan diri. Berbeda dengan zaman lampau yang kehidupannya penuh dengan bahaya dan dominasi jawara, mayoritas orang pada zaman kini dipusingkan dengan permasalahan kesehatan, baik fisik maupun psikis. Semua orang berlomba-lomba dalam hal kecepatan dan pencapaian, dan karenanya tidak sedikit orang mengalami stres bahkan guncangan jiwa.

Berdasarkan alasan demikian, Bapak Murdiono menjelaskan, makna tai chi harus disesuaikan dengan konteks zaman agar bisa diterima. Chi, dimaknai beliau sebagai semangat dalam diri manusia. Dan untuk menjaga kestabilan semangat dalam tubuh dan jiwa, diperlukan sebuah metode yang memenuhi kaidah keseimbangan atau harmoni. Fungsi tai chi sebagai metode adalah membangun kesadaran dengan tiga unsur yang saling berhubungan; pikiran, semangat (chi), dan bergerak. Tiga unsur itu dilatih dalam suatu rangkaian gerak yang lembut dan berirama dengan kaidah kosong dan isi.

“Kosong dan isi di sini kita padankan dengan istilah ‘tekuk’ dan ‘lurus’, karena kaidah kosong dan isi jelas berlaku pada gerakan kaki. Saat salah satu lutut kaki menekuk dengan disertai beban berat badan, di situ kaidah ‘isi’ bermain, dan saat kaki tersebut kembali diluruskan dengan disertai pemindahan beban, itulah kaidah kosong,” jelas beliau.

Kosong dan isi dalam rangkaian gerak yang disebut jurus ini, berjalan silih berganti sehingga otot-otot paha dan kaki menjadi kuat terlatih. Selain itu, gerakan-gerakan tubuh bagian atas (khususnya tangan) disesuaikan dengan kaidah natural gerak manusia. Seperti halnya orang berjalan, gerakan tangan dan kaki dalam jurus tai chi dibuat berpasangan. Gerakan tangan kanan dipasangkan dengan gerak kaki sebelah kiri, dan begitu pula sebaliknya. Inilah yang membuat sistem motorik menjadi terlatih dan meningkat semakin baik.

Gerak jurus dilakukan dengan lembut perlahan dan ritmis agar bentuk gerakan benar-benar disadari. Dari gerakan yang lembut itu, kita bisa memperhatikan sekaligus mengoreksi bentuk-bentuk yang kurang tepat. Selain itu, gerakan lamban juga merupakan terapi relaksasi. Bagi para pekerja atau siapa pun yang kesehariannya dituntut untuk bergerak cepat, tentu saja akan terbantukan dengan penghayatan dalam tai chi. Jurus tai chi akan membuat praktisinya menyadari betul momentum tentang ke-kini-an, karena kelambanan yang dilakukan saat latihan akan membuka banyak pintu kesadaran; pikiran, napas, dan gerak tubuh.

Gerakan yang lamban dalam tai chi bukan berarti membuat praktisinya bermanja-manja dalam kemalasan. Justru di situlah para praktisi dilatih untuk memberi kontrol pada diri. Penyelarasan antara pikiran, emosional, dan gerak tubuh. Tentu tidak semua orang bisa dan mau melakukan olahraga yang gerakannya lamban dan tanpa hentakan-hentakan seperti senam pada umumnya. Namun, siapa pun dapat menemukan apa yang dimaksud dengan “semangat” dalam tai chi setelah mengalami sendiri saat berlatih.

Saat ini, senam tai chi chuan tergabung dalam asosiasi wushu dan termasuk salah satu kategori olahraga yang dipertandingkan.

Pada umumnya, kategori dan nomor perlombaan terbagi menjadi Jianhua Taijiquan (拳/tangan kosong) 24 jurus putra dan putri (Jurus Taolu Standard IWUF untuk kompetisi Internasional), Taiji Quan (拳/tangan kosong) Jingsai Taolu 42 jurus putra dan putri (Jurus Taolu Standart IWUF untuk kompetisi Internasional), Taiji Jian(剑/Pedang) 32 jurus putra dan putri (Jurus Taolu Standart IWUF untuk kompetisi Internasional), TaiJi Jian (剑/Pedang) JingSai TaoLu 42 jurus putra dan putri (Jurus Taolu Standart IWUF untuk kompetisi Internasional), Zhengtzu (郑子) Taijiquan Jingsai Taolu 37 jurus putra dan putri, Yangshi (杨) Taijiquan Jingsai Taolu 40 jurus putra dan putri, Chenshi (阵) Taijiquan Jingsai Taolu 56 jurus putra dan putri, Wushi (武) Taijiquan Jingsai Taolu 46 jurus putra dan putri, sunshi (孙) Taijiquan Jingsai Taolu 73 jurus putra dan putri, dan Dongyue Taijiquan(东月) Yilu 15 jurus putra dan putri.

1
Reddy Suzayzt
Laki-laki sehat sentosa & bahagia.