Ia tetap antusias meski duduk di kursi barisan paling belakang. Orkestra Musik Klasik yang diselenggarakan Dewan Kesenian Ibu Kota ini akan dimulai 15 menit lagi. Sambil menghela napas, Tenten mengedarkan pandangan ke segala penjuru. Matanya memindai wajah-wajah musisi, aktor dan aktris, pelukis, sineas, dan orang-orang terkenal lainnya.

15 hari sudah ia berada di Ibu Kota, mengikuti Workshop untuk perupa muda di sebuah Galeri Seni Ibu Kota. Ini kali pertama ia berkunjung ke Ibu Kota. Kata Nenek, Ibu Tenten pernah merantau ke Ibu Kota sewaktu muda dan belum kawin. Namun, beberapa bulan kemudian ia pulang hanya untuk meminta Nenek merawat bayi darinya dan memaafkan dirinya. Esok harinya ia mati bunuh diri. Sejak saat itulah Tenten tinggal bersama Nenek.

Sejak hari pertama tidak ada hal yang tidak menyenangkan selama di Ibu Kota—tidak sampai Tenten tiba kembali di Stasiun Kereta Api pada hari ke-15. Dalam perjalanan pulang itu, ia kehilangan tiket. Dari Ibu Kota menuju Desa M, tempat Tenten tinggal, diperlukan satu hari perjalanan dengan kereta api.

Seluruh kantong pada jaket, celana, dan tas telah dibongkarnya untuk memastikan keberadaan tiket. Meski demikian, tak kunjung ia temukan kertas berwarna putih-kuning kecil. Uang di dompet memang cukup untuk membeli tiket kereta lagi, tapi jadwal menuju Desa M sudah tidak tersedia.

Dua jam diam di stasiun tanpa ada solusi membuatnya memutuskan kembali ke Galeri Seni. Apa boleh buat, teman-temannya sudah pulang ke daerah masing-masing. Satu-satunya tempat yang ia tahu hanyalah Galeri Seni tempatnya belajar kemarin.

Panitia sudah bubar, hanya Pemilik Galeri yang dilihatnya sedang duduk-duduk di samping galerinya sambil menyesap secangkir minuman. Malu-malu Tenten menyapanya.

“Lho, ndak jadi pulang?”

Tenten menggeleng. Ketika Pemilik Galeri bertanya tentang alasannya, Ia menceritakan apa-apa yang dialaminya di stasiun. Pemilik Galeri hanya tersenyum dan memintanya ikut duduk. Ia pun baru sadar jika sedari tadi masih berdiri di samping Pemilik Galeri.

“Sudah, jangan dipikirkan dulu. Nanti malam ikut saya dan Ibu ke Taman Budaya Ibu Kota, ya.”

“Ada apa di sana, Pak?”

“Sudah, ikut saja.”

Tenten mengangguk dan mengikuti arah pandang Pemilik Galeri. Mereka memandangi burung-burung yang bertengger sambil berkicau di dahan pohon. Seseorang datang membawakannya secangkir teh. Pemilik Galeri tiba-tiba bercerita tentang pengalamannya yang serupa dengan Tenten.

Ia pernah kehilangan tiket pesawat saat akan pulang dari Residensi Seni Rupa di Negeri Sakura. Tindakan yang diambilnya saat itu pun sama seperti yang Tenten lakukan saat ini.

“Tak ada gunanya risau, besok kita beli tiket baru, ya.”

Meski sebenarnya tidak risau, ia mengangguk saja menanggapi Pemilik Galeri. Tenten teringat Nenek yang mungkin sedang menunggunya di rumah.

Maka di sinilah ia sekarang, duduk di kursi row AF number 9. Pemilik Galeri duduk jauh di depannya, bersama istri dan para seniman terkenal lainnya.

Lima menit lagi acara dimulai. Tenten terkekeh ketika mengenali wajah beberapa orang yang pernah terlibat mengurus kegiatan seni bersamanya. Desa M memang kerap didatangi seniman Ibu Kota, dengan alasan bermacam-macam. Tenten tidak begitu ingat semuanya.

Itu, yang duduk tiga baris di depannya, adalah seorang aktris pendatang baru yang sedang tenar-tenarnya di dunia film. Pernah didaulat sebagai Duta Festival Film S—festival pemutaran film ke desa-desa yang menjadi salah satu program Menteri Kebudayaan. Pada acara itulah mereka berkenalan.

Ada juga si Asisten Sutradara yang duduk tepat dua kursi di sebelah kanan Tenten. Ia dan wanita itu pernah duduk bersama dalam Forum Perempuan Seniman. Mereka pernah saling berkenalan—bahkan si Asisten Sutradara sempat memuji Tenten sebagai seniman muda berbakat. Seketika Tenten bergidik mengingat pujian yang baginya sangat berlebihan.

Masih asyik memindai, seseorang tiba-tiba melintas di depan Tenten sambil tersenyum berucap permisi. Wajah Tenten memerah! Rupanya itu Aktor Karismatik pujaannya sejak kecil, Ia tak menyangka akan bertemu lelaki itu di sini.

Tak ayal, ini karena dulu Nenek sering menonton sinetron yang di dalamnya ada Aktor Karismatik itu. Meski sudah paruh baya, ternyata rambut ikalnya masih terawat dan tatapannya tetap berkarisma. Mata Tenten mengekor pada langkah si Aktor. Tak lama berkeliling, Ia akhirnya duduk tepat di belakang Pemilik Galeri.

Sempat terbesit niat dalam hati Tenten untuk berfoto bersama si Aktor usai acara nanti, tapi urung begitu ingat pesan Nenek sebelum berangkat ke Ibu Kota. Nenek berpesan kepadanya untuk tidak sekali-kali berfoto bersama aktor, siapa pun! Sebenarnya Ia kesal ketika Nenek tidak melampirkan alasan, tapi akhirnya ia menurut saja.

Orkestra telah dimulai. Tenten selalu suka denting piano dan dawaian biola. Ia pun memejamkan mata, memanen alunan musik lalu membawanya ke alam mimpi sendiri. Lama Ia terpejam sampai seseorang di sebelahnya harus menegur.

“Dik, Dik, sudah selesai ini. Acaranya pindah ke atap gedung. Ayo!”

Wajah Tenten memerah.

Ia naik ke atas bersama Pemilik Galeri dan Istrinya. Ada lampu-lampu rambat yang menyambut. Suasana jadi syahdu, tapi sedikit sensual berkat deretan botol anggur putih dan merah di setiap sisi. Istri Pemilik Galeri menggamit lengan Tenten, rupanya minta ditemani ke toilet. Si Pemilik Galeri tertawa saja dan menyilakan Tenten pergi bersama Istrinya.

Tak hanya atap saja yang syahdu, toilet pun mengadaptasi suasana yang sama, berkat sederet bolham lampu bekas berbentuk bulat-bulat berisi air dan tanaman rambat.

“Tenten, bagaimana jika Kamu berdandan?” saran Istri Pemilik Galeri.

Belum sempat melontarkan pendapat, wajah Tenten sudah disentuhnya dengan spons basah alas bedak. Apa mau dikata, Tenten akhirnya menurut saja. Istri Pemilik Galeri sangat pandai merias wajah, dan paham betul letak kelebihan wajah seseorang. Tenten jadi pangling melihat wajahnya sendiri.

“Kamu suka?”

Tenten mengangguk sambil tersenyum menghadap cermin. Istri Pemilik Galeri menepuk bahu Tenten seraya berbisik, “Ayo, jangan minder!”

Ia masih sibuk mengagumi riasannya sambil menunggu Istri Pemilik Galeri merapikan riasannya sendiri. Tiba-tiba Tenten teringat si Aktor. Terasa seketika wajahnya memerah.

Atap sudah ramai ketika keduanya kembali dari toilet. Si Pemilik Galeri entah ada di mana. Mereka berdua berkeliling melihat menu-menu makanan yang disajikan. Tenten mengedarkan pandangannya, mencari sosok si Aktor. Istri Pemilik Galeri berhenti di meja kue-kue mini dan aneka minuman. Tenten yang juga malam itu tidak terlalu lapar, ikut mengambil beberapa kue dan segelas jus apel.

“Matamu dari tadi berkeliaran, cari siapa, sih?”

Suara Istri Pemilik Galeri mengagetkan Tenten. Memang Istri Pemilik Galeri pandai membujuk, Tenten menceritakan apa yang dicarinya dan mengapa.

“Ehmm, baiknya memang Kamu ikuti saran Nenekmu itu.”

“Kenapa, Bu?”

“Kamu baru 16 tahun dan baru pertama kali kemari, masih perlu mengenal lingkungan sini. Bapak sempat cerita bahwa Kamu ingin jadi muridnya setelah lulus sekolah, Ia gembira sekali. Jika tetap tekun, Kamu akan jadi besar, Tenten, dan untuk mengimbangi itu Kamu mesti cerdas bergaul.”

Tenten terdiam, tapi pucuk dicinta ulam tiba, si Aktor melintas di depannya dan kembali tersenyum. Ia tahu senyum itu ditujukan padanya. Tenten tak sadar melangkahkan kaki ke arah lelaki itu, tapi segera lengan kanannya ditarik oleh Istri Pemilik Galeri. Dirinya dan si Aktor saling bertatapan, mereka seperti tiba-tiba berada di ruang yang lain, jauh dari riuh ramai suara tamu-tamu dan melodi saksofon yang menyelimuti atap gedung.

Istri Pemilik Galeri jadi ikut mengamati si Aktor.

“Hidung dan rambutmu mirip dengannya,” ujar Istri Pemilik Galeri sambil mengelus-elus rambut Tenten dan bolak-balik memperhatikan hidung mereka berdua. Wajah Tenten lagi-lagi memerah. Ia menimpali ujaran tersebut dengan anggapan bahwa Istri Pemilik Galeri hanya bercanda. Meski demikian, ada semacam perasaan senang tak keruan di hatinya.

Waktu menunjukkan pukul 11.30 malam ketika Pemilik Galeri akhirnya menemui mereka lalu mengajak pulang. Tenten kembali tidur di kamar tamu seperti saat workshop kemarin. Ia tidur sangat lelap sambil memimpikan wajah si Aktor.

Beberapa bulan setelah pulang dari Ibu Kota, Tenten dikejutkan oleh sebuah berita di televisi. Si Aktor ditangkap polisi atas kasus pelecehan seksual yang dilakukannya kepada banyak perempuan selama bertahun-tahun. Sebagian dari mereka adalah teman sejawat, sebagiannya lagi adalah para penggemar dan kenalan entah dari mana. Tidak mau terkejut sendirian, segera ia beri tahu si Nenek.

“Ambil air sekocor. Kita ke makam Ibumu,”

Perasaan lain tiba-tiba muncul dalam hati Tenten. Perasaan yang tidak pernah ia kenali sebelumnya.

2020

5
Ilda Karwayu
Ilda Karwayu. Tinggal di Mataram. Mengajar Bahasa Inggris dan BIPA di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI). Buku puisinya Eulogi (PBP, 2018). Aktif berkegiatan di Komunitas Akarpohon Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat.